Ketika Anak Muda Tak Lagi Menemukan Dirinya di Pengajian Kita
Oleh: Agus Subeno, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Duren Sawit II Jakarta Timur, pemerhati Kebijakan Publik
Ada ironi yang patut kita renungkan. Di tengah semakin banyaknya masjid, pengajian, mubalig, dan kanal dakwah yang kita miliki, mengapa sebagian anak muda justru semakin jarang terlihat di ruang-ruang pengajian kita?
Jangan-jangan persoalannya bukan karena mereka tidak membutuhkan agama. Jangan-jangan kita yang belum cukup sungguh-sungguh memahami bagaimana mereka ingin belajar agama.
Anak muda hari ini hidup dalam dunia yang berbeda. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, komunitas, olahraga, kreativitas, kampus, pekerjaan, dan berbagai ruang digital. Mereka memiliki bahasa, cara berkomunikasi, dan cara mencari pengetahuan yang tidak selalu sama dengan generasi sebelumnya.
Maka, sebelum mengatakan “anak muda sekarang tidak mau mengaji”, mungkin kita perlu bertanya lebih jujur kepada diri sendiri: jangan-jangan cara kita mengajak mereka mengaji yang sudah tidak lagi menemukan pintu masuk ke dunia mereka.
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan setelah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais, menyampaikan lima pekerjaan rumah dakwah Muhammadiyah dalam Training of Trainer (TOT) Sekolah Cabang Ranting (SECARA), 22–24 Agustus 2026. Lima PR itu adalah meningkatkan kualitas dakwah, memperluas jangkauan, melakukan diversifikasi dakwah, memperkuat keterlibatan anak muda, dan menjalankan dakwah berdasarkan skala prioritas.¹
Kelima agenda tersebut sesungguhnya bertemu pada satu pertanyaan besar: bagaimana dakwah Muhammadiyah tetap menjadi gerakan yang hidup di tengah perubahan zaman?
Badan Pusat Statistik menempatkan pemuda pada rentang usia 16–30 tahun. Publikasi _Statistik Pemuda Indonesia 2025_ menunjukkan bahwa kelompok ini merupakan bagian sangat besar dari penduduk Indonesia dan memiliki posisi strategis dalam pembangunan bangsa. BPS bahkan menegaskan pentingnya penyadaran, pemberdayaan, dan pengembangan potensi pemuda.²
Bagi Muhammadiyah, pemuda bukan sekadar angka demografi. Mereka adalah calon penerus Persyarikatan. Karena itu, persoalannya bukan hanya berapa banyak anak muda yang hadir dalam pengajian Ahad pagi. Pertanyaan yang jauh lebih strategis adalah: berapa banyak anak muda yang merasa bahwa Muhammadiyah adalah rumah bagi masa depan mereka?
Di sinilah kita perlu sedikit bercermin. Kita sering bertanya, “Mengapa anak muda tidak datang ke masjid?” Tetapi mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Apakah masjid kita sudah menjadi tempat yang ingin mereka datangi?”
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan pengurus masjid, mubalig, atau generasi senior. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan agar pengalaman panjang generasi terdahulu bertemu dengan kreativitas generasi baru.
Sebab pengalaman adalah modal. Tetapi pengalaman tidak selalu berarti bahwa cara lama harus menjadi satu-satunya cara. Jangan-Jangan Jamaahnya Tidak Hilang, Hanya Berpindah Ruang. Kita sering mengira anak muda telah meninggalkan pengajian. Padahal boleh jadi mereka hanya berpindah ruang.
Mereka mencari pengetahuan agama melalui YouTube, Instagram, TikTok, podcast, WhatsApp, dan komunitas digital. Mereka bertanya kepada orang yang mereka anggap dekat dengan problem kehidupannya.
Mereka juga menghadapi persoalan yang berbeda: pekerjaan, karier, ekonomi, pasangan, keluarga, kesehatan mental, teknologi, kecerdasan buatan, pergaulan, hingga kegelisahan tentang masa depan.
Jika pengajian hanya hadir dalam bentuk ceramah satu arah dengan tema yang terasa jauh dari kehidupan mereka, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa mereka tidak membutuhkan agama. Bisa jadi agama tetap mereka cari, tetapi pintu masuknya berbeda.
Maka yang perlu berubah bukan substansi Islamnya. Al-Qur'an dan Sunnah tetap menjadi sumber utama. Nilai-nilai Muhammadiyah tetap kokoh. Yang perlu kita perbarui adalah cara menghadirkannya.
Masjid Jangan Hanya Menunggu
Muhammadiyah sesungguhnya memiliki modal dakwah yang luar biasa. Dalam proses enumerasi masjid, Muhammadiyah menyebut data DAPM sekitar 12.000 masjid, sementara Sistem Informasi Tabligh Muhammadiyah (SITAMA) baru mencatat sekitar 2.000. Muhammadiyah sendiri mengakui kesenjangan data tersebut dan menilai pendataan penting agar strategi dakwah lebih presisi. Angka itu bukan sekadar statistik.
Di balik setiap masjid ada potensi komunitas. Bayangkan jika masjid Muhammadiyah tidak hanya menjadi tempat salat dan pengajian, tetapi juga menjadi rumah pertumbuhan anak muda.
Ada olahraga. Ada diskusi. Ada kewirausahaan. Ada teknologi. Ada kreativitas. Ada kegiatan sosial. Ada produksi konten. Dan tentu saja ada kajian Islam.
Sepak bola, misalnya, dapat menjadi pintu dakwah. Bukan sekadar membuat kajian setelah bermain, tetapi membangun komunitas yang menghidupkan sportivitas, persaudaraan, kesehatan, disiplin, dan nilai-nilai Islam. Begitu pula Tapak Suci. Ia bukan sekadar bela diri, tetapi memiliki potensi menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, persaudaraan, dan dakwah.
Dakwah tidak selalu harus dimulai dengan mengatakan, “Mari mengaji.” Kadang dakwah dimulai dengan: “Mari bermain bersama.” Kemudian: “Mari belajar bersama.” Dan akhirnya: “Mari menjadi lebih baik bersama.”
Barangkali bagian ini yang paling perlu kita renungkan, terutama bagi mereka yang selama ini mengurus dakwah. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengajak anak muda mengikuti pengajian, tetapi lupa menanyakan pengajian seperti apa yang mereka butuhkan.
Jangan hanya berkata: “Ayo ikut pengajian.” Tetapi mulai berani mengatakan: “Ayo kita buat pengajian.” Biarkan mereka memilih tema. Biarkan mereka menjadi moderator. Biarkan mereka membuat desain. Biarkan mereka mengelola media sosial. Biarkan mereka membuat podcast. Biarkan mereka bertanya dengan bahasa mereka.
Tugas generasi senior bukan kehilangan mimbar. Justru tugasnya adalah mewariskan mimbar. Yang tua memberikan arah. Yang muda menemukan cara. Yang senior memberikan kedalaman. Yang muda menghadirkan kreativitas.
Dengan demikian, pemuda tidak berhenti sebagai jamaah. Mereka tumbuh menjadi aktivis, kader, mubalig, dan akhirnya menjadi generasi yang meneruskan gerakan.
Ngaji Dalam Versi Mereka
Kita tidak harus membuat sesuatu yang rumit. Misalnya, masjid dapat mencoba “Ngaji 30 Menit.” Sepuluh menit membicarakan problem nyata anak muda. Sepuluh menit menghadirkan perspektif Al-Qur'an, Sunnah, dan pemikiran Islam. Sepuluh menit berdiskusi: apa yang bisa kita lakukan setelah ini?
Temanya pun bisa dekat dengan kehidupan mereka: Bagaimana Islam memandang kegagalan? Bolehkah mengejar karier tanpa kehilangan akhirat? Bagaimana menghadapi pergaulan digital? Islam dan kesehatan mental. AI, pekerjaan, dan masa depan. Bisnis muda yang halal. Bagaimana menjadi Muslim yang tetap relevan di dunia digital? Itulah ngaji dalam versi mereka. Bukan berarti dakwah kehilangan prinsip. Justru prinsip tetap kuat, tetapi cara penyampaiannya menemukan bahasa baru.
Lima PR yang disampaikan Dahlan Rais menemukan relevansinya di sini. Kualitas dakwah harus diperkuat. Jangkauan harus diperluas. Bentuk dakwah harus didiversifikasi. Anak muda harus dilibatkan. Dan dakwah harus memiliki prioritas.Salah satu prioritas itu semestinya adalah generasi muda. Bukan karena generasi tua tidak penting. Justru karena tanpa regenerasi, keberhasilan dakwah hari ini akan berhenti sebagai sejarah.
Muhammadiyah tidak boleh hanya menghitung jumlah masjid dan banyaknya kegiatan. Kita juga perlu bertanya: berapa banyak anak muda yang berhasil kita sentuh, kita dengarkan, kita libatkan, dan akhirnya kita kaderkan? Sebab membangun masjid adalah investasi fisik. Membangun generasi adalah investasi peradaban.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat anak muda hanya sebagai jamaah yang tidak hadir. Lihatlah mereka sebagai dai yang belum menemukan ruangnya. Lihatlah mereka sebagai kader yang belum diberi kepercayaan. Lihatlah mereka sebagai generasi penerus yang sedang menunggu pintu dibuka.
Karena itu, dakwah Muhammadiyah tidak perlu meninggalkan jati dirinya untuk menjadi dekat dengan anak muda. Yang diperlukan adalah keberanian untuk menghadirkan jati diri itu dengan cara yang mereka pahami dan ruang yang mereka hidupi.
Jangan hanya meminta anak muda datang ke masjid. Hadirlah di dunia mereka. Dengarkan bahasa mereka. Beri mereka ruang. Dan biarkan mereka ikut menentukan bagaimana dakwah Muhammadiyah hadir di zamannya.
Sebab masa depan dakwah bukan hanya berada di tangan mereka yang hari ini berdiri di mimbar. Masa depan dakwah juga berada di tangan anak-anak muda yang hari ini mungkin belum kita lihat duduk di saf pengajian.

