KULON PROGO, Suara Muhammadiyah - Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Surakarta, Jawa Tengah menghasilkan Risalah Islam Berkemajuan (RIB). RIB ini mesti dipraktikkan dalam kehidupan nyata, bukan hanya dipahami atau dijalankan sebatas ibadah individual.
"Tapi, ketika kita melihat umat Islam saat ini juga masih belum berkemajuan," ungkap Gita Danu Pranata.
Kenapa begitu? Kalau secara generatif, agama Islam sesungguhnya agama yang membawa kemajuan. Demikian kata Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
"Mesti nek muni (pasti kalau berujar) kata-kata Islam itu otomatis berkemajuan," sebutnya, Ahad (11/10) saat Pengajian Sapa Jamaah Ahad Pagi di Masjid Ulil Albab Kaliagung, Tegowanu, Kaliagung, Sentolo, Kulon Progo.
Faktor mengapa umat Islam belum menjadi umat berkemajuan, karena praktik keislamannya masih belum komprehensif. "Islam KTP. Niku KTP-ne tulisane Islam, ning ora salat," ujarnya.
Itu tingkatan keberagamaan orang. Berikutnya menjalankan ibadah dan menjauhi larangan-Nya (habl min Allah wa habl min al-anas), hingga menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.
“Sing paling dhuwur dhewe niku sing diarani (yang paling tinggi sendiri itu yang dinamakan) Islam rahmatan lil ‘alamin,” kata Gita.
Dalam konteks RIB, tentu implikasinya adalah Islam harus dijadikan sebagai agama pembawa rahmat bagi alam semesta. “Memang kita berkewajiban untuk membumikan,” tuturnya.
Dengan kata lain, pembumiaanya menerapkan tuntunan agama Islam dalam kehidupan nyata. Yang hal demikian sangat sesuai dengan konteks zaman sekarang di mana dunia kalang kabut menghadapi sengkarut permasalahan yang terus datang silih berganti.
“Dunia saat ini sedang kebingungan. Mengapa? Karena kerusakan kondisi, kerusakan lingkungan, dan kerusakan bumi sudah sangat parah,” beber Gita.
Karena itu, Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi titik temunya. Di dalamnya ada 17 butir variabel yang sangat penting mencandra pembangunan kehidupan ke depan.
Salah satunya tindakan segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya. Inilah manifestasi dari Islam rahmatan lil ‘alamin, di mana nilai-nilai Islam telah mengajarkan pentingnya menghadirkan kebaikan dan menjaga kehidupan.
“Itu level tingkatan tertinggi dari keberagamaan kita yang dirumuskan oleh Muhammadiyah,” tegas Gita.
Karena itu, keberagamaan tidak seharusnya berhenti pada pelaksanaan ibadah individual. Seorang Muslim juga perlu menghadirkan manfaat bagi sesama manusia dan lingkungan sekitarnya.
"Prinsip khairunnas anfa'uhum linnas menjadi bagian penting dalam mewujudkan Islam yang membawa rahmat," tandasnya. (Cris)

