Isra Mi’raj Nabi Kembali ke Realitas Sosial dan LAZISMU Melanjutkannya
Penulis: Ilhamsyah Muhammad Nurdin, Dosen Universitas Muhammadiyah Maumere dan Ketua Lazismu PDM Sikka, NTT
Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW melintasi dimensi langit, melainkan sebuah momen transformasi psikologis yang sangat mendalam. Peristiwa ini terjadi pada fase paling berat dalam kehidupan Nabi, yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzni’ (tahun kesedihan). Wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, penolakan dakwah, kekerasan verbal dan fisik, serta keterasingan sosial merupakan akumulasi tekanan yang luar biasa. Dalam perspektif psikologi modern, kondisi ini dapat dibaca sebagai krisis emosional dan eksistensial yang berpotensi melumpuhkan jiwa.
Namun, justru dalam kondisi itulah Allah SWT memperjalankan Nabi. Dari sudut pandang psikologi, Isra Mi’raj dapat dipahami sebagai proses healing atau pemulihan jiwa. Allah SWT tidak mengangkat Nabi ketika beliau berada dalam kenyamanan psikologis, tetapi ketika jiwa beliau berada pada titik kelelahan terdalam. Ini menegaskan bahwa spiritualitas dalam Islam tidak terpisah dari kesehatan mental. Spiritualitas hadir sebagai energi pemulih, peneguh makna hidup, dan sumber daya batin untuk bangkit.
Dalam psikologi, dikenal konsep resilience, yaitu kemampuan individu untuk bangkit dari trauma dan tekanan hidup. Isra Mi’raj adalah peristiwa pembentukan resilience profetik. Nabi diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT, diberi perspektif kosmik tentang penderitaan manusia, dan diteguhkan bahwa misi kenabian memiliki makna yang jauh melampaui luka personal. Sepulang dari Mi’raj, Nabi kembali ke bumi bukan sebagai pribadi yang larut dalam kesedihan, tetapi sebagai pemimpin yang lebih kokoh secara mental, emosional, dan spiritual.
Puncak dari Isra Mi’raj adalah perintah salat. Dalam perspektif psikologi, salat berfungsi sebagai mekanisme self-regulation (kemampuan untuk mengendalikan pikiran, emosi, dan perilaku diri sendiri) dan emotional regulation (kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan menyikapi emosi, baik negatif maupun positif). Salat melatih kesadaran diri, ketenangan batin, fokus, serta keterhubungan transendental yang memberi rasa aman dan makna hidup. Dengan demikian, salat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga sarana menjaga kesehatan mental dan kestabilan psikologis umat Islam dalam menghadapi realitas hidup yang penuh tekanan.
Namun, Islam tidak berhenti pada pengalaman batin individual. Di sinilah pemikiran Muhammad Iqbal menjadi sangat relevan. Salah satu pandangan Iqbal yang paling terkenal adalah pernyataannya bahwa jika ia sendiri yang mengalami Mi’raj, ia mungkin tidak akan kembali ke bumi, melainkan akan memilih untuk berasyik-masyuk di langit bersama Tuhan. Tetapi Nabi Muhammad SAW tidak demikian. Nabi justru memilih untuk kembali ke realitas duniawi dengan segala problematikanya. Pilihan ini, menurut Iqbal, menegaskan bahwa Nabi bukan seorang sufi yang tenggelam dalam ekstase spiritual semata, melainkan seorang pemimpin profetik yang menjadikan pengalaman spiritual sebagai energi perubahan sosial.
Dari perspektif psikologi sosial, keputusan Nabi untuk kembali ke bumi menunjukkan orientasi prosocial behavior yang sangat kuat. Pengalaman spiritual tertinggi tidak membuat Nabi menjauh dari manusia, tetapi justru mendekatkan beliau pada penderitaan umat. Inilah spiritualitas yang sehat: bukan melarikan diri dari realitas, melainkan hadir untuk mengubahnya. Pandangan ini selaras dengan kritik Iqbal terhadap mistisisme pasif yang hanya berhenti pada kenikmatan batin tanpa keberpihakan sosial.
Di titik inilah nilai Isra Mi’raj bertemu dengan peran LAZISMU. Jika Isra Mi’raj adalah perjalanan naik menuju Tuhan, maka LAZISMU adalah manifestasi turun ke bumi untuk melayani kemanusiaan. Spiritualitas yang lahir dari Mi’raj tidak berhenti di sajadah, tetapi menjelma menjadi tindakan nyata melalui zakat, infak, dan sedekah.
Dalam psikologi komunitas, tindakan berbagi memperkuat empati, solidaritas, dan sense of belonging (rasa memiliki, yaitu perasaan nyaman, aman, diterima, dihargai, dan terhubung secara emosional dengan suatu kelompok atau lingkungan). LAZISMU berfungsi sebagai institusi yang menyalurkan kesadaran spiritual menjadi aksi sosial terorganisir. Program-program LAZISMU di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kemanusiaan tidak hanya menyentuh aspek material, tetapi juga memulihkan martabat, harapan, dan kesehatan psikologis masyarakat.
Sebagaimana Nabi Muhammad SAW kembali dari Mi’raj untuk memimpin, membimbing, dan membela kaum lemah, LAZISMU hadir sebagai perpanjangan tangan nilai profetik itu dalam konteks kekinian. Zakat dan sedekah bukan sekadar kewajiban agama, tetapi ekspresi dari jiwa yang matang secara spiritual dan sehat secara psikologis.
Pada akhirnya, Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kedekatan tertinggi dengan Tuhan harus melahirkan tanggung jawab tertinggi kepada manusia. Dan LAZISMU adalah bukti bahwa spiritualitas Islam bukanlah pelarian dari dunia, melainkan kekuatan untuk memperbaikinya. Dari langit menuju bumi, dari iman menuju aksi nyata, Isra Mi’raj dan LAZISMU bertemu dalam satu pesan besar: menghadirkan rahmat, keadilan, dan keberpihakan sosial bagi semesta alam.

