Ketika ‘Aisyiyah Menjadikan Belanja Bagian dari Ibadah

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
472
Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Salmah Orbayinah

Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Salmah Orbayinah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Suasana Pasar Demangan, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Ahad pagi (14/12), tampak berbeda dari biasanya. Di sela hiruk-pikuk transaksi, kader-kader perempuan ‘Aisyiyah berkeliling menyapa pedagang dan pembeli. Mereka membagikan tas guna ulang, menempelkan stiker kampanye, sekaligus mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Aksi tersebut merupakan puncak kampanye “Pasarku Tempat Ibadahku”, sebuah inisiatif Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dengan dukungan Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LAZISMU) Pusat. Kampanye ini menjadi bagian dari Program Pasar Tradisional Bebas Plastik yang mengusung pendekatan keagamaan sebagai pintu masuk perubahan perilaku pedagang dan konsumen.

Program ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Pimpinan Wilayah, Daerah, hingga Cabang dan Ranting ‘Aisyiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta didukung oleh Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta. 

Koordinator Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP ‘Aisyiyah, Surria Dwiwahyu, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak terpisah dari nilai keagamaan.

“Menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Ketika pasar tradisional menjadi lebih bersih dan bebas dari plastik sekali pakai, kita tidak hanya melindungi bumi, tetapi juga menjalankan nilai keagamaan,” ujarnya. Bagi ‘Aisyiyah, imbuhnya, pasar merupakan ruang strategis untuk menanamkan kesadaran ekologis secara kolektif. 

Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa menjaga kebersihan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta membiasakan penggunaan kantong dan wadah guna ulang merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan sebagai khalifah di bumi. Menurutnya, merawat lingkungan adalah amanah bersama.

Salmah juga berharap kampanye ini dapat menjadi model praktik baik yang direplikasi di berbagai pasar tradisional di Indonesia.

“Semoga gerakan ini mampu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari ibadah, dan bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.

Selama sekitar dua jam, sekitar 40 kader ‘Aisyiyah yang telah mengikuti pelatihan lingkungan melakukan sosialisasi langsung di area pasar. Setiap kader menjangkau empat hingga lima pedagang atau pembeli, menjelaskan manfaat penggunaan tas guna ulang sekaligus dampak plastik sekali pakai terhadap lingkungan. 

Selain membagikan tas, panitia juga menyediakan tiga titik cantolan tas belanja guna ulang di beberapa sudut pasar. Fasilitas ini memungkinkan pengunjung yang lupa membawa tas untuk mengambil tas guna ulang secara gratis, sekaligus membuka ruang bagi pengunjung lain untuk menyumbangkan kantong belanjanya agar dapat digunakan bersama.

Supinah, pedagang cabai di Pasar Demangan, mengaku mulai membiasakan diri menawarkan pilihan kepada pembeli.

“Sekarang saya selalu tanya, perlu plastik atau tidak. Kalau pembeli bawa tas sendiri, pasar jadi lebih bersih. Saya siap mendukung karena manfaatnya untuk semua,” ujarnya, seraya berharap praktik sederhana ini dapat diikuti pedagang lainnya.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Kota Yogyakarta. Ketua Tim Kerja Kebersihan dan Keamanan Pasar, Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Kelik Novidwyanto, menyatakan bahwa kegiatan ini selaras dengan program MASJOS (Masyarakat Jogja Olah Sampah).

“Pasar adalah ujung tombak pengelolaan sampah kota. Keterlibatan masyarakat, seperti yang dilakukan ‘Aisyiyah hari ini, menjadi contoh praktik baik yang perlu direplikasi di pasar-pasar lain,” ujarnya.

Ke depan, ‘Aisyiyah akan melakukan monitoring dan evaluasi untuk memastikan keberlanjutan program. Melalui kampanye “Pasarku Tempat Ibadahku”, Pasar Demangan diharapkan menjadi model praktik baik—bahwa pasar bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang ibadah sosial, tempat nilai keagamaan diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan hidup bersama. (diko)

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KLATEN, Suara Muhammadiyah – Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Soloraya menye....

Suara Muhammadiyah

20 January 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Muhammadiyah Ria....

Suara Muhammadiyah

26 May 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhamamdiyah – Persoalan hal ihwal radikalisme menjadi salah satu kompleksit....

Suara Muhammadiyah

5 December 2023

Berita

PADANG, Suara Muhammadiyah - Suatu penghargaan dan apresiasi tinggi bagi organisasil pengelola zakat....

Suara Muhammadiyah

18 July 2024

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Madrasah Ibditaiyah Muhammadiyah (MIM) Digdaya Bolon, Colomadu, Kara....

Suara Muhammadiyah

18 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah