Oleh: Prof Dr Dadang Kahmad, MSi, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ . قَالَ اللهُ تَعَالَى,! نَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Alhamdulillah, marilah kita panjatkan segala puji dan syukur ke hadhirot Allah SwT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita di pagi yang indah ini bisa berkumpul bersama menikmati hangatnya sinar mentari, dan segarnya udara di pagi hari sambil mengumandangkan takbir tahmid dan tahlil sebagai ekspresi mengagungkan Ilahi, serta telah melaksanakan shalat sunat dua raka’at Idul Adha 1447 H sebagai pendekatan diri kepada Allah SwT, Tuhan Yang Maha Kuasa.
Kita patut bersyukur kepada Allah SwT karena telah dipanjangkan usia di anugerahi hidup sehat, sehingga sampai bisa menikmati kembali Iedul Adha tahun 1447 H ini. Tidak terasa waktu lekas berlalu, masa berjalan cepat bergerak bagikan angin bertiup. Begitu singkat waktu kita rasakan, pertanda betapa akhir perjalanan hidup semakin dekat, umur kita semakin pendek, memangkas kesempatan berlama tinggal di dunia dan kuburan yang kita benci kian hari kian mendekat.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Pada Idul Adha yang penuh berkah ini, kita diingatkan kembali pada sebuah kisah agung yang menjadi fondasi spiritual umat Islam, yaitu keteladanan Nabi Ibrahim AS. Beliau adalah sosok yang diuji dengan berbagai ujian berat, namun tetap menunjukkan keimanan dan ketaatan total kepada Allah SwT.
Puncak ujian itu adalah ketika beliau diperintahkan untuk menyembelih putra yang dikasihinya, Nabi Ismail AS. Peristiwa luarbiasa ini bukan sekadar kisah pengorbanan, tetapi juga simbol keikhlasan, ketundukan, dan kepercayaan penuh kepada Allah SwT. gambaran sosok personal yang memiliki kematangan spiritualitas yang tidak ada bandingannya.
Kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya merupakan contoh teladan yang baik bagi kita semua, teladan dalam keimanan yang kuat, teladan dalam ketaatan melaksanakan perintah Allah tanpa ragu sedikitpun. Sedikitnya ada empat hal yang bisa kita ambil sebagai uswah hasanah dalam kehidupan kita.
Pertama Nabi Ibrahim memiliki spiritualitas keagamaan yang tinggi sehingga dengan Ikhlas melakukan penyerahan diri mutlak kepada sang pencipta. Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita bahwa puncak spiritualitas adalah kepatuhan totalitas tanpa ragu kepada Allah SwT:
إِذۡ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسۡلِمۡۖ قَالَ أَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
"Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: 'Tunduk patuhlah!' Ibrahim menjawab: 'Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam'." (QS. Al-Baqarah: 131)
Spiritualitas seperti inilah yang membuat nabi Ibrahim mampu meletakkan pisau di leher putranya demi cinta dan taat kepada perintah Sang Khalik, pencipta alam semesta melebihi cinta beliau kepada apapun yang dimilikinya.
Kedua Nabi Ibrahim memiliki kesadaran sosial yang melampaui egoisme dirinya. Ajaran berkurban bukan tentang pengorbanan darah atau daging khewan yang disembelih, tapi berisi ajaran tentang kepedulian kepada sesama sebagai salah satu bagian dari indicator ketaqwaan kepada Allah SWT:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya..." (QS. Al-Hajj: 37)
Melalui pembagian daging kurban kepada masyarakat, kita diingatkan untuk menghilangkan tembok pemisah antara orang kaya dan orang miskin. Diingatkan pula untuk membagi kekayaan yang dimiliki kepada orang yang membutuhkan sebagai bagian dari kesadaran bahwa kita itu hidup Bersama dalam masyarakat.
Ketiga Nabi Ibrahim memiliki Kecerdasan Intelektual yang mampu melahirkan keterbukaan melalui dialog. Nabi Ibrahim tidak memaksakan perintah Allah secara otoriter kepada anaknya. Tetapi beliau mengajak dialog secara terbuka dan demokratis kepada Ismail sebagai sebuah bentuk kecerdasan emosional dan intelektual yang tinggi:
Allah SwT berfirman dalam Al-Qur’an:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ
"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!'" (QS. Ash-Shaffat:102)
Sikap kesediaan untuk berdialog dan keterbukaan menjadi pelajaran bagi kita, para orang tua untuk membangun komunikasi yang sehat dan cerdas dengan generasi muda agar terjadi interaksi sehat antar anggota keluarga. Begitu pula anak akan terdidik untuk bersikap demoratis terbuka dan mampu menyerap inspirasi positif.
Ke empat Nabi Ibrahim memiliki moralitas yang terpuji: Ibadah Kurban pada hari raya Idul Adha adalah simbol perjuangan melawan hawa nafsu. Hawa Nafsu kebinatangan. Nabi Ibrahim berhasil melawan godaan setan yang merayu agar membatalkan perintah Tuhan tapi Nabi Ibrahim tidak bergeming tetap melaksanakan perintah Allah yang ia Yakini kebenarannya. Inilah integritas moral yang sesungguhnya. Allah berfirman:
۞وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِۦ لَإِبۡرَٰهِيمَ إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ
"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci." (QS. Ash-Shaffat: 83-84)
Ma’asyiral Muslimin
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Sekali lagi khatib tegaskan bahwa Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih ego, keserakahan, dan individualisme yang dimiliki oleh kita semua. Dalam konteks kehidupan modern, terutama di era digital saat ini, tantangan egoisme dan keserakahan semakin kompleks dan menguat. Sehingga banyak orang yang tidak peduli dengan orang lain.
Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi telah membuat manusia makin dekat dengan orang yang jauh, tetapi kadang makin jauh dengan orang yang dekat. Kita mudah terhubung dengan dunia luar melalui media sosial, tetapi sering lalai terhadap kondisi tetangga di sekitar. Media sosial melahirkan sikap individualistis dan anti sosial, untuk itu mendalami kisah nabi Ibrahim akan melahirkan kecerdasan sosial walaupun kita sibuk bermedia sosial.
Selayaknya di era digital ini kita tetap mempunyai kepedulian sosial, dalam hal ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti: Membantu sesama melalui donasi online yang amanah, Menyebar luaskan informasi yang benar dan bermanfaat, Menghindari berita hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian, gunakan teknologi untuk memperkuat ukhuwah, bukan sebaliknya dipake untuk memecah belah
Kurban yang kita lakukan hari ini juga mengandung pesan kuat tentang distribusi keadilan sosial. Daging kurban dibagikan kepada yang membutuhkan, sebagai bentuk solidaritas dan empati terhadap mereka yang memerlukan uluran bantuan di mana kondisi hari ini masyarakat kurang mampu makin banyak jumlahnya seiring dengan kondisi ekonomi semakin kurang baik. Krisis Global mempengaruhi kondisi ekonomi nasional.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Untuk itu, marilah kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk memperkuat kepedulian sosial kita, baik di dunia nyata maupun di dunia digital. Jangan sampai kita menjadi pribadi yang aktif di media sosial, tetapi pasif dalam membantu sesama. Aktif di dunia digital tapi pasif di dunia nyata.
Kisah nabi Ibrahim dan Idul Adha memberi Pelajaran kepada kita bahwa beriman itu harus dinyatakan dalam bentuk aktifitas positif. Iman yang hidup adalah keyakinan yang dijawantahkan dalam bentuk amal saleh atau amal yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, tetangga serta masyarakat serta bermanfaat bagi kelestarian alam semesta. Iman yang hidup seseorang tidak hanya memiliki kesolehan individual tapi juga ia memiliki kesolehan sosial. Qurban adalah salah satu bentuk kesalehan sosial yang berimplikasi kepada keberagamaan kita.
Hadirin yang berbahagia
Di akhir khutbah ini, khatib ingin mengajak kita semua memanfaatkan kesempatan yang ada untuk selalu berbuat baik. Mumpung masih diberi kesempatan hidup oleh Allah yang entah sampai kapan sisa umur ini masih ada. Sungguh alangkah indahnya jika umur yang tersisa ini kita gunakan untuk hal hal yang bermanfaat sehingga menjadi umur yang dipenuhi kasih sayang Alloh, umur yang dipenuhi barokah Alloh. Harta yang kita punyai, mari kita gunakan untuk kepentingan kebaikan, kita gunakan untuk meraih kesenangan di akherat yang abadi. Jangan sampai kita menyesal berkepanjangan nanti ketika kita berada di alam keabadian.
Untuk menguatkan keimanan kita agar menjadi iman yang hidup marilah kita memanjatkan do’a kehadirat Allah SwT. Dan kita yakin do’a ini akan diamini para malaikat juga akan dikabulkan Allah SwT.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.
Sumber: Majalah SM Edisi 09/2026

