Ketika Takwa Diuji oleh Cara Kita Memperlakukan Manusia

Suara Muhammadiyah

17 October 2026

95
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ketika Takwa Diuji oleh Cara Kita Memperlakukan Manusia

Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Ada saatnya manusia merasa begitu dekat dengan Allah ketika berdoa, tetapi justru begitu jauh dari nilai-nilai ketuhanan ketika berhadapan dengan sesamanya. Kita mampu menangis dalam sujud, tetapi belum tentu mampu menahan amarah ketika berbeda pendapat. Kita fasih berbicara tentang keikhlasan, tetapi terkadang sulit menerima ketika kepentingan pribadi tidak terpenuhi. Kita menyerukan persaudaraan, tetapi mungkin tanpa sadar melukai hati orang-orang yang berjalan bersama kita. Di titik inilah muncul pertanyaan yang layak direnungkan, sudahkah ketakwaan benar-benar mengubah cara kita memperlakukan manusia?

Al-Qur'an menghadirkan jawaban yang menggugah melalui Surah At-Talaq ayat 1–7. Menariknya, ayat-ayat yang dikenal luas sebagai sumber pengharapan tentang jalan keluar dan rezeki justru berada dalam surah yang membicarakan perceraian. Sebuah keadaan ketika hubungan manusia mengalami keretakan, emosi mudah menguasai, dan hak-hak pihak yang lemah berpotensi terabaikan. Seolah-olah rangkaian ayat ini mengingatkan bahwa kualitas ketakwaan tidak hanya tampak dalam ketenangan beribadah, tetapi juga dalam keadilan ketika kehidupan menjadi tidak menyenangkan.

Allah berfirman, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (QS. At-Talaq [65]: 2). Kemudian dilanjutkan, “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. At-Talaq [65]: 3). Dua penggalan ayat ini begitu akrab di telinga kita. Ia dibaca ketika kesulitan ekonomi datang, ketika usaha menghadapi ketidakpastian, atau ketika harapan terasa semakin jauh. Tidak ada yang keliru dengan menjadikannya sumber kekuatan spiritual. Namun, ada kedalaman makna yang dapat terlewat apabila kita hanya memahaminya sebagai janji kemudahan memperoleh kekayaan.

Sebelum menyampaikan janji tersebut, Allah memerintahkan agar perceraian dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan idah, menjaga hak-hak terkait, dan memperlakukan pasangan secara patut. Bahkan, Allah menegaskan agar hubungan dipertahankan dengan cara yang baik atau diakhiri dengan cara yang baik. Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat kedua, menjelaskan pentingnya perlakuan yang baik, baik ketika memilih rujuk maupun ketika berpisah. Dengan demikian, janji jalan keluar hadir berdampingan dengan tuntutan tanggung jawab moral.

Di sinilah kita menemukan pelajaran yang mendalam, takwa bukan jalan pintas untuk mendapatkan semua yang diinginkan, melainkan jalan hidup yang menuntun manusia tetap berada dalam kebenaran, termasuk ketika keinginannya tidak terpenuhi. Orang bertakwa bukanlah manusia yang tidak pernah kecewa. Ia tetap dapat terluka, kehilangan, dan menghadapi kegagalan. Namun, kekecewaan tidak memberinya hak untuk menzalimi, dan penderitaan tidak menjadi pembenaran untuk mengabaikan kewajiban.

Pesan tersebut semakin nyata dalam ayat keenam. Allah melarang tindakan menyakiti perempuan yang telah diceraikan dengan maksud menyulitkan kehidupan mereka. Ayat yang sama mengatur tempat tinggal, nafkah ketika hamil, serta imbalan penyusuan. Ketentuan hukumnya memiliki perincian dalam fikih, tetapi pesan moralnya jelas, bahkan ketika suatu hubungan berakhir, tanggung jawab dan penghormatan terhadap hak manusia tidak boleh diabaikan. Islam tidak membenarkan kesewenang-wenangan hanya karena seseorang mempunyai kedudukan atau kekuasaan lebih besar.

Bagi kita yang mengabdikan diri dalam dakwah dan persyarikatan, pesan ini seharusnya menggugah kesadaran. Betapa mungkin sebuah organisasi memiliki program yang baik, tetapi sebagian orang di dalamnya masih terluka oleh cara kita berkomunikasi. Betapa mungkin kita sibuk membangun amal usaha, tetapi kurang memberikan perhatian kepada mereka yang bekerja dalam kesunyian. Betapa mungkin kita berbicara panjang tentang ukhuwah, tetapi belum sepenuhnya menyediakan ruang bagi perbedaan pendapat yang disampaikan dengan tulus.

Tentu, QS. At-Talaq tidak sedang membicarakan tata kelola organisasi secara langsung. Namun, nilai keadilan, amanah, dan larangan menyakiti yang terkandung di dalamnya dapat menjadi cermin bagi kehidupan bersama. Semangat Islam Berkemajuan semestinya tidak berhenti pada kemajuan kelembagaan, ilmu pengetahuan, atau pelayanan sosial. Kemajuan itu juga perlu terlihat dalam keluhuran akhlak, penghargaan terhadap martabat manusia, dan keberanian memperbaiki diri.

Ayat ketiga kemudian mengingatkan tentang tawakal: “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” Tawakal bukan alasan untuk berhenti bekerja. Surah yang sama justru memerintahkan tindakan konkret, menghitung masa idah, menunaikan nafkah, dan bermusyawarah secara patut. Kita diajarkan untuk berusaha dengan penuh tanggung jawab, sambil menyadari bahwa tidak seluruh hasil berada dalam kendali manusia.

Kesadaran ini penting bagi para penggerak dakwah. Tidak semua kebaikan segera menghasilkan pengakuan. Tidak semua pengorbanan memperoleh penghargaan. Ada kader yang bekerja bertahun-tahun tanpa dikenal luas. Ada pendidik yang menanamkan nilai tanpa sempat menyaksikan seluruh buahnya. Ada penggerak kemanusiaan yang terus melayani meskipun tenaganya terbatas. Pengabdian semacam itu mengingatkan kita bahwa nilai sebuah amal tidak selalu dapat diukur melalui tepuk tangan, jabatan, atau keberhasilan yang tampak.

Pada akhir ayat ketujuh, Allah menegaskan, “Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” Janji ini menghadirkan harapan, bukan kepastian bahwa setiap persoalan selesai menurut jadwal yang kita kehendaki. Kita tidak mengetahui kapan dan bagaimana pertolongan Allah datang. Namun, ketidaktahuan itu tidak harus melahirkan keputusasaan. Ia dapat menjadi ruang bagi kesabaran, ikhtiar, dan keyakinan yang semakin matang.

Mungkin sudah waktunya kita memperbarui cara memahami keberhasilan dakwah. Keberhasilan bukan hanya ketika jumlah kegiatan bertambah, bangunan berdiri, atau pengaruh organisasi meluas. Keberhasilan juga hadir ketika seorang pemimpin semakin rendah hati, ketika perbedaan diselesaikan tanpa merendahkan martabat, ketika amanah dijalankan tanpa mencari keuntungan pribadi, dan ketika orang yang lemah merasa terlindungi.

Akhirnya, Surah At-Talaq mengajak kita melakukan perjalanan dari pengharapan menuju tanggung jawab, dari doa menuju tindakan, dari keyakinan menuju akhlak. Sebab, boleh jadi salah satu ujian terberat ketakwaan bukanlah bagaimana kita menghadapi orang yang mencintai kita, melainkan bagaimana kita tetap berlaku adil kepada orang yang mengecewakan kita.

Dan barangkali, sebelum terus-menerus meminta Allah membukakan jalan keluar bagi kehidupan kita, ada pertanyaan yang perlu kita ajukan dalam kesunyian hati, sudahkah kehadiran kita menjadi jalan kebaikan, atau justru menambah kesulitan bagi kehidupan orang lain?

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Aktualisasi Diaspora Kader Menuju Kader Keumatan Oleh: Aulia Safitri, A.Md.Kes, Anggota Tim Instruk....

Suara Muhammadiyah

27 January 2026

Wawasan

Kebijakan Afirmasi Oleh: Iu Rusliana, Penulis adalah Dosen Program Magister Manajemen Uhamka Jakart....

Suara Muhammadiyah

12 September 2025

Wawasan

Guru dan Kebiasaan Hebat Anak Oleh: Afridatul Laela Amar, Guru PAUD Aisyiyah Dudukan Tonjong Brebes....

Suara Muhammadiyah

21 November 2024

Wawasan

Oleh: Suko Wahyudi Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, iman dan amal shaleh adalah fondasi pen....

Suara Muhammadiyah

17 December 2024

Wawasan

Pendidikan dan "Gelombang Olok-Olok" di Media Sosial Oleh: Prof. Dr. Abdul Rahman A.Ghani  Ba....

Suara Muhammadiyah

11 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah