KJP Plus dan Ojol; Ketika Negara Hadir di Dapur Rakyat, Refleksi Integritas dan Pengabdian
Oleh: Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiyh, Aktifis IPM 1988-1991
Jakarta baru saja dipeluk malam. Lampu-lampu gedung memantul di kaca jendela kantor, temaram dan lelah seperti wajah kota yang tak pernah benar-benar tidur. Aku masih di ruang kerja, menatap lembaran nota dan laporan yang tak kunjung habis.
Selepas Isya, aku membuka berita di layar ponsel untuk sekadar melepas penat. Di antara headline yang biasa saja, mataku tertumbuk pada satu kisah, “Anak Seorang Ojol Raih Beasiswa ke Kanada”.
Aku tertegun. Ada rasa hangat yang tiba-tiba mengalir di dada. Naluriku sebagai pengelola KJP Plus (Kartu Jakarta Pintar Plus) mendorongku untuk menelusuri lebih jauh. Setelah aku cari data di sistem Bank DKI, jantungku berdegup keras ternyata anak penerima KJP Plus itu adalah seorang anak bernama Rifki.
Sudah hampir empat tahun aku berkhidmat di balik program ini, program yang menjadi jembatan antara mimpi anak-anak kecil Jakarta dan kesempatan mereka untuk belajar tanpa lapar. Bersama tim Bank DKI dan beberapa BUMD seperti Pasar Jaya, Darma Jaya, Food Station, serta berikut Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Ketahanan Pangan, plus jaringan RT-RW, kami menyalurkan harapan lewat selembar kartu.
Ada sekitar 850 ribu anak dari keluarga kurang mampu yang menerima manfaat KJP Plus, hampir separuh dari seluruh pelajar di Jakarta. Dana yang digelontorkan Pemprov DKI setiap tahun mencapai empat hingga lima triliun rupiah. Tapi yang paling berharga bukanlah angkanya, namun arti di baliknya dimana negara benar-benar hadir di dapur rakyatnya.
Melalui KJP Plus anak-anak itu bisa menikmati gizi layak setiap bulan berupa beras 10 kilogram, ikan kembung, ayam, daging sapi, telur, dan susu. Barang-barang tersebut disalurkan lewat PD. Pasar Jaya dan tiga ratusan RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak). Semuanya tersistem digital dengan kartu dan EDC Bank DKI agar tak ada yang mengambil ganda atau menyeleweng. Semua pengajuan juga melalui jalur RT, RW, sekolah, dan kelurahan, sehingga lebih adil dan tepat sasaran.
Aku masih ingat bagaimana pagi buta, aku sering mendatangi pasar-pasar itu. Menyapa warga, mengecek kualitas beras, memastikan ayam dan ikan segar, dan melihat sendiri antrian para ibu yang menenteng kartu KJP dengan mata berbinar. Kadang aku berdiri agak jauh, hanya ingin menikmati pemandangan itu, pemandangan tentang rasa syukur.
Selama empat tahun program itu berjalan, nyaris tak pernah ada keluhan besar. Tidak ada kasus kolusi, nepotisme, atau penyimpangan. Memang terkadang ada saja keluhan kecil seperti antrean terlalu lama, atau keterlambatan di satu titik, tapi itu manusiawi. Bagiku semua jerih payah itu terbayar saat melihat anak-anak dari keluarga ojol, buruh, dan pedagang kecil bisa membawa pulang bahan makanan dengan wajah sumringah.
Program KJP Plus pada dasarnya bukan soal bantuan sosial, tapi soal keadilan dan martabat. Program ini jugalah yang menjadi bukti nyata bagaimana cita-cita UUD 1945, “negara melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia”, menemukan bentuknya di meja makan rakyat kecil.
Adanya gizi yang baik melalui program ini tentu akan menumbuhkan semangat belajar yang kuat. Dan dari dapur yang penuh kasih itu, lahirlah anak-anak dengan cita-cita tinggi, yang salah satunya adalah Rifki.
Beberapa saat kemudian, aku akhirnya berhasil menghubungi ayahnya, Pak Sulaeman, seorang pengemudi ojek online. Kami berjanji bertemu. Bersama istrinya, Rifki, kakaknya, dan ibunda mertua. Kami menjamu mereka di sebuah rumah makan di Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat.
Sore itu kami pun wajah-wajah mereka yang penuh cahaya. Kakak Rifki, ternyata juga penerima KJP Plus dan kini kuliah di Universitas Indonesia dengan beasiswa Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU). Sedangkan Rifki sendiri akan segera berangkat ke Kanada dengan beasiswa Indonesia Maju.
Sambil menikmati hidangan, Bu Sulaeman bercerita tentang keseharian mereka. Tentang bagaimana ia menabung sedikit demi sedikit, dan bagaimana Rifki belajar keras di sela suara deru motor ayahnya. “Kami tidak punya banyak, Pak”, katanya dengan mata berkaca. “Tapi kami punya harapan, dan KJP itu membuat kami percaya bahwa pemerintah masih peduli”.
Aku menunduk haru. Di hadapanku duduk keluarga sederhana yang berhasil menaklukkan keterbatasan dengan semangat belajar dan iman kepada Tuhan. Dalam hati aku berbisik, “Inilah buah pengabdian itu”.
Aku juga melihat bahwa di balik keberhasilan program akan ada godaan yang selalu datang. Ada yang mencoba menyusupkan kepentingan. Ada yang menawarkan “persentase” dari anggaran sekitar empat triliun pertahun, atau enam belas trilyun selama aku menjabat. Ada pula bisikan lembut dari mereka yang mewakili “syaitan manusia,” membujuk agar aku ikut menikmati keuntungan dari para vendor beras, daging, dan susu. Aku ingat betul satu kalimat yang pernah terlintas di hati, “Setan tidak selalu datang membawa api, kadang ia datang dengan senyum dan proposal”.
Namun, aku bersyukur karena Allah menjaga langkahku. Aku tak ingin sebutir beras pun dari hak rakyat itu tercemar. Tidak satu rupiah pun kuterima. Tidak satu kilogram pun kuambil. Empat tahun aku diuji, dan empat tahun pula aku berusaha lulus dari godaan itu. Aku hanya ingin hidup lurus, dan bagiku amanah adalah ujian paling berat yang bisa diterima manusia.
Kini aku menulis refleksi ini dari balik ruang sunyi tahanan. Ironis, bukan? Aku yang berjuang menjaga amanah justru sedang menghadapi fitnah dan tuduhan korupsi. Tapi aku tidak marah. Aku hanya merenung, mungkin inilah jalan yang Allah pilih untuk menguji keteguhan hatiku. Untuk menghijrahkan, meng-israkan dan memi’rajkan aku ketempat yang jauh lebih baik, lebih bermanfaat untuk umat manusia dan alam semesta.
Ketika pintu-pintu dunia menutup, justru pintu langit terasa lebih dekat. Aku berdoa dengan penuh keyakinan, “Ya Allah, Engkau Maha Tahu. Jika amal pengabdianku selama ini Engkau terima, jadikanlah ia wasilah pembebasan dan pemulihan nama baikku. Jangan biarkan fitnah menghapus niat baik, dan jadikan ujian ini jalan menuju keikhlasan yang lebih dalam”.
Di tengah malam udara ruang tahanan yang dingin, aku teringat wajah-wajah anak-anak penerima KJP. Wajah Rifki, kakaknya, para ibu di pasar yang tersenyum sambil menenteng beras, yang semuanya terbayang seperti potongan doa yang hidup. Aku merasa barangkali inilah cara Allah menenangkan hatiku, dengan menunjukkan bahwa pengabdian tak pernah sia-sia, meski manusia belum sempat memahaminya. Kisah Rifki dan keluarganya telah meneguhkan keyakinanku bahwa integritas adalah jalan panjang, kadang berliku, kadang sepi. Tapi di ujungnya selalu ada cahaya.
Menurutku negara yang kuat bukan hanya dibangun oleh gedung dan teknologi, tapi oleh hati-hati jujur yang menolak korupsi meski punya kesempatan. Dan kemuliaan sejati bukan pada jabatan, tapi pada keikhlasan menjaga amanah meski tak disorot siapa pun.
Saat ini setiap kali aku mendengar deru motor di luar sana, aku teringat kembali pada Pak Sulaeman. Pada peluhnya, pada doanya yang sederhana, dan pada anak-anaknya yang kini mengibarkan mimpi sampai ke negeri seberang, dan mereka inilah menurutku sebuah simbol kemenangan manusia yang jujur, sabar, dan beriman.
Malam Jakarta mungkin gelap, tapi aku percaya cahaya seperti mereka akan terus menyala, dan mungkin itulah cara Allah menunjukkan bahwa setiap amal walau sekecil apa pun akan tetap berbuah, entah di dunia, entah di akhirat.
Ya Allah Ya Rabb, terimalah amal kecil ini sebagai saksi pengabdianku kepada bangsa, dan Jadikanlah amal itu sebagai wasilah kebebasan dan ridho-Mu.
Rutan Salamba, 22 Oktober 2025
Penulis adalah Direksi Bank DKI (2018 sd 2022) & Dirut Bank Sumut (2023 sd 2025). Esay ini di ketik ulang dari tulisan tangan ayahku yang berada di rutan Salemba & Esay ini bagian dari Manifesto Tawasul Sang Burung Pipit (The Bright Way to Freedom and Faith), salam Ahmad Raihan Hakim (Alumni SMA Muh 3 Jkt 2018)

