Larangan Imma’ah di Era Artificial Intelligence

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi
Larangan Imma’ah di Era Artificial Intelligence
 
Badru Tamam, Kader Muhammadiyah
 
Apakah kita pernah meminta kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk menjawab persoalan agama, kemudian langsung menerima jawabannya tanpa memeriksa kebenarannya? Pernahkah kita menyalin tulisan yang dihasilkan AI, menganggapnya sebagai kebenaran, lalu menyebarkannya kepada orang lain tanpa melakukan verifikasi?
 
Jika pernah, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya pada diri kita, apakah teknologi yang digunakan benar-benar membantu meningkatkan kecerdasan kita, atau justru perlahan-lahan membuat kita berhenti berpikir?
 
Di tengah perkembangan teknologi digital, AI sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Teknologi ini membantu kita dalam menulis artikel, menerjemahkan bahasa, menganalisis data, menjawab pertanyaan, sampai mencari penjelasan tentang persoalan keagamaan. Adanya AI menawarkan kemudahan kita yang luar biasa. Tapi, di balik kemudahan, ada persoalan yang patut direnungkan, bagaimana agar kita tidak kehilangan kemandirian berpikir ketika berhadapan dengan teknologi?
 
Salah satu perspektif yang menarik untuk membahas persoalan ini adalah hadis Nabi Muhammad SAW, tentang imma’ah. Imma'ah ini adalah sikap seseorang yang hanya mengikuti orang lain tanpa memiliki pendirian dan pertimbangan sendiri. Lalu apakah hadis tersebut dapat menjadi landasan etis untuk memahami penggunaan AI pada masa kini?
 
Untuk menjawabnya, kita perlu membaca hadis tersebut secara cermat, memahami konteksnya, dan menghubungkannya dengan tantangan kehidupan modern.
 
Rasulullah SAWbersabda:
لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا.
Artinya:
“Janganlah kalian menjadi orang yang tidak memiliki pendirian, yang berkata, ‘Jika orang-orang berbuat baik, kami pun berbuat baik dan jika mereka berbuat zalim, kami pun berbuat zalim.’ Akan tetapi, teguhkanlah pendirian kalian. Jika orang-orang berbuat baik, hendaklah kalian berbuat baik dan jika mereka berbuat buruk, janganlah kalian berbuat zalim.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi, nomor 2007, dengan penilaian hasan gharib.
 
Pesan utama hadis ini bukan hanya tentang larangan untuk mengikuti orang lain dalam segala keadaan. Islam justru mengajarkan pentingnya belajar kepada orang yang berilmu, bermusyawarah, dan mengikuti kebenaran. Yang dikritik oleh hadis ini adalah sikap mengikuti secara membabi buta, tanpa mempertimbangkan benar atau salahnya sesuatu.
 
Kata imma’ah menggambarkan orang yang tidak memiliki keteguhan sikap sehingga perilakunya semata-mata bergantung pada apa yang dilakukan orang lain. Orang yang memiliki sifat Imma'ah akan berbuat baik ketika orang lain berbuat baik, tapi ikut berbuat buruk juga ketika lingkungannya melakukan keburukan.
 
Dengan demikian, persoalan utama dalam hadis ini yaitu kehilangan kemampuan untuk menilai secara mandiri dan bertanggung jawab. Maka pesan relevan dengan penggunaan AI yaitu AI bukan masalah, tapi ketergantungan tanpa sikap kritis yang menjadi persoalan.
 
AI pada dasarnya merupakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu kehidupan manusia. AI dapat digunakan untuk menyusun bahan pembelajaran, mencari gagasan, menerjemahkan teks, menganalisis informasi, dan juga mempermudah pekerjaan administratif.
 

Kontekstualisasi Hadis Larangan Imma'ah terhadap Penggunaan AI

Dalam perspektif Islam, pemanfaatan teknologi dapat dipertimbangkan berdasarkan tujuan, manfaat, cara penggunaan, dan dampaknya. Karena itu, tidak tepat apabila hadis tentang imma’ah langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa penggunaan AI dilarang.
 
Ini yang perlu digaris bawahi, bahwa hubungan hadis tersebut dengan AI lebih tepat dipahami melalui pendekatan kontekstual, bagaimana nilai kemandirian moral dan tanggung jawab yang terkandung dalam hadis dapat menjadi pedoman ketika manusia menggunakan teknologi.
 
Bayangkan seorang mahasiswa yang mendapat tugas menulis makalah. Lalu mahasiswa tersebut meminta AI untuk menyusun seluruh isi makalah, kemudian menyerahkannya tanpa membaca, memeriksa sumber, atau memahami argumentasinya. Ketika dosen bertanya tentang isi makalah tersebut, dia tidak mampu menjelaskan apa yang ditulisnya.
 
Dalam situasi ini, masalahnya bukan semata-mata karena mahasiswa menggunakan AI. Persoalannya adalah ia menyerahkan tanggung jawab intelektualnya kepada teknologi.
 
Contoh lain terjadi ketika seseorang meminta AI menjawab persoalan fikih. AI memberikan jawaban yang tampak meyakinkan, lengkap dengan kutipan ayat, hadis, atau pendapat ulama. Tanpa memeriksa keaslian kutipan dan ketepatan kesimpulannya, orang itu langsung menyebarkannya sebagai fatwa agama.
 
Padahal, AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, mengutip sumber yang tidak tepat, atau memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan konteks pertanyaan.
 
Jika seseorang menerima semua jawaban AI, hanya karena jawabannya terdengar cerdas dan meyakinkan, dia berisiko menjadikan teknologi sebagai otoritas yang tidak boleh dipertanyakan. Sikap ini yang secara analogis bisa dikritik dengan nilai yang terkandung dalam hadis tentang imma’ah.
 
Tentu, analogi ini bukan berarti setiap pengguna AI adalah imma’ah. Yang menjadi persoalan adalah ketika penggunaan teknologi membuat seseorang kehilangan pertimbangan kritis, keteguhan moral, dan tanggung jawab atas tindakannya.
 
Dan fenomena tersebut dapat disebut sebagai “taklid digital”, yaitu kecenderungan menerima informasi atau keputusan yang dihasilkan teknologi tanpa pemeriksaan yang memadai.
 
Istilah ini bukan istilah yang disebutkan secara langsung dalam hadis, tapi konsep analitis untuk menjelaskan salah satu tantangan etika penggunaan AI pada masa kini.
 
Dan taklid digital dapat muncul dalam berbagai bentuk. Pertama, menganggap jawaban AI pasti benar. Padahal, AI tidak memiliki jaminan bahwa seluruh informasi yang dihasilkannya akurat. Jawaban yang sistematis dan bahasa yang meyakinkan tidak selalu menunjukkan kebenaran.
 
Kedua, menyerahkan penilaian moral kepada teknologi. Seseorang tidak lagi bertanya apakah suatu tindakan benar atau salah berdasarkan nilai agama, etika, dan dampaknya terhadap orang lain, tapi hanya mengikuti rekomendasi sistem.
 
Ketiga, mengabaikan tanggung jawab pribadi. Ketika tulisan AI mengandung kesalahan, seseorang tidak seharusnya berlindung di balik alasan bahwa kesalahan tersebut dibuat oleh mesin. Pengguna tetap bertanggung jawab atas keputusan untuk memeriksa, menggunakan, atau menyebarkan informasi itu.
 
Keempat, mengikuti arus mayoritas tanpa pertimbangan. Ketika banyak orang menggunakan AI untuk membuat informasi palsu, melakukan plagiarisme, atau menyebarkan konten yang menyesatkan, popularitas praktik itu tidak menjadikannya benar.
 
Maka pesan hadis tentang imma’ah ada relevansinya. Yaitu kemandirian berpikir bukan berarti menolak pendapat orang lain atau menganggap diri sendiri selalu benar. Kemandirian justru berarti memiliki kemampuan untuk menimbang informasi, mengenali keterbatasan diri, menerima kebenaran berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan menolak sesuatu yang keliru meskipun banyak orang melakukannya.
 
Pesan hadis ini dapat diterjemahkan ke dalam sejumlah prinsip dalam penggunaan AI. Pertama, jadikan AI sebagai alat bantu, tapi tidak menjadi sumber kebenaran mutlak.
 
AI dapat membantu membuka wawasan dan menyusun gagasan awal. Tapi, informasi penting tetap perlu diperiksa melalui sumber yang dapat dipercaya, terutama untuk persoalan agama, hukum, kesehatan, dan pendidikan.
 
Kedua, biasakan tabayun dan verifikasi. Islam mengajarkan pentingnya memeriksa informasi sebelum menerimanya dan bertindak berdasarkan informasi tersebut. Dan prinsip ini sejalan dengan QS. al-Hujurat ayat 6 yang memerintahkan orang beriman untuk melakukan tabayun ketika menerima berita dari pihak yang perlu diverifikasi.
 
Dalam penggunaan AI, tabayun dapat dilakukan dengan memeriksa sumber asli, mengecek kutipan, membandingkan informasi, dan memastikan bahwa kesimpulan yang diperoleh sesuai dengan konteks.
 
Ketiga, pertahankan tanggung jawab intelektual. Mahasiswa tetap harus memahami tugasnya. Guru tetap perlu menilai kesesuaian materi dengan kebutuhan peserta didik. Penulis tetap bertanggung jawab atas isi tulisannya. Penggunaan AI semestinya membantu meningkatkan kualitas pekerjaan, bukan menjadi jalan pintas untuk menghindari proses belajar.
 
Keempat, gunakan pertimbangan etis dan agama. Tidak semua hal yang dapat dilakukan dengan AI layak dilakukan. Membuat berita palsu, memanipulasi gambar untuk merusak reputasi seseorang, menyontek, atau menyebarkan fitnah tetap perlu dinilai berdasarkan prinsip moral dan ketentuan yang relevan. Kemampuan teknologi tidak otomatis menjadi pembenaran bagi penggunaannya.
 
Kelima, berani berbeda ketika kebenaran menuntutnya. Jika AI menghasilkan jawaban yang bertentangan dengan sumber yang lebih kuat, jangan takut untuk mengreksinya. Jika mayoritas orang menggunakan AI secara tidak bertanggung jawab, jangan menganggap tindakan itu benar hanya karena sudah menjadi kebiasaan.
 

Tantangan bagi Pendidikan Islam

Lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan penting di era AI ini. Larangan menggunakan teknologi secara menyeluruh bukan satu-satunya solusi. Sebaliknya, membebaskan penggunaannya tanpa aturan juga berisiko mengurangi kualitas proses belajar.
 
Guru dan dosen juga perlu mengarahkan peserta didik agar mampu menggunakan AI secara bertanggung jawab. AI dapat dipakai untuk mencari alternatif penjelasan, menyusun pertanyaan diskusi, atau membantu memahami konsep yang sulit. Tapi, peserta didik tetap perlu membaca sumber, menyusun argumentasi sendiri, dan menjelaskan hasil pemikirannya.
 
Dalam pembelajaran hadis, misalnya, AI dapat membantu memberikan gambaran awal tentang makna sebuah hadis. Tapi, dengan catatan perlu kembali merujuk pada kitab sumbernya, memeriksa kualitas riwayatnya, mempelajari penjelasan ulama, dan membandingkan interpretasi sebelum mengambil kesimpulan.
 
Guru juga dapat memberikan tugas yang menuntut analisis, refleksi, diskusi, dan penerapan pada kasus nyata. Dengan cara ini, AI tidak hanya menjadi alat untuk menghasilkan jawaban, tapi juga menjadi sarana untuk melatih kemampuan mengevaluasi jawaban.
 
Pendidikan Islam tidak cukup menghasilkan orang yang mahir menggunakan teknologi. Pendidikan juga harus membentuk diri yang mampu mengendalikan teknologi berdasarkan ilmu, akhlak, dan tanggung jawab.
 
Dan jangan sampai kita menjadi orang yang semakin canggih teknologinya, tapi semakin lemah kemandirian berpikirnya. Gunakan AI dengan kecerdasan, kendalikan dengan akhlak, dan pertanggungjawabkan dengan ilmu.