Jangan Telan Mentah-mentah Jawaban AI, Bijak dan Bestari dalam Memverifikasi

Prof Dr Dadang Kahmad, MSi. Foto: Nadri
Prof Dr Dadang Kahmad, MSi. Foto: Nadri

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Kehidupan umat manusia modern dihadapkan pada kemajuan teknologi yang semakin dahsyat. Sebut saja, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang mentransformasi secara komprehensif landscape ekosistem kehidupan.

"AI ini sifatnya netral. Tergantung kepada kita mau dipakai apa," ujar Dadang Kahmad.

Ragam fungsi AI telah berkembang mekar selain mengeksplorasi informasi umum, termasuk mendesain gambar, bersamaan dengan itu, juga mengeksplorasi informasi keagamaan.

"Walaupun AI bisa menjawab pertanyaan mengenai agama, kita perlu verifikasi karena AI juga terbatas input yang masuknya," sebut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Karenanya, diperlukan guidance (bimbingan) dari para pakar untuk membantu melakukan verifikasi tersebut. Dadang sebut ini dalam Catatan Akhir Pekan (CAP) TvMu Channel, Sabtu (31/10).

"AI itu di antaranya alat untuk mengetahui tapi juga terbatas sekali lagi. Tidak semua informasi dari AI itu akurat," tegas Dadang.

Menurut Dadang, AI bisa menjawab segala hal tergantung data yang masuk. Kalau datanya komplit, katanya, AI bisa menjawab. "Tapi kalau datanya tidak akurat, tidak itu mungkin bisa menjawab," sambungnya.

Ketika data yang dimasukan itu serampangan, substansi yang disajikan AI pun tak pelak main-main (tidak benar autentisitasnya). Di situlah relevansi prinsip Qs al-Hujurat (49) ayat 6 (tabayyun) menemukan titik temunya.

"Tetap harus ada verifikasi," ucapnya di tengah cepatnya AI memberikan sajian informasi. Tapi, diungkapnya muatan informasinya tidak mendalam. Termasuk ketika membahas soal keagamaan.

"Kalau Kiai atau pun ulama atau pun orang-orang yang ahli agama menjawab pertanyaan itu dengan dalam, dalil-dalil yang sahih," tegas Dadang.

Dewan Redaksi Suara Muhammadiyah ini menegaskan, AI tidak bisa dijadikan kebenaran mutlak dalam agama. Verifikasi dan pembanding itu menjadi sangat penting, begitu Dadang menyebutnya.

"Itu penting karena AI sekali lagi bersifat netral. Tidak ada semacam emosi apakah salah satu keinginan untuk menjadi paling benar tidak. Kalau penanaman nilai-nilai keimanan saya kira AI tidak akan mampu," bebernya.

Ternyata hanya sebatas itu AI yang digdaya dalam menjalankan fungsinya. AI hanya memberikan informasi yang sifatnya informatif.

"Umpamanya tentang rukun iman, berapa rukun Islam, mungkin AI bisa menjawab," ucapnya. Tapi soal keimanan (spiritual), AI tidak bisa melakukannya.

"Sekali lagi perlu kita melakukan verifikasi. Sebab AI itu canggih sekali sekarang itu," tegasnya sekali lagi.

Ditekankan ihwal AI sebagai berbentuk algoritma dengan data. Algoritma yang mengolah data yang masuk.

"Kalau data tidak ada, yang ada dari orang lain yang tidak sesuai, yang akan keluar dari orang lain," pungkasnya. (Cris)