Kisah Perjalanan Mengikuti ToT Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (3)
Furqan Mawardi, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, Masjid dan Pesantren PWM Sulawesi Barat
Kamis, 25 Juni 2026
Sekitar pukul tiga dini hari mata saya perlahan terbuka. Suara mesin kapal yang sejak dua malam menemani tidur masih terdengar pelan. Saya mengusap wajah, lalu berdiri menuju jendela kapal. Saya melihat dari jendela pemandangan yang semalam hanya berupa hamparan laut hitam tanpa batas kini berubah total. Dari balik kaca jendela tampak ribuan cahaya lampu berkelip memenuhi ufuk. Crane-crane raksasa berdiri tegak. Deretan kapal besar tampak berjejer. Aktivitas pelabuhan sudah mulai hidup meski fajar belum menyingsing.
Saya sangat bersyukur. "Alhamdulillah... ternyata kami sudah tiba di Surabaya." KM Dharma Kencana VII akhirnya bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Suasana kapal pun berubah, lorong-lorong kapal yang semalam lengang kini mulai ramai. Para penumpang sibuk melipat tikar, mengemas koper, menggendong tas, mereka semua bersiap siap untuk segera turun dari kapal.
Saya menoleh ke samping, ternyata Ahmad Dahlan masih terlelap. Wajahnya begitu tenang, saya sengaja tidak langsung membangunkannya. Perjalanan panjang mengajarkan saya satu hal bahwa tidak semua hal harus dilakukan dengan tergesa-gesa. Selama tidak terlambat, menikmati proses sering kali lebih menenangkan daripada terburu-buru mengejar waktu.
Saya memilih menuju kamar mandi terlebih dahulu. Mencuci muka, menggosok gigi, berwudhu, dan merapikan pakaian. Barulah setelah semuanya selesai, saya membangunkan Ahmad Dahlan.
"Ahmad... kita sudah sampai Surabaya." Matanya langsung terbuka. "Sudah sampai Surabaya, bapak?"
Nada suaranya penuh semangat. Seakan semua rasa lelah selama dua hari di kapal langsung hilang.
Packing kami tidak membutuhkan waktu lama. Barang bawaan memang tidak banyak. Hanya sebuah koper, tas ransel, laptop, dan beberapa perlengkapan seperlunya. Sebelum meninggalkan tempat, saya selalu memiliki kebiasaan sederhana, yaitu Saya melihat kembali ke setiap sudut. Memastikan tidak ada yang tertinggal. Bukan hanya barang, tetapi juga memastikan tidak ada amanah yang terlupa.
Antrian turun dari kapal ternyata tak kalah panjang dibanding saat naik. Ribuan penumpang bergerak perlahan menuju pintu keluar. Beberapa anak-anak menangis, Orang tua menggenggam koper. Ada yang mengangkat kardus besar. Tidak sedikit yang membawa oleh-oleh dari kampung halaman.
Saya dan Ahmad Dahlan hanya mengikuti arus. Tak ada gunanya saling mendahului, sebab pada akhirnya semua akan keluar juga. Kadang hidup memang seperti itu, kita harus sadari bahwa tidak semua perlombaan harus dimenangkan. Ada saatnya kita cukup bersabar mengikuti giliran.
Begitu kaki menginjak dermaga, hembusan angin laut langsung menyapa wajah. Rasanya begitu lega, Udara segar Surabaya seperti menjadi hadiah setelah hampir satu jam berdesakan di dalam kapal. Baru terasa ternyata baju yang saya kenakan sudah basah oleh keringat. Keramaian ribuan orang dalam ruang sempit benar-benar menguras tenaga.
Namun semua itu langsung terbayar ketika melihat langit Surabaya yang mulai memerah menjelang Subuh. Telepon genggam yang sejak di tengah laut kehilangan sinyal kini mulai hidup kembali.
Suara notifikasi bertubi-tubi terdengar. Puluhan pesan WhatsApp. Beberapa panggilan tak terjawab.
Berita-berita yang selama dua hari tertahan akhirnya masuk bersamaan. Saya duduk sebentar di bangku pelabuhan. Membalas satu per satu pesan yang paling penting. Lalu mengirim kabar sederhana kepada keluarga. "Alhamdulillah... kami sudah tiba di Surabaya dengan selamat." Barangkali hanya satu kalimat. Namun saya tahu, kalimat itu mampu menenangkan banyak hati yang sedang menunggu kabar.
Perjalanan masih jauh. Tujuan akhir saya bukan Surabaya. Melainkan Solo, Kota yang pernah menempa masa muda saya. Kota yang telah menjadi saksi perjalanan hidup selama empat belas tahun. Kami memesan Grab menuju Terminal Bungurasih. Sebenarnya saya sempat ingin naik Damri. Selain murah, kendaraan itu menyimpan banyak kenangan masa kuliah dahulu. Namun dini hari seperti ini Damri belum beroperasi.
Maka Grab menjadi pilihan paling realistis. Kadang hidup mengajarkan bahwa mempertahankan nostalgia itu indah. Tetapi mengambil keputusan terbaik jauh lebih penting. Sesampainya di Terminal Bungurasih, waktu sahur masih tersisa. Saya tersenyum, Allah benar-benar memberi rezeki tepat waktu. Hari itu bertepatan dengan 10 Muharram. Hari Asyura, Hari yang sangat dianjurkan Rasulullah ﷺ untuk berpuasa.
Di antara deretan warung yang masih buka 24 jam, mata saya langsung tertuju pada satu menu khas Rawon. Saya dan Ahmad Dahlan duduk sederhana di sebuah warung. Semangkuk rawon panas tersaji, kuah hitamnya mengepul. Dagingnya empuk, ditambah segelas jeruk hangat. Belum sempat suapan terakhir selesai, Tiba-tiba hujan turun sangat deras.Saya hanya tersenyum. Subuh, rawon panas, hujan deras, dan seorang anak yang makan dengan lahap di hadapan bapaknya. Nikmat seperti ini tidak bisa dibeli oleh restoran paling mahal sekalipun. Karena yang membuatnya nikmat bukan makanannya. Tetapi rasa syukur yang menyertainya.
Kembali ke Kota Kenangan
Hujan masih turun cukup deras ketika kami melangkah menuju tempat keberangkatan bus. Sebagian orang memilih berteduh. Sebagian lagi tetap berlari sambil membawa koper. Saya dan Ahmad Dahlan memilih berjalan perlahan. Toh, bus yang kami tuju belum berangkat. Di antara puluhan perusahaan otobus yang berjajar di Terminal Bungurasih, pilihan saya jatuh kepada PO Eka.
Ada alasan mengapa saya memilih bus ini. Bukan yang paling mewah. Bukan pula yang paling mahal. Tetapi cukup nyaman untuk perjalanan panjang menuju Solo. Saya sengaja tidak memilih bus ekonomi. Pengalaman mengajarkan bahwa perjalanan enam jam akan jauh lebih ringan jika seluruh penumpang mendapatkan tempat duduk. Tidak ada yang berdiri berdesakan. Tidak ada penumpang yang terus bertambah di setiap terminal. Kadang kenyamanan bukanlah kemewahan. Ia hanyalah keputusan sederhana untuk memilih yang paling tepat.
Bus mulai bergerak perlahan meninggalkan Surabaya. Di balik kaca jendela, hujan masih setia menemani.
Air membasahi jalan-jalan kota yang perlahan mulai ramai. Ahmad Dahlan sudah tertidur di samping saya.
Sesekali saya mengusap kepalanya. Entah mengapa, setiap melihat anak tertidur dalam perjalanan, hati seorang ayah selalu dipenuhi doa-doa yang tak terucapkan.
"Ya Allah... Jadikan anak ini anak yang saleh. Jadikan ia pencinta Al-Qur'an. Jadikan ia kelak lebih baik daripada ayahnya." Doa-doa seperti itu tidak pernah habis. Tak lama kemudian azan Subuh berkumandang melalui aplikasi di telepon genggam saya. Saya menoleh keluar.Bus tetap melaju. Tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Saya tersenyum kecil. Puluhan tahun yang lalu, ketika masih menjadi mahasiswa di Solo, saya sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.
Bus antarkota di Pulau Jawa jarang berhenti khusus untuk memberi kesempatan penumpangnya melaksanakan shalat Subuh. Berbeda dengan kampung halaman saya di Sulawesi. Bus Mamuju-Makassar hampir selalu berhenti ketika azan Subuh berkumandang. Para sopir bahkan membangunkan penumpang.
"Pak... Subuh dulu." Kalimat sederhana yang selalu saya rindukan. Perjalanan pagi itu kembali mengingatkan saya bahwa setiap daerah memiliki budaya dan kebiasaannya masing-masing. Dan sebagai seorang musafir, kita belajar menghormati semuanya.
Saya pun melaksanakan shalat sesuai keringanan yang Allah berikan kepada seorang musafir. Islam memang agama yang indah. Ia tidak mempersulit. Justru memberi kemudahan ketika hamba-Nya sedang dalam perjalanan.
Matahari mulai meninggi. Sawah-sawah hijau mulai bergantian menghiasi jendela. Bus melaju cukup stabil hingga memasuki wilayah Madiun. Namun tiba-tiba saya merasakan sesuatu yang berbeda. Kecepatan bus mulai berkurang. Mesinnya terdengar tidak seperti sebelumnya. Beberapa kali bus tersendat. Para penumpang mulai saling berpandangan.
Saya hanya diam.Dalam perjalanan panjang, hal-hal seperti ini sudah biasa terjadi. Benar saja. Tak lama kemudian bus memasuki terminal.Sang sopir berdiri sambil memegang mikrofon.Wajahnya tampak sedikit cemas. Dengan logat Jawa yang sangat halus beliau berkata,
"Sepurane nggih, Mas... Bus mengalami sedikit gangguan mesin. Mohon semuanya turun. Nanti kami pindahkan ke bus yang lain. Tidak ada biaya tambahan." mengucapkan kata "sepurane" berkali-kali.
Meminta maaf dengan penuh kerendahan hati. Saya pun tersenyum. "Mboten napa-napa, Pak..." Jawaban itu spontan keluar.
Sudah lama sekali rasanya saya tidak menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Empat belas tahun tinggal di Solo rupanya masih meninggalkan jejak dalam lidah saya. Bahasa memang unik. Ia tidak hanya menjadi alat komunikasi. Tetapi juga menjadi jembatan kenangan. Tak lama kemudian kami dipindahkan ke bus pengganti. Ternyata bus yang baru justru lebih nyaman. Interiornya lebih bersih. Kursinya lebih empuk. Bahkan tersedia toilet di bagian belakang.
Saya tersenyum dalam hati. Kadang kita kecewa karena sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Padahal Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik. Kerusakan bus ternyata bukan musibah. Justru menjadi jalan menuju kenyamanan. Bukankah hidup sering seperti itu?
Kita mengeluh karena pintu pertama tertutup. Padahal Allah sedang membuka pintu kedua yang lebih indah. Bus kembali melaju. Melewati Ngawi, Sragen, Karanganyar. Nama-nama kota yang begitu akrab dalam ingatan saya.
Setiap papan penunjuk jalan seakan membangunkan memori masa muda. Di kota-kota inilah dulu saya belajar. Berjuang Menjadi mahasiswa dengan segala keterbatasannya. Bahkan berkali-kali naik bus ekonomi hanya berbekal uang yang sangat pas-pasan.
Kini, lebih dari dua puluh tahun kemudian, Allah mengizinkan saya kembali, bukan lagi sebagai mahasiswa. Tetapi sebagai dosen, sebagai muballigh. Sebagai seorang bapak yang sedang mengajak putranya menyaksikan sebagian jejak perjuangan hidup bapaknya dahulu.
Betapa cepat waktu berlalu. "Solo... Solo... Solo..." Suara kondektur memecah lamunan saya.
Saya menoleh ke Ahmad Dahlan. "Nak... kita sudah sampai."Ia langsung tersenyum. Begitu bus berhenti, kami segera menurunkan koper. Namun saya tidak turun di terminal. Saya meminta berhenti tepat di depan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Begitu kaki menginjak aspal...
Saya terdiam beberapa saat. Di hadapan saya berdiri kampus yang pernah menjadi rumah kedua. Di sinilah mimpi-mimpi saya pernah tumbuh. Di sinilah saya belajar menjadi manusia.
Di sinilah Allah mempertemukan saya dengan begitu banyak guru, sahabat, dan pengalaman yang mengubah jalan hidup saya. Saya menoleh kepada Ahmad Dahlan. "Nak...Dulu bapak juga pernah berjalan di jalan ini."
Ia hanya tersenyum. Barangkali hari itu ia belum sepenuhnya memahami kalimat saya. Tetapi saya yakin... Suatu hari nanti ia akan mengerti, bahwa setiap orang memiliki jalan perjuangannya sendiri. Dan setiap perjuangan selalu layak dikenang. (Bersambung)

