Peran Perempuan di Tengah Krisis Iklim: Langkah Nyata Nasyiatul Aisyiyah Melalui Eco-Dakwah
Penulis: Lesti Kaslati Siregar (Ketua Departemen Pendidikan PP Nasyiatul Aisyiyah)
Krisis iklim dewasa ini bukan lagi sekadar persoalan lingkungan hidup. Ia telah menjelma menjadi krisis multidimensi yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, kesehatan, hingga relasi gender. Di berbagai wilayah, terutama kawasan pesisir, daerah pertanian, dan wilayah rawan bencana, dampaknya dirasakan secara nyata oleh perempuan. Ketika musim tak lagi menentu, kekeringan berkepanjangan terjadi, atau banjir datang silih berganti, perempuan menjadi pihak yang pertama kali merasakan konsekuensinya. Mereka harus memastikan ketersediaan pangan, air bersih, kesehatan keluarga, sekaligus menjaga keberlangsungan kehidupan rumah tangga di tengah situasi yang serba tidak pasti.
Laporan Gender Snapshot UN Women (2023) menunjukkan bahwa perubahan iklim memperbesar kesenjangan gender karena perempuan lebih banyak bergantung pada sumber daya alam untuk menopang kehidupan keluarga, sekaligus memiliki akses yang lebih terbatas terhadap sumber daya ekonomi dan pengambilan keputusan. Sementara itu, IPCC Sixth Assessment Report menegaskan bahwa kelompok perempuan, anak-anak, dan masyarakat miskin merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Berangkat dari kesadaran tersebut, organisasi perempuan muda Islam Nasyiatul 'Aisyiyah secara khusus mengangkat isu krisis ekologis sebagai salah satu agenda strategis dalam Muktamar ke-15 di Surakarta, 6–8 Agustus 2026. Langkah ini menunjukkan bahwa isu lingkungan tidak dipandang sebagai persoalan sektoral, melainkan bagian dari ikhtiar membangun keluarga yang tangguh sekaligus masyarakat yang berkeadaban. Tujuannya jelas, yakni merumuskan arah gerakan yang mampu memperkuat ketahanan keluarga dalam menghadapi ancaman krisis iklim yang kian kompleks.
Lebih dari Sekadar Korban
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan dan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan ketika bencana ekologis terjadi. Anak-anak menghadapi risiko terganggunya tumbuh kembang, meningkatnya angka gizi buruk, hilangnya akses pendidikan, bahkan ancaman eksploitasi. Di sisi lain, perempuan mengalami peningkatan beban domestik, mulai dari mencari sumber air bersih, menyediakan pangan keluarga, hingga merawat anggota keluarga yang terdampak.
Namun demikian, Nasyiatul Aisyiyah menolak cara pandang yang hanya menempatkan perempuan sebagai korban yang lemah dan pasif. Perspektif tersebut justru mengabaikan kapasitas perempuan sebagai agen perubahan. Perlindungan terbaik bagi anak, keluarga, dan masyarakat justru berawal dari perempuan yang memiliki pengetahuan, keberdayaan, serta akses terhadap berbagai sumber daya.
Pandangan ini diwujudkan melalui gerakan Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah (KMTNA) yang mendorong perempuan menjadi aktor utama dalam membangun ketahanan keluarga dan komunitas. Di sinilah perempuan tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial.
Kenyataannya, perempuan memiliki modal sosial yang sangat kuat. Mereka menyimpan pengetahuan lokal, memiliki kemampuan beradaptasi dalam keterbatasan, serta membangun jejaring solidaritas yang menjadi fondasi penting dalam proses pemulihan pascabencana. Modal sosial inilah yang menjadi kekuatan utama pembangunan ketahanan masyarakat dari tingkat keluarga hingga komunitas.
Dari Ecolivelihood Menuju Eco-Dakwah
Untuk memperkuat ketahanan tersebut, Nasyiatul Aisyiyah mengembangkan pendekatan ecolivelihood, yakni cara pandang yang mengintegrasikan kemandirian ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan. Pendekatan ini meyakini bahwa kesejahteraan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan ekosistem tempat mereka hidup.
Implementasinya diwujudkan melalui berbagai langkah nyata, antara lain pengembangan ekonomi sirkular dengan mengelola sampah rumah tangga agar memiliki nilai tambah ekonomi; memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan rumah; menyelenggarakan Sekolah Adaptasi Iklim sebagai ruang edukasi kebencanaan; serta mendorong tumbuhnya kewirausahaan hijau berbasis usaha kecil dan menengah yang ramah lingkungan.
FAO berulang kali menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan lokal merupakan salah satu strategi paling efektif menghadapi perubahan iklim, terutama melalui diversifikasi pangan dan pemberdayaan keluarga. Dalam konteks Indonesia, langkah tersebut menjadi semakin relevan karena sebagian besar pengelolaan konsumsi rumah tangga berada di tangan perempuan.
Yang menarik, seluruh gerakan tersebut tidak berhenti pada dimensi teknis semata. Nasyiatul Aisyiyah membingkainya melalui perspektif teologi Islam Berkemajuan. Dalam pandangan Islam, manusia merupakan khalifah fil ardh, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 30, yang mengemban amanah untuk memakmurkan sekaligus menjaga keseimbangan bumi. Amanah kekhalifahan bukanlah legitimasi untuk mengeksploitasi alam, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual untuk merawatnya.
Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas ekologis, melainkan bagian dari dakwah yang menghadirkan kemaslahatan. Semangat inilah yang kemudian diterjemahkan sebagai eco-dakwah—sebuah ikhtiar dakwah yang memadukan nilai-nilai keislaman dengan aksi nyata pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Perspektif ini selaras dengan Risalah Islam Berkemajuan Muhammadiyah yang menempatkan pelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab menghadirkan rahmat bagi seluruh semesta (rahmatan lil 'alamin).
Perubahan Dimulai dari Rumah
Pada akhirnya, ikhtiar menyelamatkan bumi tidak selalu dimulai dari kebijakan besar ataupun teknologi canggih. Perubahan justru berawal dari ruang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu keluarga. Karena itu, kader Nasyiatul 'Aisyiyah dan masyarakat luas diajak membangun kebiasaan-kebiasaan sederhana tetapi berdampak besar, seperti memilah sampah organik dan anorganik, memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayuran, menghemat penggunaan listrik dan air, serta berpartisipasi dalam gerakan "Satu Anggota Satu Pohon" di lingkungan masing-masing.
Langkah-langkah kecil tersebut, apabila dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan, akan membentuk budaya ekologis yang kokoh. Krisis iklim memang merupakan tantangan global, tetapi penyelesaiannya selalu bertumpu pada aksi-aksi lokal yang konsisten.
Melalui gerakan yang membumi inilah Nasyiatul Aisyiyah menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar pihak yang terdampak oleh krisis iklim. Mereka adalah subjek perubahan, penjaga keberlanjutan kehidupan, sekaligus penggerak transformasi sosial. Dari ruang domestik hingga ruang publik, dari keluarga hingga komunitas, perempuan membuktikan bahwa merawat bumi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari merawat peradaban.

