Ied Tanpa Jejak Sampah

Publish

20 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
389
Istimewa

Istimewa

Ied Tanpa Jejak Sampah

Oleh: Yudha Kurniawan (Ketua LPO PDM Bantul, bekerja di Kemendikdasmen BPMP DIY)

Jumat (20/03/26), Muhammadiyah DIY menyelenggarakan Shalat Idul Fitri 1447 H yang tersebar di 1.374 titik di seluruh kabupaten/kota. Sebaran tersebut, sebagaimana dirilis oleh PWM DIY (suaramuhammadiyah.id/19-03-26), meliputi Kabupaten Kulon Progo (181 titik), Sleman (303 titik), Kota Yogyakarta (236 titik), Gunungkidul (378 titik), dan Bantul (276 titik).

Namun, ada hal yang jauh lebih menarik dari sekadar angka dan sebaran lokasi. Pada Idul Fitri tahun ini, PWM DIY mengusung gerakan tematis “Zero Waste Ied.” Muhammadiyah DIY melalui gerakan ini menunjukkan wajah Islam berkemajuan yang khusyuk secara ritual, sekaligus tanggap dengan tanggung jawab sosial dan ekologis.

Shalat Ied adalah momentum agung perayaan kemenangan spiritual setelah sebulan penuh berpuasa. Namun di balik kekhidmatan itu, kita sering dihadapkan pada realitas yang memprihatinkan berupa tumpukan sampah yang tertinggal di lapangan, halaman masjid, hingga ruang-ruang publik.

Plastik, botol air mineral, dan kertas koran bekas alas shalat, menjadi “jejak ekologis” yang kerap diabaikan. Padahal, sebagai umat beriman, kita diajarkan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman.

Di sinilah gerakan Zero Waste Ied menemukan relevansinya. Langkah ini bukan sekadar program teknis, tetapi gerakan kesadaran bahwa ibadah tidak boleh meninggalkan kerusakan sekecil apa pun.

Gerakan ini merupakan bentuk tanggung jawab Muhammadiyah sebagai “pelaku utama” penyelenggaraan Shalat Ied di ruang terbuka. Lebih dari itu, gerakan ini menjadi bagian dari misi dakwah mendidik umat agar bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya.

Ada empat langkah sederhana yang perlu dibangun dalam gerakan ini :

Pertama, membawa alas shalat dari rumah. Kesadaran untuk membawa tikar atau sajadah sendiri menjadi solusi utama. Ini penting karena sampah terbesar pasca Ied justru berasal dari koran dan plastik alas shalat sekali pakai.

Kedua, membawa air minum sendiri. Jamaah dihimbau membawa termos atau tumbler dari rumah. Langkah sederhana ini mampu menekan secara signifikan sampah botol plastik.

Ketiga, membawa wadah sampah pribadi. Setiap jamaah didorong untuk menyiapkan kantong sampah sendiri. Prinsipnya sederhana, apa yang dibawa, itu pula yang dibawa pulang kembali.

Keempat, menyediakan tempat sampah terpilah. Panitia penyelenggara tetap bertanggung jawab menyediakan fasilitas tempat sampah terpilah sebagai bentuk edukasi sekaligus layanan publik.

Zero Waste Ied sebagai Gerakan Pendidikan

Lebih dari sekadar teknis pengelolaan sampah, Zero Waste Ied adalah gerakan pendidikan kolektif yang  mengajarkan nilai-nilai penting disiplin dan tanggung jawab, kesadaran ekologis, kepedulian terhadap ruang publik, serta konsistensi antara iman dan tindakan. 

Momentum Ied dapat dimanfaatkan menjadi ruang belajar bersama, bahwa mencintai lingkungan adalah bagian dari ibadah.

Ramadhan sejatinya melatih kita menahan diri bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga menjaga dari perilaku yang merusak. Maka, Zero Waste Ied adalah kelanjutan dari pendidikan Ramadhan.

Apalah artinya menahan lapar sebulan penuh, jika di hari kemenangan justru meninggalkan sampah berserakan. Gerakan zero waste ied mengingatkan kita bahwa kesalehan tidak berhenti pada sajadah, tetapi juga tercermin pada bagaimana kita memperlakukan bumi seisinya.

Inisiatif PWM DIY ini layak diapresiasi sekaligus direplikasi. Dengan jaringan Muhammadiyah yang luas di seluruh Indonesia, Zero Waste Ied berpotensi menjadi gerakan nasional.

Bayangkan jika jutaan jamaah Muhammadiyah di berbagai daerah melakukan hal yang sama, membawa sajadah sendiri, membawa tumbler, dan tidak meninggalkan sampah. Maka dampaknya akan luar biasa, tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi peradaban.

Ied yang Membekas, Bukan Meninggalkan Bekas

Akhirnya, Zero Waste Ied mengajarkan kita satu hal penting bahwa ibadah yang baik adalah ibadah yang tidak meninggalkan kerusakan. Mari kita jadikan Idul Fitri tahun ini bukan hanya momentum saling memaafkan, tetapi juga momentum memperbaiki hubungan kita dengan alam.

Karena sejatinya, bumi ini adalah amanah. Dan setiap langkah kecil, termasuk tidak membuang sampah sembarangan adalah bagian dari pertanggungjawaban kita sebagai khalifah di muka bumi.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Kebangkitan yang Nyata, Bukan Seremonial Oleh: Agus setiyono, Marbot Masjid Taqwa3 Kota Jambi ....

Suara Muhammadiyah

20 May 2025

Wawasan

Menata Ulang Refleksi Syawal Menjadi Strategi Finansial Setahun Penuh Penulis: Andiwijaya, S.Si,M.S....

Suara Muhammadiyah

29 March 2026

Wawasan

Oleh: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I Dalam khazanah agama islam dosa sering disebutkan ketika melakuk....

Suara Muhammadiyah

18 September 2023

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Islam terhubung dengan keimanan dan kitab suci sebelumnya. Ini memberikan umat ....

Suara Muhammadiyah

18 September 2023

Wawasan

Revolusi Batin di Tengah Dunia yang Bising Oleh: Nashrul Mu'minin Dalam kehidupan modern yang pe....

Suara Muhammadiyah

28 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah