Kenapa Al Fatihah Surah Pertama dalam Al-Qur’an?

Suara Muhammadiyah

12 January 2024

13989
Doc. SM

Doc. SM

Oleh: Donny Syofyan

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas


Surah Al-Fatihah bukanlah surah pertama yang diturunkan sebagai wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu kenapa Al Fatihah menjadi surah pertama dalam urutan surah dalam Al-Qur’an? Ini adalah pertanyaan menarik yang sebetulnya berkaitan dengan pertanyaan yang lebih luas; mengapa susunan Al-Qur’an sebagaimana yang kita temukan hari ini.

Susunan surah dalam Al-Qur’an bukan berdasarkan urutan kronologis; wahyu pertama sebagai surah pertama dan wahyu terakhir menjadi surah terakhir. Ada pelbagai riwayat tentang wahyu pertama. Yang paling umum bahwa wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah Surah Al `Alaq ayat 1-5 dalam Al-Qur’an. Ayat pertama berbunyi, “Bacalah atas nama Tuhanmu yang menciptakan." 

Allah tentu memiliki alasan dan kebijaksanaan-Nya sendiri yang memandu Rasulullah mengapa urutan Al-Qur’an demikian adanya. Tapi pada kenyataannya, Al-Qur’an memiliki struktur yang dalam (deep structure). Di satu isi tampak matematis dan di sisi lannya bersifat linguistik. Menyangkut struktur linguistik atau bahasa, menarik untuk membaca buku bagus yang ditulis oleh Raymond Farrin berjudul Structure and Qur’anic Interpretation (2014). Dalam buku ini, Raymond melihat apa dan bagaimana pengaturan dan penyusunan Al-Qur’an. Dia menemukan bahwa surah-surah dalam Kitabullah disusun sesuai dengan apa yang disebutnya sebagai struktur cincin (ring structure).

Dalam studi linguistik, Raymond melukiskan sebuah batu utama di dalam cincin. Ketika berputar, maka akan kembali ke batu utama itu. Pengaturan surah dalam Al-Qur’an seperti komposisi cincin itu. Seluruh surah dalam Al-Qur’an, dengan cara tertentu, adalah satu cincin besar. Surah pertama (Al Fatihah) dimulai dengan mengatakan "Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam" dan surah terakhir (An-Naas) berbunyi "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia." Surah pertama menggambarkan Allah sebagai Tuhan yang menguasai alam, Tuhan yang universal, dan surah terakhir menggambarkan Dia sebagai penguasa umat manusia, yang berarti juga Tuhan yang universal. Jadi surah pertama dan surah terakhir diikat secara bersamaan dengan tema Tuhan yang universal atau universalisme Tuhan. 

Raymond juga mendapati surah-surah dalam Al-Qur’an disusun berpasangan. Sebagai misal, surah kedua dan surah ketiga membentuk pasangan. Bila dilanjutkan sepanjang Al-Qur’an, kita menemukan bahwa surah-surah tersebut membentuk pasangan yang pada gilirannya bakal membentuk cincin. Dalam penelitiannya, Raymond menulis ada 19 cincin dalam Al-Qur’an. Setiap surah dengan sendirinya adalah cincin. 

Surah al-Fatihah, misalnya, membentuk cincin yang awalnya menggambarkan Tuhan dan kemudian ada doa kepada Tuhan di tengah, ihdinas siratal mustaqim. Lalu ada manfaat yang disampaikan di bagian terakhir surah. Keagungan Allah yang disebutkan di awal dicerminkan oleh pelbagai berkah dari Allah yang diminta di bagian terakhir surat. Jadi itu sendiri membentuk cincin. Setiap surah dengan sendirinya membentuk semacam pola cincin. Ada semacam dualitas dengan struktur cincin, di mana awal dan akhir bertemu atau awal dan akhir saling mencerminkan. 

Bagaimanapun juga, urutan surah dalam Al-Qur’an ditetapkan oleh Allah. Dengan struktur ini kita bisa mencermati bahwa ada rencana ilahi di balik ini semua. Sulit membayangkan bahwa manusia punya andil merencanakan semuanya seperti ini. Nabi Muhammad SAW sendiri tidak memiliki kekuatan, kemampuan dan kendali akhir atas pengaturan dan penyusunan surah-surah dalam Al-Qur’an. Beliau mengajarkan Al-Qur’an kepada para sahabatnya. Memang tidak ada penjelasan dari pelbagai riwayat bahwa Nabi SAW mengajari sahabatnya secara rinci urutan surah yang kita miliki sekarang.

Kita menemukan bahwa beberapa kodeks sahabat—kodeks Al-Qur’an yang disusun oleh berbagai sahabat Rasulullah yang tercatat dalam sejarah—memiliki urutan yang sedikit berbeda. Sebagai misal, urutan surah 89 dan surah 90 yang kita kenal sekarang bisa saja di kalangan sejumlah sahabat memiliki urutan terbalik, tapi khusus untuk dua surah ini saja.  Dalam kasus beberapa surat, urutan yang terbalik dalam beberapa kodeks para sahabat menunjukkan bahwa penyusunan dan pengaturan surah dalam Al-Qur’an bukanlah perintah tetap dari Nabi Muhammad SAW. Namun ia muncul sebagai arahan dan petunjuk dari Allah SWT. *


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Spirit Nuzulul Qur’an: Pembangun Peradaban Islam Oleh: Dwi Kurniadi, Kader IMM Pondok Shabran....

Suara Muhammadiyah

19 March 2025

Wawasan

Catatan Perjalanan Pulang di Akhir Tahun Oleh; Ahsan Jamet Hamidi Menjelang akhir tahun 2025, saya....

Suara Muhammadiyah

31 December 2025

Wawasan

Oleh: Abdur Rauf. Anggota MPK-SDI PDM Kota Yogyakarta Periode 2022-2027 Warga Muhammadiyah semestin....

Suara Muhammadiyah

24 December 2024

Wawasan

Bermuhammadiyah Ala Abdul Mu’ti Oleh: Saidun Derani Pada kesempatan Silaturahmi dan Halal Bi....

Suara Muhammadiyah

24 April 2024

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (30) Oleh: Mohammad Fakhrudin (warga Muhammadiyah tinggal di M....

Suara Muhammadiyah

28 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah