SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Universitas ‘Aisyiyah Surakarta melantik Dyah Rahmawatie Ratna Budi Utami sebagai Rektor untuk periode jabatan 2026-2029. Dyah menggantikan Riyani Wulandari, yang menjabat periode 2022-2025.
Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Pimpinan Pusat ’Aisyiyah Nomor 197/SK-PPA/A/XII/2025 tentang Pengangkatan Rektor Universitas ’Aisyiyah Surakarta Masa Jabatan 2026–2029.
Pelantikan ini dipimpin Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Salmah Orbayinah. “Sanggupkah saudara untuk menjalankan amanat yang diberikan saudara dengan setulus-tulusnya dan sebaik-baiknya?” tanya Salmah. “Sanggup,” sambung Dyah dengan semangat.
Secara khusus Salmah menyampaikan tahniah atas pelantikan rektor ini. Juga mendorong agar transformasi kepemimpinan ini diikutsertakan dengan akselerasi berkelanjutan untuk mewujudkan Unisa Surakarta yang unggul.
“Kalau bisa sebelum Muktamar 2027 bulan November, kita sudah akan melihat Unisa Surakarta terakreditasi unggul. Insyaallah,” harap Salmah, optimis, Kamis (15/1) di Gedung Auditorium Siti Baroroh Baried.
Transformasi kepemimpinan, lanjut Salmah, meniscayakan pola-pola yang baru. Bukan hanya di situ saja, tapi pola lama yang sudah baik, perlu dilanjutkan lagi. “Karena kondisi sekarang semuanya sudah semuanya sangat berubah, jadi harus adaptif, maju, tentunya dilandasi nilai-nilai Islam, iman, dan ikhlas,” tuturnya.
Menjangkarkan pada visi, “Menjadi universitas yang unggul, kompetitif, berbasis nilai-nilai Islam yang berkemajuan ditingkat nasional pada tahun 2030,” bagi Salmah bukan sekadar emblem semata, namun representasi dari cita-cita Unisa Surakarta di masa depan.
“Menghadirkan pendidikan tinggi yang mencerahkan, membebaskan, dan memajukan kehidupan umat dan bangsa,” ujar Salmah.
Di samping itu, perlu memperkuat penelitian yang mendukung peningkatan mutu pendidikan. Menurut Salmah, implementasi penelitian tidak berhenti pada hasil semata, namun demikian harus diaktualisasikan lewat pengabdian masyarakat.
“Jadi pengabdian masyarakat tidak boleh asal, tetapi itu hasil dari riset yang kita lakukan. Semuanya saling berkesinambungan. Dan penelitian maupun pengabdian itu juga mendukung pembelajaran. Jadi saling terikat,” jelasnya.
Karenanya, Unisa Surakarta tidak hanya dikonstruksi sebagai pusat transfer ilmu, tapi pada saat yang sama sebagai pusat transformasi nilai dan sosial. “Universitas jangan hanya sebagai menara gading, tapi menara alir, yang bisa mengalirkan seluruh ilmu yang didapat untuk kebermanfaatan di masyarakat,” tegasnya.
Di sisi lain, Dyah menyampaikan terima kasih kepada rektor sebelumnya atas dedikasi dan keteladanan untuk Unisa Surakarta. “Apa yang kita lanjutkan bukan semata-semata dimulai dari nol, melainkan dibangun dari jejak pengabdian yang telah lebih dahulu beliau tanamkan,” katanya.
Ia berharap transformasi kepemimpinan ini berdampak nyata pada Unisa Surakarta. “Semakin maju dan bermakna bagi umat dan bangsa,” harapnya.
Sementara, Riyani menyebut, amanat yang diberikan sebagai rektor sebelumnya merupakan bentuk tanggung jawab untuk memajukan pendidikan. “Mengembangkan dan menguatkan institusi secara kelembagaan,” sebutnya.
Termasuk, mengembangkan karakter, mengentalkan nuansa Al Islam dan Kemuhammadiyahan. “Serta menyiapkan generasi penerus yang siap menghadapi tantangan zaman,” tandasnya, sebagai kesatuan dari rancang bangun pendidikan untuk melahirkan generasi unggul. (Cris)

