Influencer vs Ulama: Siapa yang Lebih Didengar Gen Z

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
76
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Influencer vs Ulama: Siapa yang Lebih Didengar Gen Z

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

Di satu sudut kafe, seorang anak muda menunduk khusyuk menatap layar ponselnya. Bukan sedang membaca kitab atau buku tebal, melainkan menyimak potongan video berdurasi satu menit tentang makna hijrah, potongan ceramah singkat tentang rezeki, atau nasihat hidup yang dibungkus dengan musik latar yang menyentuh. Di era digital, khususnya di kalangan Generasi Z, ruang belajar agama telah berpindah yaitu dari mimbar ke layar, dari majelis ke media sosial.

Fenomena ini menandai pergeseran penting dalam lanskap keagamaan kita. Otoritas keilmuan yang dulu melekat kuat pada sosok ulama, kini berhadapan dengan figur baru yaitu influencer. Mereka tidak selalu berlatar pendidikan agama formal, tetapi memiliki satu keunggulan utama yaitu kedekatan dengan audiens, terutama Gen Z. Pertanyaannya kemudian menjadi relevan dan mendesak ialah di antara influencer dan ulama, siapa yang sebenarnya lebih didengar oleh Gen Z hari ini?

Pertanyaan ini bukan sekadar soal popularitas, tetapi menyentuh jantung persoalan dakwah, transmisi nilai, dan masa depan keberagamaan generasi muda. Bagi Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam berkemajuan yang sejak awal menaruh perhatian besar pada pendidikan dan pencerahan umat, isu ini bukan hal sepele. Kondisi ini adalah tantangan zaman yang harus dibaca dengan jernih dan disikapi dengan bijaksana.

Generasi Z adalah generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet. Mereka tidak mengalami dunia tanpa gawai pintar dan media sosial. Informasi datang tanpa diminta, berseliweran di lini masa, dikurasi oleh algoritma, bukan oleh guru atau orang tua. Dalam dunia seperti ini, otoritas tidak lagi ditentukan semata oleh kedalaman ilmu, tetapi oleh visibilitas, konsistensi hadir, dan kemampuan berkomunikasi.

Cara Gen Z belajar agama pun mengalami perubahan. Mereka cenderung menyukai konten yang ringkas, visual, dan relevan dengan persoalan sehari-hari. Ceramah satu jam sering kali terasa terlalu panjang, sementara video satu menit yang menyentuh emosi justru mudah diingat dan dibagikan. Kondisi ini bukan berarti Gen Z anti-ilmu atau alergi pada kedalaman, tetapi cara mereka mengakses pengetahuan telah berubah.

Di titik inilah influencer menemukan panggungnya, dimana mereka hadir dengan bahasa yang santai, dekat, dan sering kali terasa personal. Mereka berbicara tentang kegelisahan anak muda seperti cinta, masa depan, karier, makna hidup, dan pencarian jati diri. Semua ini dibungkus dengan narasi religius yang sederhana. Bagi Gen Z, ini terasa relevan dan membumi.

Di sisi lain, ulama memiliki keunggulan yang tidak tergantikan karena faktor kedalaman ilmu, sanad keilmuan, dan tanggung jawab moral dalam menyampaikan ajaran agama. Ulama bukan sekadar penyampai pesan, tetapi penjaga tradisi keilmuan Islam yang panjang dan kompleks. Namun, keunggulan ini sering kali tidak otomatis diterjemahkan menjadi daya tarik di ruang digital.

Banyak ulama masih nyaman dengan pola dakwah konvensional. Bahasa yang digunakan kerap terasa berat bagi generasi muda, contoh-contoh yang disampaikan tidak selalu kontekstual, dan kehadiran di media digital masih terbatas. Akibatnya, meskipun ilmunya dalam, suara mereka tenggelam di tengah hiruk-pikuk konten media sosial.

Di sinilah tantangan terbesar muncul yaitu bukan karena ulama kehilangan relevansi, tetapi karena cara menyampaikan pesan belum sepenuhnya beradaptasi dengan perubahan medium dan audiens. Otoritas keilmuan yang tidak hadir di ruang publik digital berisiko digantikan oleh otoritas popularitas.

Tidak semua influencer yang berbicara tentang agama patut dicurigai. Sebagian dari mereka tulus berdakwah dan berusaha menyampaikan nilai-nilai kebaikan. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap problem yang menyertainya. Logika media sosial sering kali mendorong simplifikasi berlebihan. Ajaran agama yang kompleks direduksi menjadi slogan singkat, potongan ayat atau hadis dilepaskan dari konteks, dan perbedaan pendapat disajikan secara hitam-putih.

Lebih jauh, ada kecenderungan komodifikasi agama. Konten religius diproduksi untuk mengejar like, share, dan engagement. Dalam situasi seperti ini, batas antara dakwah dan sensasi menjadi kabur. Influencer yang paling didengar bukan selalu yang paling benar secara keilmuan, tetapi yang paling viral.

Bagi Gen Z yang masih dalam proses pencarian, kondisi ini berisiko membentuk pemahaman agama yang dangkal dan emosional. Agama dipahami sebagai identitas gaya hidup, bukan sebagai sistem nilai yang membimbing akal dan tindakan.

Dalam sejarahnya, Muhammadiyah lahir sebagai gerakan tajdid atau pembaruan yang berupaya menghadirkan Islam yang rasional, berkemajuan, dan relevan dengan zaman. KH Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan teks, tetapi juga konteks. Kondisi ini menghubungkan ajaran agama dengan realitas sosial dan kebutuhan umat.

Tradisi ini seharusnya menjadi modal besar Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan era digital. Namun, modal saja tidak cukup jika tidak diaktualisasikan. Pertanyaannya ialah sudahkah ulama, intelektual, dan kader Muhammadiyah hadir secara signifikan di ruang digital tempat Gen Z berkumpul?

Jika Muhammadiyah absen atau setengah hati, maka ruang itu akan diisi oleh narasi lain yang belum tentu sejalan dengan Islam berkemajuan. Dalam konteks inilah, perdebatan influencer versus ulama menjadi tidak produktif jika dipahami secara dikotomis. Hal yang dibutuhkan bukan memilih salah satu, melainkan menjembatani keduanya.

Muhammadiyah perlu mendorong lahirnya ulama dan mubalig yang tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga cakap berkomunikasi di era digital. Ulama tidak harus menjadi selebritas, tetapi perlu memahami cara kerja media sosial, logika algoritma, dan karakter audiens muda.

Bahasa dakwah perlu disederhanakan tanpa kehilangan substansi. Contoh-contoh perlu dikontekstualisasikan dengan realitas Gen Z yaitu dunia kerja yang tidak pasti, tekanan mental, krisis makna, dan relasi sosial yang cair. Dengan demikian, ulama tetap menjadi rujukan utama, tetapi hadir dengan wajah yang lebih dekat.

Di sinilah peran strategis Gen Z Muhammadiyah menjadi sangat penting. Mereka hidup di dua dunia sekaligus yaitu dunia ideologi Muhammadiyah dan dunia digital. Jika diberi ruang dan kepercayaan, mereka dapat menjadi jembatan antara ulama dan audiens muda.

Gen Z Muhammadiyah dapat membantu mengemas pesan keagamaan dalam format yang menarik tanpa mengorbankan substansi. Mereka bisa menjadi tim kreatif dakwah digital, pengelola kanal media sosial, sekaligus penjaga agar pesan yang disampaikan tetap sejalan dengan nilai Islam berkemajuan.

Pada akhirnya, pertanyaan siapa yang lebih didengar oleh Gen Z tidak bisa dijawab secara sederhana. Influencer mungkin lebih sering muncul di layar, tetapi ulama memiliki otoritas moral dan intelektual yang jauh lebih dalam. Tantangannya adalah bagaimana otoritas itu dihadirkan secara efektif di ruang yang kini dikuasai algoritma.

Jika Muhammadiyah mampu memadukan kedalaman ilmu ulama dengan kecakapan komunikasi ala influencer, maka dakwah tidak hanya akan didengar, tetapi juga dipahami dan dihayati. Popularitas tanpa arah akan rapuh, sementara otoritas tanpa audiens akan sepi.

Gen Z adalah masa depan umat dan bangsa. Cara mereka memahami agama hari ini akan menentukan wajah Islam Indonesia di masa depan. Muhammadiyah tidak boleh sekadar mengeluh tentang perubahan, tetapi harus menjadi aktor utama yang membentuk arah perubahan itu.

Influencer atau ulama bukanlah pilihan yang saling meniadakan. Hal yang dibutuhkan saat ini adalah ulama yang mampu menjadi influencer nilai, dan influencer yang tunduk pada etika dan kedalaman ilmu. Di titik temu inilah dakwah Islam berkemajuan dapat terus hidup, relevan, dan mencerahkan di tengah dunia yang terus berubah.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Merawat Sampai Akhir Hayat Oleh: Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiyah & Aktifis IPM 1988-1991....

Suara Muhammadiyah

22 December 2025

Wawasan

Oleh: Alvin Qodri Lazuardy Delapan puluh tahun Indonesia merdeka bukanlah angka yang kecil. Ia ada....

Suara Muhammadiyah

21 August 2025

Wawasan

Islam dan Perang: Antara Perdamaian dan Pembelaan Diri Donny Syofyan Apakah Islam menganjurkan uma....

Suara Muhammadiyah

9 September 2024

Wawasan

Pemimpin Berkemajuan Penulis: Iu Rusliana, Penulis adalah dosen Program MM Uhamka Jakarta, Sekretar....

Suara Muhammadiyah

26 December 2025

Wawasan

Muhammadiyah Aset Bangsa Oleh: Saidun Derani Dalam perjalanan pulang dari Kota Serang menuju Ciput....

Suara Muhammadiyah

20 February 2024