Khutbah Jum’at: Di Balik Kemarau, Rahmat Allah Dinanti

Suara Muhammadiyah

20 August 2026

221
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Khutbah Jum’at: Di Balik Kemarau, Rahmat Allah Dinanti

Oleh: Muhammad DN, S.Ag, MHI, Ketua PDM Hulu Sungai Tengah-Kalimantan Selatan

Khutbah Pertama

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، 

ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. 

من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.

 أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله

وَمَنْ تَبِعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ،.اللهم صل وسلم وبارك على محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين

أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

وَنَزَّلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ مُّبَٰرَكٗا فَأَنۢبَتۡنَا بِهِۦ جَنَّٰتٖ وَحَبَّ ٱلۡحَصِيدِ

Jamaah Sidang Jumat rahimakumullah!

Hari ini, marilah sejenak kita merenungkan sesuatu yang begitu dekat dengan kehidupan. Bukan sesuatu yang jauh. Bukan sesuatu yang hanya terdengar dari berita. Ia hadir di sekitar kita, mengalir di antara kehidupan, menghidupkan tanah, dan menghidupi makhluk. Ia adalah air. 

Selama air masih mengalir dari keran, sering kali nilainya terasa biasa.Selama sumur masih berisi, keberadaannya jarang direnungkan. Selama sungai masih mengalir, manusia terkadang lupa bahwa setiap tetesnya merupakan nikmat Allah. Namun ketika panas datang berkepanjangan, barulah terasa betapa berharganya setetes air. Pantaslah Allah berfirman:

وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّۚ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ ٠ 

“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman” (QS.Al-Anbiya: 30)

Tanpa air, tanah perlahan retak. Rumput mulai menguning. Sungai kehilangan derasnya. Sumur perlahan menyusut. Sawah kering kerontang. Petani mulai menatap langit dengan penuh harap. Peternak mulai memikirkan persediaan air bagi hewan ternaknya. Masyarakat mulai menghitung persediaan air bersih. Dan ketika kemarau semakin panjang, ancaman kebakaran hutan dan lahan pun semakin nyata. Di tengah panas yang membakar, manusia kembali belajar bahwa ada nikmat yang sering kali baru terasa nilainya ketika mulai berkurang.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah!

Secara ilmiah, datangnya musim kemarau bukanlah sesuatu yang asing. Indonesia memiliki siklus musim yang dipengaruhi oleh pola angin, dinamika atmosfer, dan berbagai fenomena alam. Ada musim hujan. Ada musim kemarau. Ada awan yang datang.Ada awan yang pergi.Ada tanah yang basah.Ada tanah yang mengering. Semua itu merupakan bagian dari sunnatullah, ketetapan Allah yang berjalan melalui hukum-hukum alam yang telah Dia ciptakan. Karena itu, Islam tidak pernah mengajarkan untuk meninggalkan ilmu.

Memahami cuaca adalah ikhtiar. Begitu juga memahami musim, menjaga sumber air dan menggunakannya secara bijaksana adalah ikhtiar. Mencegah kebakaran hutan dan lahan adalah ikhtiar. Namun, seorang mukmin tidak berhenti pada sebab-sebab lahiriah. Tidak pantas mengatakan bahwa setiap kemarau pasti merupakan hukuman Allah. Tidak pula gegabah memastikan bahwa setiap musibah pasti terjadi karena dosa seseorang. Bisa jadi ini adalah ujian sekaligus ada hikmah yang terpendam. 

Terkadang Allah menghadirkan kegelisahan agar hati kembali mencari ketenangan kepada-Nya. Ada kalanya langit yang belum menurunkan hujan mengajarkan manusia untuk lebih banyak mengangkat tangan. Sering kali bumi yang mengering mengajarkan betapa lemahnya manusia. Dan ada waktu ketika berkurangnya air menjadi pengingat bahwa selama ini hidup telah dikelilingi oleh nikmat yang begitu banyak, tetapi sering lupa disyukuri.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah!

Berdasarkan informasi BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi memasuki puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026. Curah hujan pada tahun ini juga diprakirakan berada di bawah normal. Karena itu, kewaspadaan terhadap kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan perlu ditingkatkan. Inilah bagian dari ilmu dan ikhtiar. Namun di atas seluruh ikhtiar tersebut, ada keyakinan yang tidak boleh lepas dari hati: Yang menggenggam hujan adalah Allah. BMKG membaca tanda-tanda alam. Para ahli menyusun prakiraan.Ilmu membantu manusia memahami kemungkinan. Namun Allah-lah yang menentukan. Sebab manusia hanya mampu membaca tanda, sedangkan Allah memiliki seluruh ketetapan. Allah Swt berfirman:

ٱللَّهُ ٱلَّذِي يُرۡسِلُ ٱلرِّيَٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابٗا فَيَبۡسُطُهُۥ فِي ٱلسَّمَآءِ كَيۡفَ يَشَآءُ وَيَجۡعَلُهُۥ كِسَفٗا فَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ يَخۡرُجُ مِنۡ خِلَٰلِهِۦۖ فَإِذَآ أَصَابَ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ 

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira” (QS. Ar-Rum: 48)

Hadirin, Jamaah Jumat rahimakumullah!

Air juga mengajarkan tentang amanah. Karena itu, Allah Swt tidak menciptakan bumi untuk dirusak. Alam bukan sekadar sesuatu yang boleh dimanfaatkan tanpa batas. Ia adalah titipan yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Karenanya, jangan karena air masih mengalir, lalu dibiarkan terbuang sia-sia. Jangan karena sumur masih penuh, lalu digunakan tanpa batas. Jangan karena sungai masih mengalir, lalu dicemari. Jangan karena hutan terlihat luas, lalu merasa bebas membakarnya. Dan setiap amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Maka, marilah kita mulai dari perkara sederhana.

Gunakan air secukupnya. Jangan boros. Jaga sungai dari sampah. Jaga sumber mata air. Jangan membuka lahan dengan membakar tanpa kendali. Ajarkan kepada anak-anak bahwa menjaga alam bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga bagian dari rasa syukur kepada Allah. Sebab orang yang bersyukur bukan hanya pandai mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga mampu menjaga nikmat yang telah Allah titipkan.

Betapa indah jika air yang mengalir tidak hanya membasahi bumi, tetapi juga mengingatkan hati kepada Sang Pemberi. Sangat elok jika hujan yang jatuh dari langit tidak hanya menghidupkan tanah, tetapi juga menghidupkan kesadaran. Bersyukur atas melimpahnya air jika hujan mengguyuri lingkungan kita. Dan betapa syahdunya jika kemarau yang panjang tidak hanya membuat manusia menengadah kepada langit, tetapi juga membuat hati semakin tunduk kepada Allah. Karena kemarau pun memiliki hikmah dan manfaat yang tak terkira. 

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أُوْصِيْكُمْ بِنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Kemarau memanjang dan hujan belum juga turun, selain melakukan ikhtiar menjaga air dan lingkungan, Islam mengajarkan untuk kembali mengetuk pintu langit melalui salat istisqa, yaitu salat memohon hujan kepada Allah Swt. Salat ini merupakan bentuk kerendahan hati dan pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Karena itu, ketika bumi mulai mengering, sungai menyusut, dan langit belum menurunkan hujan, marilah memperbanyak istigfar, memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbanyak sedekah, serta memohon kepada-Nya agar diturunkan hujan yang membawa manfaat. Sebab ketika ikhtiar manusia telah sampai pada batasnya, pintu doa tidak pernah tertutup. Semoga Allah memudahkan kita untuk dapat melaksanakannya. Amin ya rabbal alamin.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

ٱللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

ٱللّٰهُمَّ ٱغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ

ٱللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلتُّقَىٰ وَٱلْعَفَافَ وَٱلْغِنَىٰ.

ٱللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا ٱلَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا ٱلَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا ٱلَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

ٱللّٰهُمَّ ٱجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ ٱلصَّالِحِينَ، وَٱجْعَلْنَا مِنَ ٱلَّذِينَ يُحَافِظُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُفْسِدُونَ فِيهَا.

ٱللّٰهُمَّ جَنِّبْنَا ٱلْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَٱحْفَظْ بِلَادَنَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَبَلَاءٍ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ




Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Khutbah

Oleh: Najmuddin Saifullah اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَ�....

Suara Muhammadiyah

26 October 2023

Khutbah

Oleh: Fadhlurrahman, MPd Dosen Pendidikan Agama Islam, FAI UAD, Alumni Pendidikan Ulama’ Tarj....

Suara Muhammadiyah

4 January 2024

Khutbah

Khutbah Jum'at: Membangun Masyarakat yang Adil-Makmur  Oleh: Wahjudin, Kader Muhammadiyah Rant....

Suara Muhammadiyah

28 August 2025

Khutbah

Oleh: Prof Dr Dadang Kahmad, MSi, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah اَلْحَمْدُ ِللهِ....

Suara Muhammadiyah

21 May 2026

Khutbah

Oleh: dr H Agus Taufiqurrohman, MKes., SpS Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah إِنَّ الْحَ....

Suara Muhammadiyah

4 April 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah