Lawan Arus Digital, Nasyiatul Aisiyiyah Ajak Anak Kembali ke Akar Aksara

Suara Muhammadiyah

11 November 2025

755
Foto Istimewa

Foto Istimewa

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Di sudut Car Free Day (CFD) Bukit Kencana Jaya, Meteseh, udara pagi beraroma krayon dan bubuk pensil warna. Puluhan lembar kertas putih berubah jadi kanvas cerita. Anak-anak duduk bersila di atas terpal biru. Fokus mereka bukan pada pedagang di seberang jalan, melainkan pada garis hitam yang harus diisi.

Sebuah tangan mungil, dengan krayon biru indigo yang kokoh, tekun mewarnai figur yang diberi. Di tengah riuh hari Ahad, ini adalah ritual sunting gambar yang menanamkan fondasi berbagi melalui aktivitas motorik sederhana.

Generasi Alpha tumbuh dengan konten digital instan. Menghadapi arus cepat itu, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Semarang menawarkan perlawanan elegan: mengembalikan kecintaan pada bahasa ibu dan nilai luhur melalui seni.

Prasasti Nugrahaing Gusti, S.H., Ketua PDNA Kota Semarang, melihat keramaian anak. Baginya, ini strategi ganda.

"Tujuan utama kami, anak-anak semakin mencintai dan melestarikan bahasa dan sastra Indonesia. Formatnya harus menyenangkan. Kami ajak mereka kembali ke akar aksara di tengah gempuran digital," tegasnya, Ahad (9/11/25).

Keceriaan pagi ini ditopang EMINA (Educare Milik Nasyiatul Aisyiyah). EMINA bukan sekadar lembaga PAUD; ia adalah jaring pengaman bagi ibu-ibu muda kader Nasyiah. Ia memungkinkan mereka aktif berorganisasi tanpa mengabaikan pengasuhan.

Seorang ibu muda yang mendampingi putranya ke acara mengakui, "Saya khawatir dengan screen time anak. Acara ini memberi ruang bernapas, sekaligus tahu bahwa anak saya belajar nilai positif di luar rumah."

Program literasi PDNA ini menjangkau lintas usia. Kategori SMP dan SMA diangkat melalui lomba bercerita, menghidupkan kembali dongeng atau cerita rakyat khas Kota Semarang.

Sementara untuk usia dini, lomba mewarnai dipilih dengan tema spesifik dan kuat: Sedekah.

"Kami memilih tema sedekah untuk menanamkan arti berbagi sejak dini. Aktivitas ini melatih psikomotorik, mengenalkan warna, dan memantik imajinasi positif mereka tentang kebaikan," papar Prasasti.

Di tengah mewarnai, Fajar (7), mengangkat tangannya penuh bangga. "Ini kotak sedekah. Nanti aku mau kasih makanan ke kucing," ujarnya polos.

Sebuah transfer nilai terjadi melalui kehangatan sentuhan dan fokus sederhana: pembelajaran karakter yang melampaui kurikulum.

Matahari makin meninggi. Kertas-kertas gambar itu kini penuh warna, penuh janji. Setiap goresan krayon merekam kejujuran imajinasi anak.

Di tengah arus informasi yang serba cepat, PDNA membuktikan bahwa menanamkan kebaikan dan kecintaan pada bahasa ibu cukup dengan krayon, terpal, dan waktu yang diluangkan. Ini adalah perayaan literasi yang bermula dari tindakan sederhana di kaki bukit Semarang. (Adib Abyan)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Mencetak Generasi Peneliti Muslim Global: Siswa SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring Borong 26 Medali d....

Suara Muhammadiyah

9 October 2026

Berita

ISTANBUL, Suara Muhammadiyah - Pada Jum'at (13/12) 2024 Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

14 December 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Irwan Akib mengajak kepada ....

Suara Muhammadiyah

19 October 2025

Berita

SURABAYA, SuaraMuhammadiyah – Menjelang hari H pemungutan suara, Gerakan Kepanduan Hizbul Wath....

Suara Muhammadiyah

13 February 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua MUI Kota Bandung, KH Miftah Faridl, menyampaikan pandangan....

Suara Muhammadiyah

16 April 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah