Kisah Perjalanan Mengikuti ToT Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (1)

Suara Muhammadiyah

27 June 2026

196
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Kisah Perjalanan Mengikuti ToT Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (1)

Furqan Mawardi, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, Masjid dan Pesantren PWM Sulawesi Barat

Perjalanan kali ini kembali memanggil saya untuk belajar. Tujuannya bukan tempat wisata, bukan pula perjalanan mencari kenyamanan, tetapi menghadiri Training of Trainers (ToT) Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (AM3) yang akan dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Surakarta Solo pada 26–28 Juni 2026.

Karena jarak antara Mamuju dan Solo begitu panjang, perjalanan harus dimulai jauh lebih awal. Senin malam, 22 Juni 2026, tepat pukul 20.00 WITA, Bus Bintang Timur perlahan meninggalkan Terminal Mamuju. Di samping saya duduk putra tercinta, Ahmad Dahlan, yang hampir selalu setia menemani setiap langkah perjalanan dakwah dan perjalanan ilmu yang saya tempuh.

Malam mulai turun ketika bus membelah pegunungan Mamuju. Jalan yang berkelok, udara yang mulai dingin, dan kelelahan setelah berbagai aktivitas membuat mata saya tak mampu lagi bertahan. Syukurlah, bus yang kami tumpangi cukup nyaman. Kursinya empuk, suspensinya nyaman, dan jalan menuju Makassar kini jauh lebih mulus dibanding beberapa tahun silam. Perjalanan malam itu terasa tenang, seolah Allah sedang mempersiapkan tenaga untuk perjalanan yang jauh lebih panjang.

Sekitar pukul 05.30 pagi kami tiba di Makassar. Di ujung Jalan Daeng Ramang Sudiang, ponakan saya si Aan telah menunggu menjemput kami. Rasanya selalu hangat ketika pulang ke rumah orang tua. Sapaan bapak , kakak, serta tawa para keponakan menjadi energi baru sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Namun istirahat belum benar-benar datang. Laptop segera saya buka untuk memastikan apakah tiket kapal menuju Surabaya masih tersedia. Musim liburan membuat harga tiket pesawat melonjak tinggi. Bagi saya, kapal laut menjadi pilihan yang jauh lebih realistis. Alhamdulillah, masih tersisa tiket, meski hanya kelas ekonomi.

Saya kemudian merapikan seluruh pakaian yang sejak berangkat dari Mamuju belum sempat disetrika. Sambil menunggu waktu keberangkatan, saya menyetrika pakaian saya dan Ahmad Dahlan satu per satu, melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam koper. Bagi sebagian orang, mungkin itu pekerjaan sederhana. Namun bagi seorang musafir, kerapian adalah bagian dari penghormatan terhadap perjalanan yang sedang dijalani.

Menjelang pukul dua siang, Ustadz Taufik, pembina Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School Mamuju yang sedang berada di Makassar, datang menjemput kami. Dengan penuh persaudaraan beliau mengantar kami menuju Pelabuhan Soekarno-Hatta. Dari sinilah kisah baru benar-benar dimulai.

Ternyata memesan tiket secara daring belum cukup. Semua penumpang tetap harus mengantre untuk proses check-in. Ribuan orang memadati pelabuhan. Antrean mengular hampir satu jam. Musim liburan sekolah dan mahalnya harga tiket pesawat membuat kapal menjadi pilihan utama masyarakat.

Di tengah antrean panjang itu, saya memilih berbincang dengan beberapa penumpang. Ada penupang dari dari Morowali Sulawesi Tengah, rombongan sekolah yang lagi liburan,  ibu-ibu, mahasiswa, hingga keluarga besar yang hendak berlibur ke Jawa. Hampir semua memiliki alasan yang sama.

"Harga pesawat terlalu mahal."

Saya tersenyum. Memang benar. Dengan biaya kapal sekitar tiga ratus ribuan rupiah, seseorang sudah bisa menuju Pulau Jawa. Sementara tiket pesawat saat itu bisa mencapai dua juta rupiah atau lebih.

Akhirnya, setelah penantian panjang, tiket check-in berhasil kami dapatkan. Kami pun menuju ruang tunggu KM Dharma Kencana VII.

Namun ujian berikutnya baru saja dimulai.

Saat pintu keberangkatan dibuka, ribuan penumpang serentak bergerak menuju kapal. Hanya ada satu jalur masuk. Suasana berubah menjadi sesak. Anak-anak menangis. Orang tua mulai mengeluh. Beberapa penumpang berteriak meminta petugas mengatur antrean dengan lebih baik. Saya yang berada di tengah kerumunan benar-benar merasakan bagaimana tubuh saling berhimpitan hanya untuk bisa masuk ke dalam kapal.

Sebagai penumpang kelas ekonomi, kami tidak memperoleh kamar, tempat tidur, bahkan kursi. Siapa yang terlambat mencari tempat, dialah yang akan kehilangan ruang untuk beristirahat.

Begitu memasuki kapal, saya dan Ahmad Dahlan segera berjalan cepat menuju Dek 7. Syukur alhamdulillah, kami masih mendapatkan sedikit ruang kosong. Hanya beralaskan tikar tipis di samping tumpukan tas para penumpang lainnya.

Saat itulah sebuah kenangan lama datang mengetuk hati.

Saya seperti kembali menjadi mahasiswa di awal tahun 2000-an ketika kuliah di Solo. Dulu, beginilah cara saya bepergian. Tidur di lantai kapal, beralaskan tikar, berhimpitan dengan penumpang lain, menahan dinginnya angin laut demi sebuah cita-cita.

Lebih dari dua puluh tahun berlalu.

Kini Allah kembali mempertemukan saya dengan suasana yang hampir sama.

Bedanya, dulu saya berlayar untuk mengejar masa depan. Hari ini saya berlayar untuk terus menambah bekal ilmu agar dapat melayani umat dengan lebih baik.

Saya tersenyum dalam hati.

Ternyata Allah terkadang membawa kita kembali ke titik awal, bukan untuk mengulang kesulitan, melainkan agar kita tidak lupa dari mana perjuangan itu bermula.

Malam semakin larut.

Jadwal kapal seharusnya pukul lima sore. Namun hingga hampir pukul sebelas malam kapal belum juga berangkat. Dari atas geladak saya melihat antrean truk masih panjang memasuki lambung kapal. Baru sekitar pukul 23.00, perlahan kapal mulai meninggalkan Pelabuhan Makassar menuju Surabaya.

Ketika daratan mulai menghilang, yang tersisa hanyalah lautan yang begitu luas.

Di tengah hamparan air yang seakan tak bertepi, saya merasakan betapa kecilnya manusia di hadapan kebesaran Allah.

Malam semakin pekat. Laut telah berubah menjadi hamparan hitam yang hanya ditemani suara ombak dan hembusan angin.

Tidur kembali terasa sulit.

Saya mengambil mushaf Al-Qur'an yang sejak tadi saya simpan di dalam tas. Satu demi satu ayat saya baca perlahan. Setiap ayat seperti berbicara langsung kepada hati.

Entah mengapa, kenangan masa lalu datang silih berganti.

Tentang masa-masa kuliah.

Tentang perjuangan yang penuh keterbatasan.

Tentang perjalanan hidup yang Allah susun dengan begitu indah.

Tentang orang-orang yang pernah hadir lalu dipanggil kembali oleh-Nya.

Tentang istri tercinta yang kini telah lebih dahulu pulang menghadap Allah.

Tanpa saya sadari, air mata perlahan mengalir.

Di tengah luasnya samudra, saya merasa begitu dekat dengan Allah.

Tak ada tepuk tangan.

Tak ada keramaian.

Tak ada panggung.

Hanya saya, mushaf Al-Qur'an, debur ombak, langit malam, dan Rabb yang Maha Mendengar setiap bisikan hati.

Saat itu saya semakin yakin, perjalanan menuntut ilmu memang tidak selalu harus nyaman. Kadang Allah meminta kita merasakan kembali dinginnya lantai kapal, kerasnya tikar, panjangnya antrean, bahkan sempitnya ruang istirahat, agar kita menyadari bahwa ilmu memang selalu meminta harga yang harus dibayar.

Menjelang dini hari, Ahmad Dahlan telah lebih dahulu terlelap. Saya pun akhirnya membaringkan badan di atas tikar sederhana itu. Kaos kaki saya kenakan agar tidak terlalu dingin diterpa angin laut.

Sebelum mata benar-benar terpejam, saya hanya mampu berdoa lirih,

"Ya Allah... lancarkanlah perjalanan ini. Selamatkanlah kami hingga tujuan. Anugerahkanlah ilmu yang bermanfaat. Jadikan setiap langkah menuju ilmu sebagai jalan menuju ridha-Mu. Dan izinkanlah kami kembali ke Mamuju membawa cahaya yang dapat menerangi umat, agama, dan negeri yang kami cintai."

Malam pertama di atas KM Dharma Kencana VII pun saya tutup dengan satu keyakinan yang semakin kuat dalam hati bahwa memang tidak semua perjalanan menuju ilmu ditempuh dengan kenyamanan. Ada yang harus melewati panjangnya antrean, sempitnya ruang, kerasnya lantai kapal, bahkan dinginnya angin lautan. Tetapi justru di situlah Allah sedang mengajarkan bahwa ilmu yang paling berharga sering kali lahir dari perjalanan yang paling melelahkan. (Bersambung)

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Cerita-cerita yang Minta Ditulis  Cerpen Indrian Koto Ia ingin menulis cerita. Menulis banyak....

Suara Muhammadiyah

4 December 2025

Humaniora

Cerpen R Toto Sugiharto  Saya tersesat. Terpisah dari kawan-kawan. Kami baru survei untuk loka....

Suara Muhammadiyah

23 February 2024

Humaniora

Masa Kecil di Kauman Cerpen Affan Safani Adham Masa kecil saya memang lebih banyak bermain-main di....

Suara Muhammadiyah

19 April 2024

Humaniora

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah -Di balik sorot matahari yang tak kenal ampun, keluarga PT Syarikat C....

Suara Muhammadiyah

11 September 2023

Humaniora

Pelajaran Kebangsaan di Ruang Tamu Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM Troketon, Pedan, ....

Suara Muhammadiyah

16 May 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah