Islam Ternilai dari Perilaku Pemeluknya

Suara Muhammadiyah

7 September 2026

131
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Islam Ternilai dari Perilaku Pemeluknya

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso, Tangerang Selatan

Dalam sebuah grup WhatsApp, salah satu anggota memposting gambar yang menampilkan atraksi marching band dalam acara perayaan 17 Agustus yang diselenggarakan oleh salah satu Madrasah Tsanawiyah. Para penampil atraksi tersebut berpakaian tidak seperti kebiasaan para siswi madrasah pada umumnya. Mereka tidak mengenakan jilbab dan menggunakan rok yang dinilai tidak menutup bagian kaki di bawah lutut. Pengirim postingan tersebut langsung memberikan komentar, “Mencoreng Sekolah Islam di Indonesia. Kiamat sudah dekat karena kita diam saat melihat kemungkaran,” Padahal belum tentu para siswi yang pentas itu berasal dari sekolah madrasah.

Komentar itu dibalas oleh anggota lain, “Mana yang lebih memiliki daya rusak dan bisa mencoreng Islam, anak-anak main marching band dengan pakaian yang dinilai tidak Islami atau seorang ASN yang melakukan tindakan asusila di dalam kantor Pemprov Sumbar dan tindakan asusila sesama jenis di kantor Pemerintah Kota Banda Aceh?” Perbincangan terhenti dan hening seketika.

Dialog di dalam grup WhatsApp seperti yang terjadi di atas kerap saya ikuti dalam satu komunitas yang anggotanya adalah orang-orang yang tidak lagi memiliki banyak kesibukan karena menjelang atau pascapurna kerja. 

Sikap mereka dalam beragama pun cukup beragam. Ada yang mulai tekun belajar agama, namun memilih membangun orientasi keberagamaannya ke dalam: lebih banyak melakukan introspeksi, menjadikan ibadah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, serta tidak terlalu sibuk menilai perilaku orang lain. Dalam keseharian, mereka cenderung lebih tenang dan santun, lebih banyak mendengar daripada berbicara, serta lebih menekankan akhlak dan hubungan dengan sesama daripada sekadar menampakkan simbol keberagamaan.

Mereka berusaha mempraktikkan nasihat Ali bin Abi Thalib agar seseorang lebih banyak memuji Allah dan mencela dirinya sendiri, bukan sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Nasihat yang sederhana, tetapi maknanya sangat dalam.

Di sisi lain, ada juga yang memilih orientasi keberagamaannya ke luar. Mereka lebih banyak mencurahkan perhatian pada perilaku keagamaan orang lain. Mudah merasa resah ketika melihat cara berpakaian, cara beribadah, atau perilaku orang lain yang dianggap tidak sesuai dengan pemahaman agamanya. Mereka terdorong untuk menegur, mengingatkan, atau mencegah apa yang dianggap sebagai kemungkaran. Salah satu “senjata” yang kerap digunakan adalah narasi bahwa “kiamat sudah dekat”. Upaya itu digunakan untuk menggugah kesadaran orang lain yang dinilai keliru, bahkan sesat, dan dianggap mencoreng nama baik agama.

Saya menghormati berbagai pilihan masing-masing orang. Sikap peduli terhadap perilaku orang lain tentu tidak salah. Sebab, salah satu ajaran penting dalam agama adalah bagaimana agar kita bisa menjadi penolong bagi orang lain dengan berusaha menyeru kepada kebaikan dan mencegah perilaku buruk QS At-Taubah [9]: 71.

Sebagai pilihan pribadi, saya berusaha mengecilkan porsi untuk mengoreksi orang lain dan akan lebih banyak berusaha mengoreksi diri sendiri. Jika terlalu sibuk menilai orang lain, saya khawatir akan kehilangan makna paling mendasar dalam beragama, yaitu menjadikan kualitas ketaatan dalam diri saya semakin baik.

Hemat saya, dalam praktik menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran, saya menemukan adanya standar yang cukup beragam di antara para pemeluk agama. Persepsi terhadap simbol dan perilaku orang beragama pun tidak selalu seragam. Jika dalam hal kebaikan dan kebenaran sesuai dengan perintah agama relatif tidak banyak perdebatan, tapi dalam hal perbuatan yang dianggap mungkar, persepsi dan cara menyikapinya bisa sangat berbeda-beda.

Ada yang mengabaikannya, ada yang memilih mengingatkan dengan santun, ada yang menegur secara terbuka, dan ada pula yang merasa perlu melakukan tindakan yang lebih keras. Perbedaan persepsi dan cara menyikapi inilah yang menurut saya menarik untuk dicermati. Bahkan, ada yang sangat serius menyikapi satu perbuatan munkar, seperti perzinahan, tetapi abai terhadap kemungkaran yang lain, seperti korupsi dan penyalahgunaan jabatan, misalnya.

Ada yang berpandangan bahwa cara berpakaian dan berperilaku seseorang, terutama kaum hawa, merupakan persoalan yang sangat serius dan harus mendapat perhatian karena dianggap sebagai perilaku mungkar. Maka, tidak heran jika di beberapa tempat pernah dilakukan razia khusus penertiban pakaian kaum perempuan. Salah satu alasannya karena cara berpakaian perempuan dapat merangsang seseorang untuk berbuat zina. 

Ada juga yang sangat serius menjadikan perilaku meminum minuman keras, mengonsumsi zat adiktif lainnya, serta perjudian sebagai musuh utama umat beragama. Alasannya, ketika seseorang berada di bawah pengaruh alkohol, potensi untuk melakukan perbuatan yang dapat merugikan orang lain bisa meningkat. Oleh sebab itu, tidak heran jika kita menjumpai sekelompok orang yang menggunakan atribut keagamaan lalu mengobrak-abrik tempat-tempat perjudian dan penjualan alkohol.

Bagi saya, salah satu bentuk kemungkaran yang serius dan sangat berlawanan dengan nilai-nilai agama adalah penyalahgunaan amanah yang melekat pada jabatan dan kekuasaan, sehingga merugikan sebagian orang dan menguntungkan sebagian yang lain. Seorang pemimpin yang tidak amanah, mengingkari janji, mengabaikan hak anak-anak yatim dan orang miskin, atau bahkan menyebabkan kemiskinan baru, adalah bentuk kemungkaran yang sangat nyata.

Selain itu, kemungkaran serius lainnya adalah perilaku manusia yang rakus dan bersekutu dengan penguasa untuk mengeruk isi perut bumi secara serakah. Perilaku semacam ini dapat merusak alam dan lingkungan sekitar hingga menimbulkan bencana kemanusiaan. Apalagi jika dalil-dalil agama dijadikan alasan untuk membenarkan perilaku yang sangat merusak alam tersebut, maka kemungkaran dalam bentuk ini menjadi semakin sempurna.

Dalam situasi seperti ini, saya teringat pesan yang sangat masyhur yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Abduh (1849–1905), salah seorang ulama dan pembaru pemikiran Islam dari Mesir: “Al-Islāmu maḥjūbun bil-muslimīn” (الإسلام محجوب بالمسلمين)—Islam tertutup oleh perilaku umat Islam sendiri.

Saya meyakini bahwa Islam sebagai agama dan tuntunan hidup tidak hanya dinilai dari kebaikan ajaran, prinsip, dan nilai-nilai yang tertulis dalam kitab sucinya, atau dari simbol-simbol yang dikenakan oleh pemeluknya, tetapi juga dari perilaku orang-orang yang mengaku sebagai pemeluknya: bagaimana mereka memperlakukan alam dan makhluk hidup lainnya, menegakkan keadilan bagi kaum papa yang lemah dan rentan, memperlakukan orang lain, menyikapi perbedaan, serta menempatkan diri di tengah Masyarakat. 

Islam sebagai rahmat bagi alam semesta akan benar-benar terasa ketika nilai-nilai luhurnya hadir dalam keseharian perilaku pemeluknya dalam menegakkan keadilan, menghormati sesama, dan menjaga alam dari kerakusan yang hanya menguntungkan segelintir orang.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Mu’arif Momentum milad Majalah Suara Muhammadiyah tahun ini diwarnai dengan berita meny....

Suara Muhammadiyah

16 August 2024

Wawasan

Ketika Ongkos Pulang Kian Berat: Mudik di Tengah Tekanan Ekonomi Oleh: Syahnanto Noerdin, Ketua Bid....

Suara Muhammadiyah

17 March 2026

Wawasan

Pemerintahan Bukan Tempat untuk Memamerkan Kekuasaan Oleh: Immawan Wahyudi, Dosen FH UAD Salah sat....

Suara Muhammadiyah

7 August 2024

Wawasan

Spirit Sumpah Pemuda dalam Tanwir IMM XXXIII Oleh: M Zaki Mubarak, Sekretaris Jenderal DPP IMM Kur....

Suara Muhammadiyah

20 October 2025

Wawasan

Memaksa Lebaran Seragam: Persatuan atau Pelanggaran? Oleh: M. Saifudin, Pengasuh Pondok Modern Muha....

Suara Muhammadiyah

23 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah