Ied Tanpa Jejak Sampah

Publish

20 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
52
Istimewa

Istimewa

Ied Tanpa Jejak Sampah

Oleh: Yudha Kurniawan (Ketua LPO PDM Bantul, bekerja di Kemendikdasmen BPMP DIY)

Jumat (20/03/26), Muhammadiyah DIY menyelenggarakan Shalat Idul Fitri 1447 H yang tersebar di 1.374 titik di seluruh kabupaten/kota. Sebaran tersebut, sebagaimana dirilis oleh PWM DIY (suaramuhammadiyah.id/19-03-26), meliputi Kabupaten Kulon Progo (181 titik), Sleman (303 titik), Kota Yogyakarta (236 titik), Gunungkidul (378 titik), dan Bantul (276 titik).

Namun, ada hal yang jauh lebih menarik dari sekadar angka dan sebaran lokasi. Pada Idul Fitri tahun ini, PWM DIY mengusung gerakan tematis “Zero Waste Ied.” Muhammadiyah DIY melalui gerakan ini menunjukkan wajah Islam berkemajuan yang khusyuk secara ritual, sekaligus tanggap dengan tanggung jawab sosial dan ekologis.

Shalat Ied adalah momentum agung perayaan kemenangan spiritual setelah sebulan penuh berpuasa. Namun di balik kekhidmatan itu, kita sering dihadapkan pada realitas yang memprihatinkan berupa tumpukan sampah yang tertinggal di lapangan, halaman masjid, hingga ruang-ruang publik.

Plastik, botol air mineral, dan kertas koran bekas alas shalat, menjadi “jejak ekologis” yang kerap diabaikan. Padahal, sebagai umat beriman, kita diajarkan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman.

Di sinilah gerakan Zero Waste Ied menemukan relevansinya. Langkah ini bukan sekadar program teknis, tetapi gerakan kesadaran bahwa ibadah tidak boleh meninggalkan kerusakan sekecil apa pun.

Gerakan ini merupakan bentuk tanggung jawab Muhammadiyah sebagai “pelaku utama” penyelenggaraan Shalat Ied di ruang terbuka. Lebih dari itu, gerakan ini menjadi bagian dari misi dakwah mendidik umat agar bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya.

Ada empat langkah sederhana yang perlu dibangun dalam gerakan ini :

Pertama, membawa alas shalat dari rumah. Kesadaran untuk membawa tikar atau sajadah sendiri menjadi solusi utama. Ini penting karena sampah terbesar pasca Ied justru berasal dari koran dan plastik alas shalat sekali pakai.

Kedua, membawa air minum sendiri. Jamaah dihimbau membawa termos atau tumbler dari rumah. Langkah sederhana ini mampu menekan secara signifikan sampah botol plastik.

Ketiga, membawa wadah sampah pribadi. Setiap jamaah didorong untuk menyiapkan kantong sampah sendiri. Prinsipnya sederhana, apa yang dibawa, itu pula yang dibawa pulang kembali.

Keempat, menyediakan tempat sampah terpilah. Panitia penyelenggara tetap bertanggung jawab menyediakan fasilitas tempat sampah terpilah sebagai bentuk edukasi sekaligus layanan publik.

Zero Waste Ied sebagai Gerakan Pendidikan

Lebih dari sekadar teknis pengelolaan sampah, Zero Waste Ied adalah gerakan pendidikan kolektif yang  mengajarkan nilai-nilai penting disiplin dan tanggung jawab, kesadaran ekologis, kepedulian terhadap ruang publik, serta konsistensi antara iman dan tindakan. 

Momentum Ied dapat dimanfaatkan menjadi ruang belajar bersama, bahwa mencintai lingkungan adalah bagian dari ibadah.

Ramadhan sejatinya melatih kita menahan diri bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga menjaga dari perilaku yang merusak. Maka, Zero Waste Ied adalah kelanjutan dari pendidikan Ramadhan.

Apalah artinya menahan lapar sebulan penuh, jika di hari kemenangan justru meninggalkan sampah berserakan. Gerakan zero waste ied mengingatkan kita bahwa kesalehan tidak berhenti pada sajadah, tetapi juga tercermin pada bagaimana kita memperlakukan bumi seisinya.

Inisiatif PWM DIY ini layak diapresiasi sekaligus direplikasi. Dengan jaringan Muhammadiyah yang luas di seluruh Indonesia, Zero Waste Ied berpotensi menjadi gerakan nasional.

Bayangkan jika jutaan jamaah Muhammadiyah di berbagai daerah melakukan hal yang sama, membawa sajadah sendiri, membawa tumbler, dan tidak meninggalkan sampah. Maka dampaknya akan luar biasa, tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi peradaban.

Ied yang Membekas, Bukan Meninggalkan Bekas

Akhirnya, Zero Waste Ied mengajarkan kita satu hal penting bahwa ibadah yang baik adalah ibadah yang tidak meninggalkan kerusakan. Mari kita jadikan Idul Fitri tahun ini bukan hanya momentum saling memaafkan, tetapi juga momentum memperbaiki hubungan kita dengan alam.

Karena sejatinya, bumi ini adalah amanah. Dan setiap langkah kecil, termasuk tidak membuang sampah sembarangan adalah bagian dari pertanggungjawaban kita sebagai khalifah di muka bumi.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Moderasi Beragama Kiai Dahlan Oleh: Baharuddin Rohim “Dapat menempatkan sesuatu pada tempat....

Suara Muhammadiyah

7 October 2023

Wawasan

92 Tahun Pemuda Muhammadiyah Menuju Indonesia Emas Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM T....

Suara Muhammadiyah

3 May 2024

Wawasan

Lagu, Seni Musik dan Puisi: Sebuah Wakaf Literasi Oleh: Khafid Sirotudin Pada upacara penutupan Mu....

Suara Muhammadiyah

17 March 2025

Wawasan

Idul Fitri dan Penafsiran Budaya Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja, Associate Professor, Universitas A....

Suara Muhammadiyah

5 April 2024

Wawasan

Anak Saleh (18) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

21 November 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah