Kisah Adam dan Iblis sebagai Metafora Energi: Perspektif Green Deen
Oleh: Miqdam Awwali Hashri, M.Si (Pengurus Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah, Mahasiswa Program Doktoral Sekolah Pascasarajana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Kisah Nabi Adam dan pembangkangan Iblis terhadap perintah Allah SWT merupakan salah satu narasi teologis penting dalam kajian Islam. Al-Qur’an menceritakan bahwa ketika Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, sebagai bentuk penghormatan, seluruh malaikat menaati perintah tersebut kecuali Iblis. Ia menolak dengan alasan merasa lebih mulia. Iblis beragumen bahwa penciptaannya dari api lebih mulia daripada penciptaan Adam yang berasal dari tanah.
Selama ini, kisah tersebut barangkali lebih banyak dipahami sebagai pelajaran moral tentang kesombongan dan pembangkangan Iblis terhadap perintah Allah SWT. Namun dalam konteks era modern, terutama jika dikaitkan dengan krisis lingkungan global seperti sekarang ini, kisah tersebut juga dapat dibaca secara reflektif sebagai simbol relasi manusia dengan bumi dan energi yang menjadi penopang sendi-sendi kehidupan. Pertentangan antara Adam yang diciptakan dari tanah sedangkan Iblis dari nyala api, mengandung nilai moral terkait bagaimana seharusnya menusia mengelola energi di muka bumi. Tulisan ini hendak menganalisis kisah tersebut dengan perspektif Green Deen yang digagas oleh Ibrahim Abdul-Matin, seorang aktivis lingkungan muslim kontemporer.
Adam, Tanah, dan Makna Ekologis Penciptaan Manusia
Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah. Secara biologis, terminologi “tanah” ini dapat dipahami sebagai representasi dari material dasar bumi yang membentuk kehidupan. Ilmu pengetahuan mengungkap bahwa tanah yang dimaksud tentu bukan sekadar liat atau lumpur yang dipijak oleh manusia, melainkan suatu komponen kompleks yang terdiri dari liat, debu, pasir, air, udara, dan berbagai komponen lainnya termasuk metal.
Dalam perspektif ilmu pengetahuan modern, tubuh manusia tersusun dari unsur-unsur abiotik yang berasal dari bumi. Pada tingkat molekuler, DNA manusia tersusun dari senyawa yang mengandung gugus karbon, gugus fosfat, dan nitrogen. Senyawa-senyawa tersebut mengalami siklus baik di dalam tanah maupun atmosfer bumi. Dengan kata lain, manusia secara biologis merupakan bagian dari bumi dalam arti yang lebih luas. Ia tidak hanya hidup di atas bumi, tetapi juga tersusun dari materi yang sama dengan bumi itu sendiri. Tentunya, para ahli biologilah yang memiliki otoritas dan lebih paham dalam menjelaskan hal ini lebih rinci.
Dari perspektif ini, penciptaan Adam yang berasal dari tanah mengandung pesan ekologis yang mendalam. Perintah sujud para malaikat kepada Adam, dapat dipahami sebagai simbol penghormatan terhadap martabat manusia sebagai khalifah di bumi. Namun penghormatan itu tidak berdiri sendiri. Perlu diingat bahwa asal-usul manusia adalah dari tanah atau bumi, maka penghormatan terhadap Adam juga mengandung pesan moral agar manusia menghormati dan menjaga kelestarian bumi. Dalam arti simbolik, sujud kepada Adam dapat dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada bumi yang harus dipelihara, bukan dirusak.
Api, Pembakaran, dan Paradigma Energi Modern
Sedangkan, Iblis merupakan makhluk yang diciptakan dari nyala api. Dalam ilmu kimia, api bukanlah benda, melainkan proses pembakaran atau proses reaksi oksidasi yang membutuhkan kalor (panas), oksigen, dan bahan bakar (karbon). Proses ini menghasilkan energi, tetapi sekaligus melepaskan emisi gas ke atmosfer. Di sinilah letak paradoks eksistensial Iblis ketika ia merasa lebih mulia dari Adam, padahal nyala apinya sangat bergantung pada oksigen dan karbon yang disediakan oleh elemen bumi, unsur yang ia remehkan.
Kesombongan Iblis yang merasa lebih baik karena unsur apinya mirip dengan paradigma pembangunan modern yang menganggap bahwa energi berbasis emisi adalah puncak kemajuan, tanpa menyadari bahwa ada potensi merusak kehidupan makhluk di muka bumi. Dalam peradaban modern, proses pembakaran karbon inilah yang menjadi fondasi utama sistem energi global, terutama pada era industrialisasi. Minyak bumi dan batu bara menjadi sumber energi utama dari berbagai aktivitas ekonomi. Energi ini memungkinkan produktivitas ekonomi meningkat secara drastis. Namun di sisi lain, proses pembakaran tersebut menghasilkan emisi karbon yang menjadi penyebab pemanasan global dan krisis iklim.
Realitas menunjukkan bahwa produktivitas ekonomi global sangat bertumpu pada energi berbasis pembakaran karbon. Sistem transportasi, industri, hingga aktivitas keseharian manusia masih didominasi oleh energi yang bersumber dari bahan bakar fosil. Dalam perspektif simbolik, pola ini (jika boleh disebut) merupakan “iblis-sentrik”, yaitu sebuah peradaban yang menggantungkan kemajuannya pada logika api dan pembakaran karbon. Padahal energi semacam ini sesungguhnya membawa konsekuensi ekologi yang serius. Emisi karbon yang terus meningkat telah memicu krisis iklim, kerusakan ekosistem, serta berbagai krisis lingkungan yang semakin nyata secara global.
Green Deen: Energy from Hell dan Energy from Heaven
Ibrahim Abdul-Matin dalam karyanya “Green Deen”, menggagas konsep yang bernuansa teologis terkait dengan energi. Dalam kerangka etika lingkungan Islam, ia membedakan dua jenis energi yang digunakan oleh manusia modern, yaitu: Energy from Hell (Energi dari Neraka) dan Energy from Heaven (Energi dari Surga). Energy from hell merujuk pada energi yang dihasilkan melalui pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi (oil) dan batu bara (coal). Energi ini menjadi tulang punggung peradaban industri modern, tetapi sekaligus menghasilkan emisi karbon yang merusak keseimbangan bumi. Sebaliknya, energy from heaven merujuk pada energi yang bersumber dari proses alam di bumi yang lebih ramah lingkungan, seperti sinar matahari (sun), angin (wind), dan gelombang laut (waves). Energi ini tidak bergantung pada pembakaran karbon sehingga lebih ramah terhadap lingkungan dan lebih sejalan dengan prinsip keberlanjutan.
Dari Iblis-Sentrik Menuju Kesadaran Ramah Lingkungan
Namun demikian, realitas hari ini menunjukkan bahwa Energy from Hell masih mendominasi aktivitas manusia. Energi yang cenderung mengarah kepada sifat "Iblis-sentrik" ini seyogyanya harus dikurangi. Manusia hendaknya mulai menyadari dampak kerusakan dari perilaku penggunaan energi neraka ini. Sifatnya yang destruktif, panas, dan meninggalkan jejak karbon sangat identik dengan karakter Iblis yang jumawa.
Manusia modern sering terjebak dalam rasa bangga atas kemajuan industri berbasis emisi, seolah-olah inilah energi yang paripurna dan paling berjasa bagi peradaban. Ironisnya, manusia seringkali tidak menyadari dampak negatifnya, atau mungkin bisa jadi abai. Padahal, di balik superioritas itu, kerusakan besar tengah terjadi. Allah SWT telah mengingatkan fenomena ini dalam Al-Qur’an yang terjemahannya “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah: 12).
Karena itu, sudah saatnya manusia mulai menyadari dan berupaya untuk mengurangi ketergantungan pada energi yang bersifat “iblis-sentrik” tersebut. Manusia perlu kembali memikirkan bentuk energi yang lebih selaras dengan kelestarian lingkungan, yaitu energi yang dalam istilah Green Deen disebut sebagai energy from heaven. Perubahan menuju energi yang lebih ramah lingkungan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang canggih atau kebijakan yang kompleks. Pengurangan ketergantungan terhadap energy from hell dapat dilakukan dari hal yang sederhana, diantaranya dengan cara mengurangi pengunaan kendaraan bermotor.
Kembali ke Fitrah Adam: Puasa Karbon dan Etika Mobilitas Sederhana
Meninggalkan sepenuhnya energy from hell tentu bukan suatu yang mudah dan singkat. Berjalan kaki atau mengutamakan penggunaan sepeda untuk aktivitas rutin, misalnya, merupakan langkah kecil yang dapat menciptakan perubahan besar. Pilihan ini bukan sekadar gaya hidup sehat, tetapi juga bentuk pengurangan emisi karbon dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas ini dapat mengurangi ketergantungan manusia pada kendaraan bermotor yang menjadi salah satu sumber utama emisi karbon, terutama di perkotaan.
Paradigma bahwa kendaraan bermotor adalah superior, perlu dikonstruksi ulang. Di era modern dengan permasalahan lingkungan seperti sekarang ini, sepeda justru merupakan kendaraan kekinian. Tidak perlu merasa malu untuk berjalan kaki atau bersepeda. Malu-lah ketika aktivitas yang dilakukan justru menimbulkan polusi. Jangan sampai manusia mencontoh Iblis yang merasa tinggi dan angkuh dengan "api" emisi yang dihasilkan.
Bersepeda atau berjalan kaki adalah bentuk kerendahhatian sebagai upaya untuk tidak ingin membebani bumi dengan polusi. Pilihan sederhana tersebut pada dasarnya merupakan bentuk kembali kepada fitrah manusia, yaitu cara hidup yang lebih selaras dengan bumi. Sebelum peradaban modern berkembang dengan mesin dan bahan bakar fosil, manusia telah menjalani kehidupan dengan mobilitas yang lebih sederhana dan lebih ramah terhadap alam.
Menurut Sayyed Hossein Nasr, krisis lingkungan adalah cermin dari krisis spiritualitas manusia modern. Terkadang manusia terlalu lama memuja "api" dan meremehkan "tanah". Kembali ke fitrah penciptaan Adam berarti memilih gaya hidup yang lebih sejuk dan lestari, bukan nyala api. Sudah saatnya manusia sadar dan memadamkan orientasi “Iblis-sentrik” dalam penggunaan energi dan kembali memuliakan bumi sebagai rumah suci yang diamanahkan kepadanya.
Seyogyanya, kisah Adam dan Iblis dapat menghadirkan perenungan yang mendalam bagi manusia modern. Apalagi dibulan suci Ramadan ini, sudah saatnya manusia, terutama umat Islam, memulai puasa karbon, yaitu menahan diri dari aktivitas melepas emisi karbon secara berlebihan. Kesadaran untuk menjaga bumi sejatinya merupakan bentuk kesetiaan manusia terhadap asal-usul penciptaannya. Sebaliknya, kesombongan yang mengagungkan energi berbasis emisi justru dapat membawa manusia pada malapetaka bagi dunia.
Wallahua’lam
