Kembali ke Hakikat IMM
Penulis: Muh Akmal Ahsan, Ketua DPP IMM Bidang Ristek
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) segera memasuki usia ke-62 tahun. Berbagai bentuk perayaan dan peringatan Milad tentu layak diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan sejarah organisasi ini. Namun, perayaan itu sebaiknya tidak berhenti pada seremonial belaka. Pertambahan usia hendaknya menjadi momentum reflektif untuk memperdalam kembali pemaknaan kader terhadap hakikat dan jati diri IMM, agar organisasi ini tidak sekadar bertumbuh secara kronologis, namun juga kian matang dalam kesadaran dan orientasi nilai.
Apa sebenarnya hakikat IMM?, pertanyaan itu layak kembali diajukan sebagai pemantik, apakah gerakan ini masih berjalan di real autentiknya, ataukah justru perlahan-lahan tergelincir di pelataran zaman yang demikian reduktif.
Jika jujur, saat ini, kita berjumpa dengan berbagai macam gejala yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Pertama, tumbuh pembekuan ideologi menjadi sekadar formalitas. Nilai-nilai yang bersumber dari Ikatan dan rahim besar Muhammadiyah tidak lagi dihidupi sebagai kesadaran kritis yang menyala, ia kemudian direduksi menjadi slogan, seremoni dan rutinitas kaderisasi dan organisasi. Ideologi yang seharusnya menjadi daya dorong transformatif justru membeku dalam hapalan. Akibatnya ruh gerakan melemah. Kita tampak bergerak, tapi kehilangan energi pembaharuannya.
Kedua, terjadi pergeseran dari gerakan nilai ke gerakan posisi. Orientasi perjuangan secara pelan bergeser dari misi ideologis dan intelektual menuju kepentingan struktural, jabatan dan legitimasi simbolik. Struktur lantas menjadi tujuan utama, bukan sebagai instrumen. Padahal, dalam tradisi gerakan mahasiswa, struktur sesungguhnya hanyalah alat untuk memperluas daya pengaruh gagasan. Ketika posisi lebih dirayakan daripada misi, maka yang akan lahir bukan lagi kader penggerak, melainkan administrator simbolik.
Ketiga, sebagai gerakan mahasiswa, tradisi intelektual tampak kian melemah berseiring dengan menurunnya sensitivitas sosial. IMM perlahan kehilangan konteks historisnya sebagai kawah candradimuka pemikir muda Islam yang kritis dan progresif. Diskursus ilmiah tergantikan oleh pragmatisme jangka pendek. Di titik ini, kegelisahan untuk kembali ke hakikat IMM sejatinya bukanlah sekadar romantisme belaka, lebih dalam dari itu ia adalah kebutuhan eksistensial.
Sesungguhnya, wacana untuk kembali ke hakikat telah lama bergulir. Makhrus Ahmadi dan Aminuddin Anwar, misalnya, melaui buku Genealogi Kaum Merah (2014) yang berupaya mengidentifikasi gen pemikiran sejak awal berdirinya. Upaya serupa dilakukan oleh Ahmad Soleh. Dalam bukunya IMM Autentik (2017), ia mendorong kader untuk kembali melacak autentisitas, subtansi dan perjalanan sejarah IMM guna membaca realitas hari ini. Bayujati Prakoso, lewat buku Sukma Intelektualisme (2020), mendorong IMM kembali ke jati dirinya sebagai cendekiawan berpribadi, sebagaimana termaktub dalam Mars IMM. Ragam literatur ini menunjukkan bahwa kegelisahan untuk kembali ke hakikat sesungguhnya bukan isu musiman. Ia adalah denyut panjang kesadaran kritis kader dari waktu ke waktu.
Lalu bagaimana memahami hakikat IMM secara jernih?. Setidaknya terdapat dua pendekatan utama. Pertama, pendekatan normatif-ideologis. Hakikat IMM dapat dibaca melalui dokumen AD/ART, Nilai Dasar Ikatan, Enam Penegasan, dan dokumen ideologis yang lain. Di sana termaktub fondasi nilai yang menjadi pijakan gerakan. Kedua, pendekatan historis-sosiologis, dengan membaca konteks kelahirannya, dinamika perjuangannya, serta relasinya dengan gerakan mahasiswa dan masyarakat luas. Pendekatan pertama memberi landasan normatif, pendekatan kedua memberi konteks empirik. Keduanya perlu dipertemukan.
Dari dua model pembacaan itulah, intisari IMM dapat dirumuskan dalam beberapa dimensi. Secara ideologis, IMM adalah organisasi mahasiswa Islam berbasis Muhammadiyah. Artinya, ia tidak netral nilai. Ikatan ini adalah gerakan kader intelektual Islam yang berpijak pada manhaj Muhammadiyah. IMM harus mengambil spirit purifikasi dan dinamisasi Muhammadiyah.
Secara struktural, IMM adalah eksponen mahasiswa dalam struktur perjuangan Muhammadiyah. Ia menjadi ruang artikulasi gagasan dan kaderisasi di basis kemahasiswaan. Di sinilah generasi muda intelektual ditempa, bukan sekadar untuk mengisi struktur, namun untuk terus memproduksi kepemimpinan moral dan intelektual bagi umat dan bangsa.
Secara konstitusional, IMM menerima dasar dan falsafah negara. Ia adalah gerakan mahasiswa Islam yang religius sekaligus berkomitmen kebangsaan. Sikap ini menegaskan bahwa keislaman dan keindonesiaan bukanlah dua kutub yang saling menegasikan, melainkan dua horizon yang saling memperkaya. IMM tidak anti-negara, ia justru menempatkan dirinya sebagai kekuatan moral yang ikut merawat republik.
Dalam dinamika keilmuan, IMM memegang prinsip bahwa ilmu harus berbuah amal, dan amal harus dituntun ilmu, dengan orientasi tauhid dan keberpihakan sosial. Ilmu tanpa keberpihakan akan menjadi steril, amal tanpa ilmu akan kehilangan arah. Di sinilah integrasi iman, ilmu, dan aksi menemukan maknanya.
Namun, merumuskan hakikat saja tentu tidaklah cukup. Ia harus menjadi kesadaran kolektif. Untuk itu, diperlukan tiga tahapan yang salih menubuhkan: internalisasi (internalization), institusionalisasi (institusionalization), dan pengejawantahan (embodiment). Internalisasi adalah kerja-kerja menanamkan nilai dan hakikat IMM hingga menjadi cara berpikir dan cara merasa. Nilai dan hakikat IMM tersebut digunakan sebagai lensa untuk memahami realitas. Sementara itu, institusionalisasi adalah ikhtiar untuk menata sistem, tradisi dan program gerakan agar nilai itu menemukan bentuk objektifnya. Sementara embodiment adalah usaha menghayati nilai dan hakikat IMM tersebut, dilembagakan, hingga menjadi watak dan keteladanan.
Di usia ke-62 ini, refleksi, betapapun terdengar klise, adalah keharusan. Refleksi merupakan fondasi bagi proses organisasi yang berkesadaran (mindful) dan bermakna (meaningful). Melalui refleksi, organisasi belajar menyadari arah, menimbang dampak, dan mengoreksi diri secara sadar. Tanpa refleksi, gerakan hanya akan mengulang rutinitas tanpa pembaruan. Dengan refleksi, ia menemukan kembali kompasnya.
Akhirnya, penulis mengajak para kader untuk kembali ke hakikat Ikatan ini, guna memperkokoh pijakan sebelum menjalani derap langkah masa depan. Nilai dan hakikat IMM itu adalah mata air yang memungkinkan IMM tetap selalu relevan dalam pusaran zaman. Sebagai bagian dari rumah besar gerakan intelektual ini, saya mengucapkan, selamat Milad ke-62 tahun. Semoga organisasi ini tetap setia pada hakikat sejarahnya sebagai gerakan intelektual Islam yang progresif.

