Saat Kematian Menjadi Pemandu

Publish

17 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
36
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Saat Kematian Menjadi Pemandu

Oleh : Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso, Tangerang Selatan

Dalam satu pekan terakhir, kesedihan datang bertubi-tubi. Saya menerima kabar tentang wafatnya tiga laki-laki, masing-masing adalah suami dari tiga kawan dekat dalam hidup saya. Mereka berasal dari latar yang berbeda: ada yang menjadi musisi, pedagang, dan pekerja profesional. Ketiganya berpulang dengan damai, meninggalkan bukan hanya pasangan hidup, tetapi juga anak-anak yang begitu mencintai mereka.

Sedih? Rasanya saya tak mampu menuangkan duka dan iba itu ke dalam kata-kata. Yang terasa hanyalah pergumulan emosi yang begitu kuat antara rasa kehilangan, kebingungan, dan kesedihan mendalam. Namun anehnya, dari ketiganya saya tidak lagi menjumpai adanya kecemasan atau ketakutan dari wajah mereka.

Dalam pertemuan di suasana duka itu, salah seorang sahabat bergumam lirih,

“Aku sudah kehabisan air mata, sekaligus kehilangan rasa takut Mas…”

Yang kedua berkata dengan nada datar,

“Awalnya kaget sih Mas, tapi akhirnya ya sudahlah… mau bagaimana lagi. Aku harus tetap berjuang untuk mereka yang masih hidup, agar tetap bisa menjalani kehidupan.”

Sementara yang ketiga mengucap dengan penuh nada penerimaan,

“Inilah akhir dari perjuangan panjang. Bertahun-tahun kami bertahan dengan segala luka. Inilah hasilnya… Aku menerimanya dengan ikhlas dan harus segera memulai hal baru.”

Usai menjalani pertemuan itu, saya teringat pesan Nurcholish Madjid (Cak Nur) tentang kematian. Ia pernah menulis bahwa kematian adalah sebuah transformasi, bukan akhir. Kematian merupakan pintu menuju pengalaman spiritual yang lebih mendalam dan hakiki, melampaui keterbatasan pengalaman di dunia yang fana. Ia menjadi awal dari fase kesadaran dan tanggung jawab yang lebih tinggi.

Meski saya mampu membaca dan memahami pemikiran itu dengan kesadaran yang utuh, namun tetap saja tak sanggup menyembunyikan mimik muka saya yang dipenuhi rasa iba. Tubuh ini pun tak kuasa menahan rasa gemetar oleh ketakutan saat berhadapan dengan kawan-kawan baik yang baru saja ditinggalkan pasangan hidup mereka.

Membersamai Rasa Takut

Pada awal tahun 2010, saya pernah mengalami serangan Bell’s palsy. Wajah mengalami kelemahan pada otot di salah satu sisi akibat peradangan atau gangguan pada saraf ketujuh. Kondisi ini membuat separuh wajah terkulai; hingga kesulitan tersenyum, mengernyitkan dahi, bahkan menutup mata dengan sempurna.

Sebelum dokter spesialis saraf menjelaskan kondisi tersebut, saya sempat menduganya sebagai penyakit serius. Pikiran itu menyeret pada keputusasaan yang dalam. Tidak berhenti di situ, pikiran ini berkembang terlalu jauh, liar dan sulit dikendalikan. Sikap “overthinking” itu ternyata justru memperburuk kondisi kejiwaan, yang pada akhirnya ikut memengaruhi kesehatan fisik.

Berbagai gejala buruk pun bermunculan: asam lambung sering naik, jantung berdebar tanpa sebab, mata sulit terpejam di tengah malam, tubuh tiba-tiba berkeringat dingin, serta pikiran ini terus melayang tanpa arah dan tak kunjung bisa dikendalikan. 

Rasa cemas dan takut akan kematian itu telah begitu menyuburkan berbagai khayalan liar. Bagaimana jika saya jatuh sakit lalu meninggal, sementara anak-anak masih kecil dan membutuhkan biaya besar untuk masa depan pendidikan mereka? Sanggupkah istri saya menakhodai kapal kecil ini sendirian? Apakah bekal tabungan, asuransi, dan harta peninggalan itu akan cukup? Seolah-olah seluruh persoalan yang muncul di atas bumi, yang berkaitan dengan keluarga kecil ini, sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya seorang. Benarkah demikian?

Saat berada pada puncak kebingungan, ada nasihat sederhana dari kakak sedarah yang tinggal jauh di kampung halaman. Ia berpesan; “Cobalah mulai berjalan kaki setiap hari selama 30 hingga 45 menit. Tidak perlu memikirkan seberapa jauh kamu melangkah, seberapa bagus atau senyaman apa kaos, celana, dan sepatu yang kamu kenakan. Ada atau tidak ada teman yang menemani, tetaplah berjalan kaki. Tidak perlu memilih-milih tempat, di jalan besar, jalan kampung, atau area olahraga. Yang penting terus saja berjalan setiap hari. Jika tidak sempat di pagi hari, gantilah di sore hari.”

Tiga bulan pertama menjalani nasihat itu dengan tekun, saya justru merasakan perlawanan dari tubuh yang tampaknya selama ini jarang diajak bergerak. Alih-alih terasa ringan, rasa sakit muncul hampir di setiap persendian: kaki, pinggang, tangan, pundak, bahkan dada sesekali ikut terasa nyeri. Saya menerima saja rasa sakit itu, bahkan berusaha menikmatinya.

Dan benar saja, selalu ada hadiah kecil dari kesabaran dan penerimaan terhadap rasa tidak nyaman tersebut. Saya mulai bisa tidur dengan sangat berkualitas setiap malam. Mungkin karena kualitas tidur yang membaik itulah, keesokan harinya saya kembali melangkah, berjalan kaki lagi, hari demi hari.

Apakah rutinitas berjalan kaki itu mampu sepenuhnya mengalihkan rasa cemas dan ketakutan akan kematian? Tidak juga. Namun setidaknya, lamunan tentang kematian itu perlahan bisa teredam saat saya melangkah berkilo kilo. Ketika aktivitas berjalan kaki itu berlangsung, mata saya disuguhi berbagai wajah kehidupan yang beragam.

Sebesar apa pun ketidakpedulian saya terhadap apa yang melintas di hadapan mata, semua itu tetap meresap ke dalam pikiran, diolah bersama batin, lalu menumbuhkan makna serta pelajaran berharga tentang hidup. Dari situlah saya terdorong untuk terus bersyukur atas apa pun yang sedang saya nikmati saat ini.

Rasa cemas, kekhawatiran akan masa depan, dan ketakutan terhadap kematian itu terus berlangsung, bahkan mengambil bentuk yang semakin beragam. Hingga suatu ketika, saya berjumpa dengan seorang sahabat yang menjalani hidup secara biasa-biasa saja. Ia bukan tipe orang yang gemar berpidato di atas mimbar di hadapan ribuan pendengar, apalagi seorang motivator masyhur dengan segudang jurus penyelesai persoalan hidup. Ia hanyalah seorang guru non-PNS di sebuah madrasah, tanpa honor sertifikasi seperti yang diterima rekan-rekan sejawatnya.

Suatu hari ia melontarkan komentar singkat tapi menghentak: “Kamu ini sombong sekali, seolah-olah merasa bisa menjamin masa depan anak-anak dan istrimu. Sekarang kamu takut tidak bisa membahagiakan mereka? Apa kamu lupa, di atas kita semua ada Allah yang menjamin segalanya?”

Mak jleb !

Saya sama sekali tidak berani menyanggah kalimat itu. Saya memilih diam, menyimak setiap kata yang keluar dari mulut seorang teman lama, seorang guru madrasah. Ucapannya begitu menancap kuat dan membekas dalam batin.

Tidak lama kemudian, pada tahun 2020, wabah Covid-19 datang. Jutaan manusia meninggal akibat virus itu. Berita tentang kematian yang dulu terasa begitu berat dan mengagetkan, perlahan menjadi terasa lebih ringan di telinga. Banyak orang menjadi terbiasa dengan peristiwa kematian; saya pun demikian. Ketika mendengar kabar seseorang berpulang, saya hanya bergumam singkat,

“Oh, saatnya telah tiba… ya sudahlah.”

Pelan namun pasti, jiwa saya terlatih untuk menerima kabar dan peristiwa kematian. Dari waktu ke waktu, penerimaan itu tumbuh menjadi sikap batin yang lebih lapang, tanpa beban yang berlebihan.

Pagi ini, saya membaca satu bait dari tulisan Pramoedya Ananta Toer:

“Manusia punya kodratnya masing-masing, dan tidak ada seorang pun yang bisa mengubah kodrat itu.” (Bukan Pasar Malam, 1961: 50)

Dari bait itu, saya belajar untuk terus menyingkirkan rasa takut. Bukan dengan menolaknya, melainkan dengan menggantinya menjadi ikhtiar sungguh-sungguh untuk menyiapkan diri menyambut kepastian itu ketika ia tiba.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Tak Lekang oleh Zaman dan Waktu Oleh: Deni al Asyari Kemarin siang, saya dikirimi oleh Buya Syafii....

Suara Muhammadiyah

30 September 2023

Humaniora

Harapan dalam Tiap Proses Hidup  Amalia Irfani, LPPA PWA Kalbar  Ma fil aba, fil abna, &....

Suara Muhammadiyah

22 December 2023

Humaniora

Selamat Jalan Kyai Muhammad Jazir ASP: Sang Arsitek Kemakmuran Masjid Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zu....

Suara Muhammadiyah

28 December 2025

Humaniora

Hidup itu misteri. Tak ada seorang pun di persada buana ini dapat membongkar kontak pandora untuk me....

Suara Muhammadiyah

6 July 2024

Humaniora

Melihat dari Dekat Negeri Tiongkok Melalui Provinsi Xinjiang dan Guangdong (2) Oleh: Ahmad Dahlan, ....

Suara Muhammadiyah

29 August 2024