Keamanan Maritim Jadi Pintu Masuk Kerja Sama Jepang-Indonesia di Asia Tenggara

Suara Muhammadiyah

26 January 2026

681
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Isu kedaulatan dan keamanan maritim kembali mengemuka seiring meningkatnya dinamika geopolitik di kawasan Asia Tenggara, khususnya di wilayah perairan strategis. Dalam konteks ini, kerja sama keamanan maritim antara Indonesia dan Jepang dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai negara kepulauan.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Rafyoga Jehan Pratama Irsadanar, menilai sektor keamanan maritim menjadi pintu masuk utama Jepang dalam membangun kerja sama keamanan dengan Indonesia secara berkelanjutan dan dapat diterima secara politik.

Hal tersebut ia sampaikan dalam forum One Day Conference bertajuk ‘BIMP-EAGA and Japan: Issues and Prospects’ yang digelar pada Sabtu (24/1) di UMY. Menurut Rafyoga, pendekatan Jepang yang menitikberatkan pada keamanan non-tradisional, seperti peningkatan kapasitas aparat dan bantuan teknis di bidang maritim, selaras dengan kebutuhan Indonesia saat ini, terlebih sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang luas dan kompleks.

“Keamanan maritim jadi pintu masuk yang relatif aman dan dapat diterima Indonesia. Melalui kerja sama ini, Jepang tidak dipersepsikan sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra strategis,” ujar Rafyoga.

Ia menjelaskan, Indonesia merupakan negara Asia Tenggara yang menerima spektrum kerja sama keamanan Jepang paling lengkap. Hal tersebut dilihat dari pelatihan aparat, latihan bersama, hingga alih teknologi pertahanan yang berkaitan dengan penegakan hukum laut.

Kerja sama tersebut berdampak langsung pada peningkatan kapasitas pengambilan keputusan aparat keamanan Indonesia di lapangan.

Rafyoga menekankan bahwa meskipun Indonesia dan Jepang memiliki perbedaan prinsip di level kebijakan luar negeri, perbedaan tersebut tidak menghambat kerja sama di level operasional.

“Justru di level operasional inilah nilai-nilai bersama dibangun. Aparat Indonesia memperoleh pemahaman yang lebih kuat tentang hukum laut internasional dan tata kelola keamanan maritim,” katanya.

Lebih jauh, ia menilai kerja sama keamanan maritim berkontribusi pada pembentukan kepercayaan jangka panjang terhadap peran Jepang di Asia Tenggara. Intensitas interaksi menciptakan hubungan personal antarlembaga yang memperkuat legitimasi Jepang sebagai mitra keamanan.

Rafyoga tetap mengingatkan bahwa keberlanjutan kepercayaan tersebut bergantung pada konsistensi Jepang dalam menjunjung prinsip hukum internasional dan menahan diri dari pendekatan unilateral.

“Legitimasi Jepang di Asia Tenggara akan sangat ditentukan oleh konsistensinya terhadap norma dan hukum internasional,” pungkasnya saat merespon situasi politik dan hukum internasional saat ini. (ID)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANTAENG, Suara Muhammadiyah — Pemerintah Kabupaten Bantaeng menerima mahasiswa Kuliah Kerja N....

Suara Muhammadiyah

12 February 2026

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - MBS MUHIBA telah menyelenggarakan kegiatan Festival Seni Bhineka Tungga....

Suara Muhammadiyah

28 October 2024

Berita

SUMEDANG, Suara Muhammadiyah - Di sela-sela kunjungan ke Sumedang, Jawa Barat, Menteri Pendidikan Da....

Suara Muhammadiyah

13 April 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Riau melalui Departemen P....

Suara Muhammadiyah

25 July 2024

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sebanyak 5 ribu warga Muhammadiyah memadati kawasan Balai Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

24 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah