In Memoriam: Prof Dr Muhammad Siri Dangnga

Publish

15 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
193
Dok Istimewa

Dok Istimewa

In Memoriam: Prof Dr Muhammad Siri Dangnga: Teguh dalam Pengabdian, Tekun Jalankan Amanah

Oleh : Haidir Fitra Siagian, Kepala Kantor  Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan 2005-2010 / Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Muhammadiyah Sulawesi Selatan berduka. Berita wafatnya Prof. Dr. H. Muhammad Siri Dangnga, MS., pada hari ini membawa kesedihan yang mendalam bagi keluarga  besar Muhammadiyah Kota Parepare pada khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Almarhum  lahir di Menge, Kabupaten Wajo, pada 12 Januari 1952 dan wafat di Parepare pada 14 April 2026. 

Kita kehilangan seorang ulama, pendidik, dan kader Muhammadiyah yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk dunia pendidikan sebagai bagian dari amal usaha Persyarikatan. Kita boleh menyematkan beliau sebagai  pribadi yang tekun dan istiqamah dalam mengemban amanah, sehingga berhasil mengembangkan institusi pendidikan yang dipimpinnya dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan. Dalam setiap peran yang dijalankan, beliau tidak hanya membangun secara fisik kelembagaan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan.  

Bagi saya, beliau bukan sekadar figur akademik dengan berbagai gelar, tetapi pribadi yang telah saya kenal sejak tahun 1990-an, ketika masih menjabat sebagai Ketua STKIP Muhammadiyah Parepare. Saat itu, kampus tersebut masih dalam tahap awal perkembangan sebelum menjadi universitas seperti sekarang. Kesan pertama saya terhadap beliau sangat sederhana namun membekas: sosok yang tidak banyak berbicara, tetapi setiap perkataannya penuh pertimbangan dan makna. 

Sejak saya menjadi staf Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan pada tahun 1990 hingga 2010, saya banyak berinteraksi dengan para rektor dan pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Umumnya, interaksi tersebut berkaitan dengan urusan administrasi, seperti surat keputusan dan berbagai bentuk rekomendasi. Dari sekian banyak pimpinan PTM yang saya kenal, almarhum termasuk sosok yang dapat dikatakan berhasil dalam mengembangkan perguruan tinggi yang dipimpinnya. Saya lihat sendiri, meskipun pernah menjabat sebagai rektor, tidak jarang beliau datang ke kantor Muhammadiyah dengan menggunakan kenderaan umum atau angkutan kota.

Perjalanan pendidikan beliau menunjukkan kesungguhan yang luar biasa. Ia menyelesaikan Strata Satu pada tahun 1981 di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Kemudian melanjutkan Strata Dua pada tahun 1992 di Universitas Hasanuddin dalam bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan fokus pada kependudukan dan keluarga berencana. Selanjutnya, beliau meraih gelar doktor pada tahun 2002 di Institut Pertanian Bogor dalam bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

Dalam suatu kesempatan, ketika menempuh studi doktoralnya di IPB, beliau pernah berbagi cerita tentang seorang teman kuliahnya bernama Hasrul Harahap, yang pernah menjabat sebagai Menteri Kehutanan pada masa Presiden Soeharto. Namun yang beliau ceritakan bukanlah tentang jabatan tokoh tersebut, melainkan sifat kebaikannya. Menurut beliau, Hasrul Harahap dikenal sering membantu teman-temannya secara finansial selama masa studi. Dari cerita itu, terlihat bahwa beliau lebih menghargai nilai kemanusiaan dibandingkan kedudukan. Kebetulan Pak Hasrul Harahap ini satu kampung dengan saya di Sipirok Tapanuli Selatan Sumatra Utara.

Dalam kariernya, beliau pernah menjadi dosen Kopertis Wilayah IX Sulawesi yang diperbantukan di FKIP Universitas Muhammadiyah Parepare. Perannya tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai bagian dari generasi yang membangun dan mengembangkan kampus Muhammadiyah di Parepare hingga mengalami kemajuan yang signifikan.

Saya juga pernah menghadiri momen penting dalam perjalanan akademiknya, yaitu pengukuhan beliau sebagai Guru Besar pada tanggal 8 September 2004 di Parepare, dengan orasi ilmiahnya yang berjudul “Permasalahan Lingkungan dan Pembangunan”. Acara tersebut turut dihadiri oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan KH. Nasruddin Razak dan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Dr. H. Chairil Anwar. Momen itu menunjukkan kapasitas beliau sebagai ilmuwan yang mengabdikan keilmuannya untuk kepentingan umat.

Sebagai kader Muhammadiyah, beliau juga pernah dipercaya sebagai Ketua Majelis Pengembangan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Juga pernah sebagai Ketua Fokal IMM Kota Parepare. Hal ini menunjukkan bahwa pengabdiannya tidak hanya terbatas di dunia akademik, tetapi juga dalam aktivitas sosial dan dakwah persyarikatan.

Dalam masa kepemimpinannya, Universitas Muhammadiyah Parepare mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pada periode 2000–2010, kampus ini dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Sulawesi Selatan di luar Kota Makassar. Mahasiswanya pernah membludak. Beberapa di antara mahasiswanya adalah keluarga istri dari Kabupaten Majene. Keberhasilan ini tentu merupakan hasil dari kerja keras, kesabaran, dan kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Meski sukses memimpin, beliau tidak pernah menganggap Universitas Muhammadiyah Parepare sebagai miliknya. Hal ini terlihat ketika setelah menjabat satu periode sebagai rektor, beliau diminta untuk kembali mencalonkan diri. Namun saat itu beliau tidak bersedia dan justru memberi ruang kepada kader Muhammadiyah lainnya. Sikap ini menunjukkan kebesaran jiwa dan keikhlasan yang jarang dimiliki.

Akan tetapi, ketika pimpinan persyarikatan kembali memintanya untuk memimpin, setelah satu periode berselang, beliau akhirnya bersedia menerima amanah tersebut. Bukan karena ambisi, melainkan karena tanggung jawab. Inilah cerminan kader Muhammadiyah yang sejati sebagaimana sering dikemukakan Prof. Haedar Nashir, tidak mengejar jabatan, tetapi siap menjalankan amanah ketika diminta.

Secara pribadi, hubungan saya dengan beliau juga terjalin melalui putranya, dr. Budiman Siri, yang merupakan sahabat saya semasa kuliah di Universitas Hasanuddin. Kami sama-sama aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dari situ, saya melihat bahwa nilai-nilai yang beliau pegang juga hidup dalam lingkungan keluarganya.

Kini beliau telah kembali kepada Allah SWT. Namun jejak pengabdian yang beliau tinggalkan akan terus hidup. Kita semua percaya bahwasanya institusi yang beliau kembangkan, mahasiswa yang beliau didik, serta nilai-nilai yang beliau tanamkan akan menjadi amal jariyah yang tidak terputus. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah beliau, mengampuni kesalahannya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Mengenal Sejarah Halal Bihalal: Jejak Awal dari Soeara Moehammadijah Oleh: Hening Parlan, Mahasiswa....

Suara Muhammadiyah

30 March 2026

Humaniora

Cerita Pendek Setelah Pemilu Usai Oleh: Ahsan Jamet Hamidi Dalam group Whatapps, Tn Ulfi dikenal s....

Suara Muhammadiyah

6 March 2024

Humaniora

Omon-omon Pak Bei (7): Oleh-oleh Jamnas JATAM Oleh: Wahyudi Nasution KANG NARJO: Selamat ya, Pak B....

Suara Muhammadiyah

24 September 2025

Humaniora

Toko Warisan  Cerpen Imamuzzaman Siddiqi Saat Azar pensiun dia berniat pulang ke kota asal da....

Suara Muhammadiyah

12 December 2025

Humaniora

Sakit Cerpen Affan Safani Adham Tangan kananku masih memegang bor cordless ketika jarum jam suda....

Suara Muhammadiyah

23 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah