Islam Sudah Sempurna, Mengapa Kita Masih Gelisah?
Oleh : Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta
Kita sering dengan mantap mengatakan bahwa Islam adalah manhaj al-hayah, jalan hidup yang menyeluruh, sistem yang sempurna, pedoman yang tidak menyisakan ruang kosong bagi jiwa manusia. Kita mengucapkannya dalam forum-forum pengajian, kita tuliskan dalam makalah dan sambutan, kita yakini sebagai bagian dari identitas kita sebagai muslim dan sebagai warga Muhammadiyah. Namun di sela-sela kesibukan itu, ada ruang sunyi yang kadang terasa ganjil, mengapa hati ini masih mudah gelisah? Mengapa di tengah kebenaran yang kita yakini, ada kegundahan yang sulit dijelaskan, seolah ada jarak antara apa yang kita pahami dan apa yang kita rasakan?
Allah telah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d: 28). Ayat ini begitu jernih, begitu tegas. Seakan tidak menyisakan kemungkinan lain bagi ketenangan selain kembali kepada-Nya. Tetapi jika hati belum tenang, barangkali yang perlu kita tanyakan bukanlah kebenaran ayat itu, melainkan kedalaman kita dalam mengingat Allah. Apakah zikir kita hanya gerak lisan tanpa getar batin? Apakah ibadah kita telah menjadi rutinitas yang rapi tetapi kehilangan rasa hadir?
Betapa sering kita sibuk dalam aktivitas dakwah, rapat organisasi, program sosial, pengembangan amal usaha, namun jarang duduk sendirian di hadapan Allah dengan hati yang benar-benar tunduk. Kita bekerja untuk Islam, tetapi apakah kita bekerja bersama Allah? Kita berbicara tentang tauhid, tetapi apakah tauhid telah menenangkan kecemasan kita ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan? Kita mengajak orang lain untuk tawakal, tetapi apakah kita sendiri sudah menyerahkan hasil sepenuhnya kepada-Nya?
Rasulullah ๏ทบ bersabda ketika menjelaskan tentang ihsan, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim). Hadis ini bukan sekadar definisi spiritualitas, tetapi undangan untuk hidup dengan kesadaran yang terus menyala. Jika benar kita merasa dilihat oleh Allah, masihkah kita terlalu gelisah oleh penilaian manusia? Jika benar kita merasa dekat dengan-Nya, masihkah hati kita terasa kosong setelah semua agenda selesai?
Barangkali kegelisahan itu muncul karena pusat hidup kita perlahan bergeser. Tanpa sadar, kita menilai keberhasilan dari pengakuan, dari jabatan, dari capaian yang terlihat. Ketika dihargai, hati terasa lapang. Ketika diabaikan, hati terasa sesak. Ketika diberi amanah, kita merasa berarti. Ketika tidak dilibatkan, kita merasa terluka. Apakah ini tanda bahwa orientasi kita masih bercampur? Apakah mungkin kita mencintai perjuangan, tetapi belum sepenuhnya mencintai Tuhan dari perjuangan itu?
Allah berjanji, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Q.S. At-Talaq: 2–3). Janji ini seharusnya menenangkan. Namun mengapa kita tetap dihantui kekhawatiran tentang masa depan? Mengapa kita lebih percaya pada hitungan manusia daripada pada janji Allah? Mungkin karena takwa masih kita pahami sebagai konsep, belum kita hidupi sebagai kesadaran yang utuh dalam setiap keputusan.
Gelisah bisa jadi bukan tanda lemahnya Islam, tetapi tanda bahwa hati kita masih terlalu bergantung pada dunia. Kita ingin Islam mengatur hidup, tetapi kita juga ingin dunia menjamin rasa aman. Kita ingin ridha Allah, tetapi kita juga ingin pujian manusia. Kita ingin disebut ikhlas, tetapi masih terluka oleh kritik. Di situlah pergulatan batin itu terjadi. Dan mungkin, justru di situlah Allah sedang mendidik kita.
Bukankah Allah berfirman, “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. Al-An’am: 162)? Ayat ini menuntut totalitas. Bukan hanya shalatku untuk Allah, tetapi hidupku. Bukan hanya ibadahku, tetapi matiku. Jika hidup benar-benar hanya untuk-Nya, maka kehilangan tidak lagi menghancurkan, kegagalan tidak lagi mematahkan, dan keberhasilan tidak lagi memabukkan. Karena semuanya kembali kepada satu pusat, Allah.
Mungkin selama ini kita terlalu keras pada diri sendiri dalam mengejar capaian, tetapi terlalu lunak dalam mengoreksi niat. Kita ingin memperbaiki sistem, memperbaiki umat, memperbaiki organisasi, tetapi jarang berdiam untuk memperbaiki hati. Padahal perubahan besar sering kali lahir dari malam-malam sunyi, dari doa yang lirih, dari air mata yang jatuh tanpa disaksikan siapa pun selain Allah.
Gelisah yang kita rasakan mungkin adalah panggilan lembut agar kita kembali. Bukan kembali kepada aktivitas yang lebih banyak, tetapi kepada hubungan yang lebih dalam. Bukan kepada wacana yang lebih canggih, tetapi kepada sujud yang lebih khusyuk. Bukan kepada pengakuan yang lebih luas, tetapi kepada keikhlasan yang lebih murni.
Cobalah bertanya pada diri sendiri di saat sunyi, jika semua jabatan hilang, jika semua pujian berhenti, jika semua manusia berpaling, apakah saya masih merasa cukup dengan Allah? Jika tidak ada yang tahu amal saya, apakah saya tetap melakukannya? Jika tidak ada yang mengapresiasi kerja saya, apakah saya tetap setia?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin menyakitkan, tetapi justru di sanalah pintu perbaikan terbuka. Karena hati yang jujur lebih dekat kepada perubahan daripada hati yang sibuk membela diri.
Islam adalah manhaj kehidupan, tetapi ia baru menjadi nyata ketika kita berani menjadikannya manhaj bagi hati. Ketika tauhid tidak hanya mengisi pikiran, tetapi menenangkan kegelisahan. Ketika takwa tidak hanya menjadi istilah, tetapi menjadi rem dalam ambisi. Ketika ihsan tidak hanya menjadi teori, tetapi menjadi kesadaran bahwa Allah selalu melihat kita, bahkan di ruang paling sepi.
Mungkin saat ini kita tidak perlu resolusi besar. Cukup satu langkah kecil, memperbaiki niat sebelum tidur, memohon ampun dengan sungguh-sungguh, dan berjanji dalam hati untuk sedikit lebih jujur esok hari. Karena perubahan sejati sering dimulai bukan dari sorak-sorai, tetapi dari tangisan yang hanya Allah dengar.
Dan mungkin, justru dalam kegelisahan yang kita rasakan hari ini, Allah sedang membimbing kita untuk menjadi lebih dekat, lebih tulus, dan lebih bergantung hanya kepada-Nya.
