Oleh: Dr Eko Harianto, MSI, Dosen Prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah Purworejo
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Menjaga lingkungan, menjaga kesehatan jiwa. Kalimat ini sederhana, namun sarat makna spiritual dan psikologis. Islam tidak memisahkan antara ibadah kepada Allah dengan tanggung jawab sosial dan ekologis. Menjaga lingkungan bukan hanya urusan fisik atau sosial, tetapi juga bagian dari penghayatan iman dan ketenangan batin.
Mari kita renungkan, bagaimana keadaan jiwa kita ketika kita hidup di tengah lingkungan yang kotor, sumpek, dan tidak teratur? Ilmu psikologi modern telah membuktikan adanya hubungan kuat antara lingkungan fisik dengan kesehatan mental. Kekacauan di sekitar kita dapat memicu kekacauan dalam pikiran. Ruang yang semrawut dan penuh sampah dapat meningkatkan rasa cemas, stres, dan perasaan helplessness atau ketidakberdayaan. Sebaliknya, lingkungan yang bersih, tertata, dan hijau memberikan efek menenangkan, meningkatkan mood, dan bahkan memperbaiki kemampuan konsentrasi.
Dalam perspektif Psikologi Islam, fenomena ini memiliki akar yang sangat dalam. Manusia adalah entitas yang terdiri dari jasad dan ruh, lahir dan batin, yang saling terhubung secara integral. Konsep fitrah tidak hanya merujuk pada kecenderungan manusia kepada Tauhid, tetapi juga pada kecenderungannya untuk mencintai keindahan, keteraturan, dan keseimbangan. Allah adalah Al-Jamil (Maha Indah) dan mencintai keindahan. Oleh karena itu, jiwa yang sehat (an-nafs al-muthma'innah) secara alami akan tertarik pada lingkungan yang mencerminkan sifat-sifat keindahan dan keseimbangan Ilahi tersebut.
Allah SwT berfirman :
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ .
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf [7]: 56)
Ayat ini mengandung dua pesan penting: pertama, larangan untuk merusak bumi –baik secara fisik seperti pencemaran dan penebangan liar, maupun secara moral seperti kerakusan dan ketidakpedulian. Kedua, ayat ini menegaskan bahwa kebaikan terhadap bumi adalah bagian dari ihsan, perbuatan yang dicintai Allah.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Dalam kajian ilmu psikologi Islam, konsep sentral yang membahas tentang diri dan dorongan manusia adalah an-Nafs atau jiwa. Para ulama dan psikolog muslim membagi nafs dalam beberapa tingkatan, yang sangat relevan dengan isu lingkungan: pertama, nafs al-ammarah bis su’ (jiwa yang memerintahkan keburukan). Hal ini adalah tingkatan jiwa yang didominasi oleh hawa nafsu (al-hawa), yaitu dorongan untuk memenuhi keinginan rendah, kesenangan sesaat, dan keegoisan tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Dalam konteks lingkungan, nafs al-ammarah mendorong manusia untuk eksploitasi berlebihan, tamak, membuang sampah sembarangan, dan merusak alam demi keuntungan pribadi atau kelompok, melupakan statusnya sebagai khalifah (pemimpin/pengelola) di bumi. Kekuatan syahwat dan ghadhab (emosi negatif/marah) yang tidak terkendali inilah yang menjadi akar kerusakan, sebagaimana firman Allah tentang orang-orang munafik yang tidak sadar bahwa merekalah yang berbuat kerusakan di bumi (QS. Al-Baqarah: 11-12).
Kedua, nafs al-lawwamah (jiwa yang menyesali). Ini adalah tingkatan jiwa yang mulai sadar akan kesalahan dan menyesali perbuatannya. Ketika seseorang merusak lingkungan, kemudian melihat dampak buruknya—banjir, polusi, hilangnya keindahan—dan muncul rasa bersalah, itu adalah pertanda nafs al-lawwamah mulai bekerja. Penyesalan ini adalah langkah awal menuju perbaikan.
Ketiga, nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang). Ini adalah tingkatan jiwa yang telah mencapai kedamaian, keseimbangan, dan kepasrahan total kepada Allah. Jiwa yang tenang akan secara alami selaras dengan perintah Allah, termasuk perintah untuk menjaga keseimbangan alam. Nafs al-muthmainnah akan melihat keindahan alam sebagai manifestasi kebesaran Allah (ayat-ayat Kawniyyah) dan menjaganya sebagai bagian dari ibadah. Kesehatan jiwa yang paripurna tercapai ketika seseorang mampu menempatkan diri sebagai hamba yang taat dan khalifah yang bertanggung jawab.
Kaum Muslimin sidang Jum’at rahimakumullah
Menjaga lingkungan, menanam pohon, membersihkan sungai, atau sekadar membuang sampah pada tempatnya, bukan hanya aksi sosial atau gerakan go-green biasa. Bagi seorang Muslim, ini adalah bagian dari tazkiyah an-nafs (penyucian jiwa).
Mengendalikan dorongan nafs al-ammarah untuk tidak merusak, untuk tidak rakus, dan untuk tidak acuh tak acuh terhadap kebersihan dan kelestarian alam, adalah wujud jihad an-nafs (perjuangan melawan hawa nafsu) yang nyata. Ketika kita berhasil mengendalikan diri dari merusak alam, kita sedang menyeimbangkan kembali dimensi psikologis kita.
Oleh karena itu, hubungan antara lingkungan dan kesehatan jiwa adalah hubungan timbal balik: jiwa yang kotor (diperintah nafs al-muthmainnah) menghasilkan lingkungan yang rusak; lingkungan yang rusak akan memperburuk kondisi jiwa, menjauhkannya dari ketenangan; jiwa yang bersih (berupaya mencapai Nafs Al-Muthmainnah) akan menciptakan lingkungan yang lestari; lingkungan yang lestari akan mendukung ketenangan dan kesehatan jiwa.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk mengendalikan hawa nafsu, menyucikan jiwa kita (tazkiyah an-nafs), dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang amanah dalam menjaga bumi-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.
Sumber: Majalah SM Edisi 23/2025

