Mewujudkan Mimpi Besar Barie Irsjad
Penulis : Yudha Kurniawan, Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, bekerja di BPMP DIY
Tapak Suci Putera Muhammadiyah, salah satu kekuatan utama dalam dunia persilatan, akan menggelar Muktamar XVI pada 6–9 Agustus 2026 di Universitas Muhammadiyah Semarang. Pada forum permusyawaratan tertinggi perguruan ini, diusung tema besar: “Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri dan Mendunia.”
Bagi sebagian orang, tema tersebut mungkin hanya terdengar sebagai slogan organisasi. Namun jika ditelusuri lebih dalam, tema itu sesungguhnya merefleksikan cita-cita besar yang telah ditanamkan sejak awal kelahiran Tapak Suci oleh pendirinya, Pendekar Besar Muhammad Barie Irsjad.
Ketika mendirikan Tapak Suci pada 31 Juli 1963, Muhammad Barie Irsjad masih berusia 28 tahun. Berbekal semangat menyatukan berbagai paguron keturunan Perguruan Kauman Yogyakarta, ia merintis sebuah gerakan yang lahir dari lingkungan kampung, tetapi tidak berpikiran kampung. Dengan penuh keyakinan, Barie Irsjad menegaskan bahwa Tapak Suci bukanlah gerakan lokal yang hanya hidup di satu daerah, melainkan gerakan yang harus menjangkau dunia.
Pernyataan itu terasa sangat visioner pada masanya. jauh sebelum istilah globalisasi menjadi perbincangan luas, seorang pemuda Kauman telah membayangkan pencak silat sebagai instrumen dakwah kultural Muhammadiyah yang mampu menembus batas-batas bangsa dan negara.
Tapak Suci sejak lahir diproyeksikan oleh pendirinya menjadi anak panah Persyarikatan Muhammadiyah yang membawa nilai-nilai Islam berkemajuan ke berbagai penjuru dunia. Lebih dari enam dekade kemudian, cita-cita besar tersebut masih terus hidup. Muktamar XVI menjadi momentum penting bagi generasi penerus untuk menerjemahkan kembali gagasan pendiri ke dalam konteks zaman yang terus berubah.
Gagasan Besar
Tema Muktamar XVI mengandung tiga gagasan yang saling berkaitan.
Pertama, berakar tradisi. Gagasan ini menunjukkan kesadaran bahwa kemajuan hanya dapat dibangun di atas fondasi yang kuat. Tapak Suci harus tetap menjaga kemurnian nilai, keilmuan, akhlak, serta jati dirinya sebagai perguruan pencak silat yang berlandaskan Islam dan menjadi bagian integral dari Muhammadiyah. Kemajuan tidak boleh menghilangkan akar, sebab akar itulah yang memberi identitas dan arah perjuangan.
Kedua, modern. Menjadi modern bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan menyempurnakan warisan para pendahulu dengan pendekatan yang sesuai perkembangan zaman. Tata kelola organisasi harus semakin profesional, transparan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Di era digital, organisasi sebesar Tapak Suci dituntut mampu mengelola sumber daya, kaderisasi, pembinaan prestasi, hingga komunikasi organisasi secara lebih efektif dan efisien.
Ketiga, mandiri dan mendunia. Kemandirian merupakan syarat utama bagi organisasi untuk tumbuh secara berkelanjutan. Kemandirian ekonomi dan kelembagaan akan menjadi fondasi yang kokoh bagi perluasan gerakan Tapak Suci di tingkat nasional maupun internasional. Dengan fondasi yang kuat, Tapak Suci dapat terus memperluas pengaruhnya sebagai perguruan pencak silat yang tidak hanya melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga kader dakwah yang mampu menjadi duta budaya Indonesia di berbagai negara.
Menampilkan Kelompok Muda
Tiga gagasan besar tersebut tidak akan terwujud hanya melalui rumusan program dan dokumen organisasi. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang menggerakkan organisasi.
Tapak Suci hari ini adalah kapal besar yang berlayar di tengah perubahan zaman yang bergerak sangat cepat. Kapal besar itu membutuhkan nahkoda yang visioner, awak yang kompeten, serta kerja kolektif yang solid agar mampu menghadapi berbagai tantangan dan persaingan di masa depan.
Karena itu, Muktamar XVI tidak hanya berbicara tentang pergantian kepemimpinan, tetapi juga tentang regenerasi dan penguatan tata kelola organisasi. Tapak Suci memerlukan kader-kader yang energik, profesional, dan unggul di bidangnya masing-masing. Peremajaan kepemimpinan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan organisasi yang terus berkembang dan menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul banyak tokoh mudanya yang menunjukkan kapasitas dan kontribusi nyata bagi kemajuan organisasi, misalnya Roni Syaifulloh. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa semangat pembaruan tetap hidup di tubuh Tapak Suci. Semakin banyak sosok kompeten semacam Roni Syaifulloh diberi ruang untuk berkiprah, semakin besar pula peluang Tapak Suci untuk menjawab tuntutan zaman.
Perlu diingat bahwa Muhammad Barie Irsjad sendiri baru berusia 28 tahun ketika mendeklarasikan Tapak Suci sebagai gerakan dunia. Fakta sejarah ini mengajarkan bahwa keberanian bermimpi besar sering kali lahir dari jiwa-jiwa muda yang memiliki idealisme, energi, dan keberanian untuk menembus batas.
Karena itu, semangat muda sesungguhnya telah menjadi bagian dari DNA Tapak Suci sejak awal kelahirannya. Organisasi ini membutuhkan kader-kader yang tidak hanya mewarisi semangat para pendiri, tetapi juga mampu menerjemahkannya dalam bahasa zaman. Dengan cara itulah cita-cita besar yang diwariskan Muhammad Barie Irsjad dapat terus hidup dan berkembang.
Muktamar XVI menjadi kesempatan penting untuk meneguhkan kembali arah perjalanan tersebut. Dari akar tradisi yang kokoh, Tapak Suci diharapkan terus bergerak menjadi organisasi yang modern, mandiri, dan mendunia. Sebuah gerakan besar yang lahir dari Kauman, tetapi sejak awal memang ditujukan sebagai gerakan dunia.

