Oleh: Wahjudin, Kader Muhammadiyah Podosari Kesesi Pekalongan
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه . اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. فَيَا عِبَادَاللهُ اُوصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاالله . اِتَّقُواللهَ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن . أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ . يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SwT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan adalah fondasi kehidupan, yang menuntun manusia menjalani perannya di dunia dengan benar dan bertanggung jawab.
Pada momentum peringatan Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad ﷺ, kita diingatkan akan peristiwa agung yang bukan hanya mukjizat perjalanan fisik dan spiritual, tetapi juga pesan mendalam tentang tugas manusia sebagai hamba dan khalifah di muka bumi. Isra’ Mi’raj menegaskan bahwa iman harus melahirkan amal, dan kedekatan kepada Allah harus berdampak pada perbaikan kehidupan di dunia.
Allah SWT berfirman:
سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ disebut sebagai ‘abdihi—hamba-Nya. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan tertinggi manusia terletak pada penghambaan kepada Allah. Namun, penghambaan itu tidak menjauhkan manusia dari dunia, justru menguatkan peran dan tanggung jawabnya di tengah kehidupan.
Puncak dari Isra’ Mi‘raj adalah perintah shalat, yang menjadi tiang agama dan sumber kekuatan spiritual. Shalat bukan hanya ritual, tetapi sarana pembentukan karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Shalat mendidik manusia agar jujur, amanah, dan adil dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, pekerja, orang tua, maupun anggota masyarakat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ، فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنَ، وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنَ
“Shalat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama. Dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan agama.” (HR. Al-Baihaqi)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Isra’ Mi‘raj mengajarkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah (ḥablun minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (ḥablun minannas). Manusia diciptakan bukan hanya untuk beribadah secara individual, tetapi juga untuk memakmurkan bumi, menegakkan keadilan, menjaga lingkungan, dan membangun peradaban.
Spirit Islam menuntun manusia agar bekerja dengan niat ibadah, memimpin dengan amanah, berdagang dengan jujur, dan berilmu untuk kemaslahatan umat. Seorang muslim yang benar imannya akan menghadirkan nilai-nilai Isra’ Mi‘raj dalam setiap peran hidupnya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Marilah kita jadikan peringatan Isra’ Mi‘raj sebagai momentum muhasabah. Mestinya shalat kita melahirkan dan membentuk akhlak dan tanggung jawab sosial. Mestinya juga iman kita melahirkan kerja-kerja nyata bagi kemaslahatan umat.
Mari kita perkuat shalat, luruskan niat, dan jalankan peran hidup sesuai tuntunan Islam. Jadilah manusia yang dekat dengan Allah sekaligus bermanfaat bagi sesama. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat bagi kehidupan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَ الْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنِ وَ لَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ, أَشْهَدُ أنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْنِيْ وَ إِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ, وَ لَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وِالمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إنَّكَ أَنْتَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اللَّهُمَّ أَمِتْنَا عَلَى الإِسْلَامِ وَلإيْمَانِ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَلَمِيْنَ، أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ

