Sebait Kisah Perjalanan Perempuan 'Aisyiyah Generasi Pre Boomers Kalimantan Barat
Penulis: Amalia Irfani, LPPA PWA Kalbar/Dosen IAIN Pontianak
Menceritakan kembali sekelumit perjalanan hidup dalam kepingan-kepingan narasi perjuangan merupakan salah satu metode efektif belajar untuk lebih smart bahkan tangguh melewati cabaran hidup. Dari generasi ke generasi, bercerita dalam bentuk hikmah selalu menjadi strategi terbaik untuk mengedukasi. Bercerita tidak hanya sekedar mendongeng untuk anak kecil, tetapi mentransfer kembali motivasi agar nilai kebaikan tidak hanya dikenang, tetapi sebaliknya dijadikan titik tolak langkah agar nilai kesuksesan dulu dapat kembali diraih dalam wujud menyesuaikan masa.
Hal inilah yang menjadi salah satu tujuan Lembaga Penelitian dan Pengembangan 'Aisyiyah (LPPA) PWA Kalbar dalam program lomba menulis tokoh 'Aisyiyah Kalimantan Barat yang telah dilaksanakan dua tahun terakhir 2024-2025. Tidak hanya merekam kisah dalam bait dan lantunan kisah hidup kemudian menghadirkannya sebagai motivasi, lomba menulis tokoh juga sebagai bentuk kewajiban menjaga semangat juang perempuan 'Aisyiyah yang kelak akan diwariskan ke generasi mendatang. Meminjam bait kata Pramoedya Ananta Toer, kritikus budaya juga pemerhati sosial politik, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah, Menulis adalah bekerja untuk keabadian".
Ungkapan tersebut mengindikasikan bahwa urgensi menulis dalam lembar cerita kisah bukanlah sesuatu yang remeh temeh, bukan pula hanya aktifitas tidak bermanfaat, tetapi sebuah ikhtiar menjaga dan mentransfer semangat. Bagi organisasi seperti 'Aisyiyah, penulisan tokoh adalah warisan akademis yang suatu saat nanti akan menjadi rekam jejak perjuangan. Sebab kita pun telah merasakan luasnya manfaat saat membaca sebuah biografi perjalanan kisah Rasulullah, Sahabat hingga Pahlawan karena diceritakan berbentuk feature atau berita kisah. Kecerdasan dan kepiawaian penulis ibarat sutradara sekaligus script writer memberi nilai dan warna "sukses" saat cerita tersebut dituliskan.
Perjuangan dalam Kisah Hidup
Selain cerita yang dikisahkan, ada hal yang menarik saat penulis menjadi moderator talkshow dengan narasumber dr. Inin Salma Barasila dan Maknun Zubair pada kegiatan rangkaian hari Ibu yang dilaksanakan, 10 Januari 2026 di Politeknik 'Aisyiyah Pontianak.
Pertemuan singkat, namun seolah siapapun yang hadir mendapat 4-7 SKS berupa pengalaman, wejangan semangat. Dua tokoh ini bukanlah perempuan biasa pada zamannya, beliau lahir sebelum Indonesia di Proklamirkan merdeka dari penjajahan Jepang. Debutnya sebagai pejuang perempuan diakui oleh banyak kalangan "saking" dapat memberikan kemanfaatan bagi sesama. Di organisasi 'Aisyiyah dua perempuan hebat ini adalah sesepuh, namun belum banyak yang tahu tentang perjuangan mereka hingga organisasi perempuan yang lahir tahun 1917 di Kauman Yogyakarta ini, akhirnya juga tegap dan memberikan nilai di bumi Khatulistiwa.
dr. Inin Salma Barasila (86 tahun), darahnya kental akan perjuangan dakwah Islam. Lahir dari keturunan cendekiawan Minang yang hidup matinya untuk amr ma'ruf nahi munkar. Kakeknya Haji Rasul ayah dari Ibunya merupakan pemuka dan tokoh masyarakat. Ayahnya AR Sutan Mansur adalah tokoh cendekiawan muslim, perintis kemerdekaan dengan gelar bintang barat Muhammadiyah. Lalu Buya Hamka, adik Ibunya, cendekiawan yang melintasi zaman, dimana ilmu, karya dan adab dikenang sepanjang masa.
Garis keturunan tersebut membuat Inin Salma ketika hijrah ke Pontianak Kalbar tahun 1971 bersama suami, almarhum dr. Barry Barasilla, juga bergeliat berdakwah dalam ranah pendidikan dengan mendirikan amal usaha pendidikan Muhammadiyah. Sebut saja SD Muhammadiyah 2, ITEKES, Universitas Muhammadiyah Pontianak, Politeknik 'Aisyiyah serta beberapa Taman Kanak-kanak 'Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) yang ada di Kalimantan Barat.
Walau dengan keterbatasan fisik, karena usia. Semangat Inin Salma masih terpatri dalam semangat dan harapan-harapannya. Ia masih ingin memajukan/mendirikan amal usaha pendidikan Muhammadiyah-'Aisyiyah. Ia berharap SD 'Aisyiyah yang baru beberapa waktu ini terwujud pendiriannya, terus berkembang dan bisa duduk setara dengan amal usaha lain dan unggul.
Kemudian Maknun Zubair (81 tahun) seorang da'iyah, perempuan cerdas yang lahir di Ketapang 15 Oktober 1944 dan merupakan pensiunan kemenag tahun 2000. Dalam bincang singkat tidak sedikit pun hilang bara semangatnya dalam dakwah. Ingatan, retorika hingga kecerdasan merangkai kata-kata dengan memadukan fakta data menjadi gambaran kepiawaian Maknun dalam memprovokasi kebaikan.
Ia pun berpesan agar Muhammadiyah-'Aisyiyah tetap melestarikan pengajian dari mimbar ke mimbar, karena sebenarnya itulah identitas Muhammadiyah dulu sehingga dikenal oleh masyarakat luas. Pengajian Muhammadiyah lanjut Maknun Zubair menarik hati masyarakat sekitar yang awalnya ragu, antipati dengan Muhammadiyah, perlahan malah jatuh hati dan akhirnya banyak yang juga ikut berjuang berdakwah di Muhammadiyah. Identitas menjadi bagian warga atau simpatisan tidak lagi sungkan apalagi malu untuk ditunjukkan.

