Kisah Tarhib Ramadhan di Ranting Muhammadiyah Kakullasan
Penulis: Furqan Mawardi, Ketua LPCRPM PWM Sulawesi Barat
Jumat pagi di tanggal 6 Februari 2026, langit Mamuju tidak menampakkan cahaya sinar mataharinya. Hujan turun sejak subuh, seakan menguji langkah siapa pun yang ingin keluar dari kenyamanan kota. Biasanya kalau situasi seperti ini, kembali ke tempat tidur dan bersembunyi dibalik selimut merupakan pilihan yang paling nikmat. Namun pagi itu, saya bersama istri tercinta memulai perjalanan menuju sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian yaitu berkunjung dan silaturrahim ke Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kakkullasan, Kecamatan Tommo, sebuah kecamatan di pedalaman Mamuju Sulawesi Barat.
Tujuan kami ke Kakullasan adalah untuk menunaikan amanah khotbah Jumat sekaligus mengisi pengajian Tarhib Ramadan. Kakullasan bukanlah tempat yang mudah dijangkau. Ia berada di wilayah balik pegunungan, di tengah hamparan kebun sawit, kebun durian, dan jalan-jalan tanah yang menantang kehati-hatian dan sekaligus keberanian.
Perjalanan dimulai pukul 08.00 pagi. Hujan yang terus turun membuat jalan menjadi licin dan berlumpur. Awalnya perjalanan terasa lancar di jalan poros. Namun ketika memasuki wilayah Tommo, medan berubah drastis. Aspal yang rusak, jalan tanah yang becek, serta jalur naik turun gunung dengan jurang di sisi kiri-kanan menuntut kewaspadaan penuh. Apabila tidak hati-hati dan waspada, kendaraan bisa saja terjun masuk jurang yang dalam.
Sekitar tiga jam perjalanan akhirnya membawa kami tiba di rumah Pak Umar, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tommo. Sambutan hangat langsung terasa. Pisang goreng, teh panas, dan hidangan ayam kampung yang baru dipotong sendiri menjadi penawar lelah yang tak tergantikan. Semua terasa alami, sederhana, namun penuh keberkahan. Silaturahmi seperti inilah yang selalu saya rindukan di setiap perjalanan dakwah di berbagai pelosok daerah.
Menjelang waktu Jumat, perjalanan dilanjutkan menuju Ranting Kakullasan, sekitar 30 menit dari pusat kecamatan. Medannya lebih berat lagi. Tidak ada aspal, hanya jalan tanah yang semakin licin karena hujan. Dalam perjalanan, kendaraan kami terlebih dahulu menjemput beberapa jamaah dan ibu-ibu Aisyiyah yang ingin ikut menghadiri pengajian.
Akhirnya kami tiba di Masjid Jabal Rahmah, sebuah masjid kecil di tengah permukiman yang mayoritas non-Muslim. Sepanjang perjalanan tadi, gereja-gereja besar berdiri kokoh. Di sinilah saya merasakan makna dakwah yang sesungguhnya, yakni tetap berusaha menebar cahaya di tempat yang jumlah jamaahnya sedikit, tetapi semangatnya besar.
Saat adzan Jumat berkumandang, jamaah mulai memenuhi masjid. Dalam isi khotbah jumat yang singkat saya menyampaikan tiga persiapan menyambut ramadhan, yakni kesiapan ilmu dan penguatan iman, memperbanyak taubat dan istighfar, serta persiapan fisik dan harta untuk memperbanyak amal saleh.
Selepas Jumat, suasana justru semakin hidup dan ramai. Ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak-anak berdatangan untuk mengikuti pengajian Tarhib Ramadhan. Dengan bantuan proyektor yang saya bawa, ayat-ayat Al-Qur’an dan materi ditampilkan secara visual, disertai video-video pendek yang relevan dengan materi yang saya sampaikan. Penyampaian seperti ini menjadikan suasana pengajian menjadi lebih hidup, lebih enjoy, tidak monoton dan terkadang disertai penuh senyum dan tawa.
Di tengah hutan, di tempat yang jauh dari kota, semangat belajar mereka begitu luar biasa. Wajah-wajah sederhana itu memancarkan kerinduan yang dalam terhadap ilmu agama.
Setelah pengajian, hidangan khas kampung telah menanti. Aneka kue dengan berbagai macam dan rasanya telah tersedia diatas baki dan juga teh serta kopi yang nikmat menjadi penutup kebersamaan yang penuh kehangatan. Bagi mereka, mungkin ini hal yang biasa. Tetapi bagi saya, ini adalah kemewahan dalam dakwah yang diterima dengan cinta dan penuh keikhlasan.
Saat berpamitan, satu kalimat berulang kali terdengar dari beberapa jamaah:
“Ustadz, sering-seringki’ datang ke sini, ditungguki’..”
Kalimat sederhana dan sopan khas bahasa sulawesi itu terasa berat sekaligus menggetarkan. Jujur sebenarnya saya ingin sering hadir, namun waktu dan amanah yang lain sering menjadi penghalang. Tetapi melihat wajah-wajah penuh harap itu, ada tekad yang kembali menyala bahwa dakwah di daerah pelosok tidak boleh ditinggalkan dan wajib di jadwalkan rutin untuk hadir.
Perjalanan pulang kembali menembus jalan berat yang sama. Namun kali ini hati terasa ringan. Lelah perjalanan seakan terbayar oleh satu hal yang tak ternilai yakni kebahagiaan tersendiri bagi saya karena telah mampu berbagi di tempat yang memang membutuhkan.
Kunjungan ke Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kakullasan mengingatkan saya bahwa ranting adalah ujung tombak dakwah dan pergerakan Muhammadiyah. Dari tempat-tempat yang kecil dan jauh seperti inilah gerakan pengajian wajib adanya untuk terus dijaga dan dipelihara.
Sambil menyetir mobil dengan melewati liukan dan belokan medan perjalanan, dalam hati saya menyemangati diri bahwa dakwah bukan tentang kemudahan perjalanan. Dakwah adalah tentang kesediaan melangkah, berkorban, meski jalan berlumpur, hujan turun, dan medan berat yang menghadang.
Selama masih ada hati yang ingin belajar, selama masih ada jamaah yang menunggu, maka langkah dakwah tidak boleh berhenti. Karena terkadang bahkan sering terjadi, cahaya Islam sering kali paling terang justru di ujung jalan yang paling jauh yang penuh rintangan dan tantangan.

