YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Bangsa Indonesia memiliki tokoh perempuan yang berdedikasi dalam bergumul dalam memperjuangkan kemerdekaan, yaitu Raden Ajeng Kartini.
Disebut Salmah Orbayinah, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, tokoh ini memberikan gagasan-gagasannya terkait emansipasi perempuan.
“Gagasannya tertuang dalam kumpulan surat kepada para sahabatnya yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang,” tuturnya, Kamis (16/4) saat Sidang Terbuka Senat Wisuda Periode ke-26 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Kampus Terpadu UNISA Yogyakarta.
Salmah menyigi, sisi distingtif dari tokoh perempuan berasal Rembang, Jawa Tengah itu. Ketika itu ia menghadiri pengajian di tempat pamannya, yang juga Bupati Jepara (Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat).
Dikisahkan, bahwa dalam pengajian tersebut, hal yang disampaikan ihwal menyingkap surat Al-Fatihah. Salah satu pemateri pengajian yaitu Kiai Soleh Darat (Murid KH Ahmad Dahlan).
“Membuat Kartini berpikir bahwa ternyata dengan mengetahui makna dari ayat Al-Qur’an yang dibaca membuka sisi gelap yang selama ini dirasakan,” beber Salmah.
Tidak stagnan di satu surat saja. Bersambung di Surat al-Baqarah ayat 257, yang ini menjadi titik pencerahan Kartini untuk semakin meneguhkan kehidupannya ke arah terang benderang.
“Dan kemungkinan judul dari habis gelap terbitlah terang terinspirasi dari surat ini,” sebut Salmah.
Di lain sisi, ‘Aisyiyah juga punya tokoh perempuan yang sangat berpengaruh; Nyai Walidah Dahlan. Tokoh ini, menurut Salmah, juga sama-sama berjuang bagi kemajuan perempuan.
“Bedanya Kartini dari ide dan gagasan yang menginspirasi, maka Ny Walidah melalui gerakan aksi yang dilembagakan dan berkelanjutan. Tidak membandingkan tapi saling melengkapi,” tegasnya.
Jika mengobjektivikasi kedua tokoh tersebut dengan generasi muda saat ini, pinta Salmah, mesti terus semangat dalam menuntut ilmu. Yang hal demikian itu, mesti diikat oleh keimanan dan juga aktualisasi dengan apa yang telah diperoleh.
“Jangan pernah berhenti menjadi manusia pembelajar. Sebaik-baik ilmu akan memberikan teladan perbuatan yang terus mengalir untuk kemanfaatan hidup bersama, bukan semata memberikan kesejahteraan bagi pribadi dan keluarga,” tegasnya, sekali lagi.
Dalam menghadapi perubahan zaman, Salmah memaparkan tiga kompetensi utama yang perlu dimiliki lulusan, yakni kompetensi teknis seperti literasi digital dan keterampilan kecerdasan buatan (AI).
Demikian juga, kompetensi perilaku seperti etika, berpikir kritis, kolaborasi lintas disiplin, dan pemecahan masalah, serta kompetensi pembelajaran berkelanjutan dan inovasi, termasuk kemampuan analisis data dan pengelolaan sumber daya manusia.
Dengan bekal tersebut, ia berharap para lulusan mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat serta menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi bangsa. (Cris)
