Ketika Bukti Tak Lagi Penting
Oleh: Suko Wahyudi. Pegiat Literasi, tinggal di Yogyakarta
Sejarah kemanusiaan tidak selalu bergerak maju dalam garis yang lurus. Ia kerap berulang dalam pola yang sama, hanya dengan wajah dan konteks yang berbeda. Dalam pola itulah kita membaca kembali bagaimana kebenaran, yang seharusnya menjadi penuntun, justru sering diperlakukan sebagai ancaman. Apa yang direkam Al-Qur’an tentang respons kaum Quraisy terhadap wahyu bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin bagi kesadaran manusia sepanjang zaman.
Mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar?" (Al-Hijr [15]: 6-7)
Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu, yang muncul bukanlah dialog yang jernih, tetapi penolakan yang dibungkus ejekan. Tuduhan gila dan tuntutan agar malaikat diturunkan bukanlah ekspresi ketidaktahuan semata, melainkan tanda dari ketidaksiapan batin. Di sini, persoalan tidak lagi terletak pada ketiadaan bukti, tetapi pada keengganan untuk menerima kebenaran yang membawa konsekuensi.
Mereka tidak beriman kepadanya (Al Quran) dan sesungguhnya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu. Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, Tentulah mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir". (Al-Hijr [15]: 14-16)
Al-Qur’an bahkan menggambarkan bahwa sekalipun manusia diperlihatkan tanda-tanda yang melampaui batas pengalaman, penolakan tetap akan terjadi. Ini mengisyaratkan bahwa persoalan kebenaran tidak berhenti pada ranah rasional, tetapi menyentuh dimensi yang lebih dalam, yakni etika batin. Kesombongan, kepentingan, dan rasa cukup terhadap diri sendiri sering kali menjadi penghalang yang lebih kuat daripada kurangnya bukti.
Dalam konteks kekinian, gejala ini menemukan bentuknya dalam apa yang disebut sebagai era post truth. Fakta tidak lagi menjadi rujukan utama dalam membentuk opini publik. Kebenaran sering kali dikalahkan oleh emosi, narasi, dan kepentingan. Orang tidak lagi bertanya apa yang benar, tetapi apa yang sesuai dengan keyakinannya.
Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Informasi yang tidak terverifikasi dapat dengan mudah dipercaya selama ia sejalan dengan pandangan tertentu. Sebaliknya, fakta yang kuat justru ditolak jika dianggap mengganggu kenyamanan. Dalam situasi seperti ini, kebenaran kehilangan otoritasnya, bukan karena ia lemah, tetapi karena manusia tidak lagi menjadikannya sebagai pijakan.
Jika ditarik lebih jauh, mentalitas ini sesungguhnya bukan hal baru. Ia adalah kelanjutan dari pola lama yang telah berlangsung sejak masa para nabi. Perbedaannya hanya pada medium. Dahulu penolakan disampaikan secara langsung dan terbuka. Kini ia hadir dalam bentuk yang lebih kompleks melalui arus informasi yang deras dan sering kali tidak terkendali.
Tuntutan kaum Quraisy agar malaikat diturunkan dapat dibaca sebagai simbol dari skeptisisme yang kehilangan kejujurannya. Ia tampak sebagai upaya mencari bukti, tetapi sesungguhnya merupakan cara untuk menunda dan menolak. Dalam konteks modern, pola ini dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, ketika orang mengajukan pertanyaan bukan untuk memahami, tetapi untuk mempertahankan posisi yang sudah dipegang.
Kebenaran pada dasarnya selalu membawa konsekuensi. Ia menuntut perubahan, kejujuran, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Tidak semua orang siap menghadapi tuntutan ini. Maka, penolakan sering kali menjadi pilihan yang lebih mudah, meskipun pada akhirnya menyesatkan.
Al-Qur’an memberikan isyarat bahwa tidak semua tuntutan manusia harus dipenuhi. Permintaan akan turunnya malaikat bukanlah jalan menuju keimanan, melainkan batas dari kesempatan. Manusia telah diberi cukup tanda untuk berpikir dan merenung. Ketika tanda-tanda itu diabaikan, maka yang datang bukan lagi penjelasan, tetapi konsekuensi.
Di tengah arus informasi yang kian kompleks, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa wahyu Ilahi akan tetap terjaga. Ini memberikan dasar optimisme bahwa di balik berbagai distorsi, kebenaran tidak pernah benar-benar hilang. Namun, penjagaan itu tidak serta merta menjamin penerimaan. Di sinilah letak ujian manusia.
Pertanyaan yang kemudian menjadi penting adalah apakah kita benar-benar mencari kebenaran, atau sekadar mencari pembenaran. Dalam masyarakat yang dibanjiri informasi, pertanyaan ini menjadi semakin relevan. Tanpa kejujuran batin, pengetahuan justru dapat memperkuat kesalahan.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan sekadar tambahan bukti, tetapi kejernihan hati. Sebab kebenaran tidak pernah benar-benar tersembunyi. Ia hadir dalam berbagai bentuk dan dapat diakses oleh siapa saja. Yang menjadi persoalan adalah apakah manusia bersedia menerimanya, atau justru menolaknya karena alasan yang dibangun sendiri.
Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya. Ia mungkin ditolak, diabaikan, atau bahkan dilawan, tetapi tidak pernah benar-benar hilang. Yang berubah hanyalah sikap manusia terhadapnya. Dan di situlah letak ujian terbesar, yakni keberanian untuk tunduk pada kebenaran atau terus bertahan dalam penolakan.
Dalam dunia yang semakin bising oleh klaim dan opini, keberanian untuk jujur terhadap kebenaran menjadi semakin langka. Namun justru di situlah harapan itu berada. Sebab, masa depan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling keras bersuara, tetapi oleh siapa yang paling tulus dalam mencari dan menerima kebenaran.
