Lawan Arus Digital, Nasyiatul Aisiyiyah Ajak Anak Kembali ke Akar Aksara

Suara Muhammadiyah

11 November 2025

726
Foto Istimewa

Foto Istimewa

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Di sudut Car Free Day (CFD) Bukit Kencana Jaya, Meteseh, udara pagi beraroma krayon dan bubuk pensil warna. Puluhan lembar kertas putih berubah jadi kanvas cerita. Anak-anak duduk bersila di atas terpal biru. Fokus mereka bukan pada pedagang di seberang jalan, melainkan pada garis hitam yang harus diisi.

Sebuah tangan mungil, dengan krayon biru indigo yang kokoh, tekun mewarnai figur yang diberi. Di tengah riuh hari Ahad, ini adalah ritual sunting gambar yang menanamkan fondasi berbagi melalui aktivitas motorik sederhana.

Generasi Alpha tumbuh dengan konten digital instan. Menghadapi arus cepat itu, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Semarang menawarkan perlawanan elegan: mengembalikan kecintaan pada bahasa ibu dan nilai luhur melalui seni.

Prasasti Nugrahaing Gusti, S.H., Ketua PDNA Kota Semarang, melihat keramaian anak. Baginya, ini strategi ganda.

"Tujuan utama kami, anak-anak semakin mencintai dan melestarikan bahasa dan sastra Indonesia. Formatnya harus menyenangkan. Kami ajak mereka kembali ke akar aksara di tengah gempuran digital," tegasnya, Ahad (9/11/25).

Keceriaan pagi ini ditopang EMINA (Educare Milik Nasyiatul Aisyiyah). EMINA bukan sekadar lembaga PAUD; ia adalah jaring pengaman bagi ibu-ibu muda kader Nasyiah. Ia memungkinkan mereka aktif berorganisasi tanpa mengabaikan pengasuhan.

Seorang ibu muda yang mendampingi putranya ke acara mengakui, "Saya khawatir dengan screen time anak. Acara ini memberi ruang bernapas, sekaligus tahu bahwa anak saya belajar nilai positif di luar rumah."

Program literasi PDNA ini menjangkau lintas usia. Kategori SMP dan SMA diangkat melalui lomba bercerita, menghidupkan kembali dongeng atau cerita rakyat khas Kota Semarang.

Sementara untuk usia dini, lomba mewarnai dipilih dengan tema spesifik dan kuat: Sedekah.

"Kami memilih tema sedekah untuk menanamkan arti berbagi sejak dini. Aktivitas ini melatih psikomotorik, mengenalkan warna, dan memantik imajinasi positif mereka tentang kebaikan," papar Prasasti.

Di tengah mewarnai, Fajar (7), mengangkat tangannya penuh bangga. "Ini kotak sedekah. Nanti aku mau kasih makanan ke kucing," ujarnya polos.

Sebuah transfer nilai terjadi melalui kehangatan sentuhan dan fokus sederhana: pembelajaran karakter yang melampaui kurikulum.

Matahari makin meninggi. Kertas-kertas gambar itu kini penuh warna, penuh janji. Setiap goresan krayon merekam kejujuran imajinasi anak.

Di tengah arus informasi yang serba cepat, PDNA membuktikan bahwa menanamkan kebaikan dan kecintaan pada bahasa ibu cukup dengan krayon, terpal, dan waktu yang diluangkan. Ini adalah perayaan literasi yang bermula dari tindakan sederhana di kaki bukit Semarang. (Adib Abyan)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Indonesia boleh bangga dengan ribuan kampus dan jutaan mahasiswa baru s....

Suara Muhammadiyah

12 September 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Umat Islam harus berupaya menciptakan kehidupan yang bahagia dan me....

Suara Muhammadiyah

22 November 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Konferensi Islam (OKI) dan Liga Arab berhasil menyelenggarakan Ko....

Suara Muhammadiyah

13 November 2023

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Pemandangan tidak biasa terlihat di Kampus Utama Universitas M....

Suara Muhammadiyah

16 September 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Setiap manusia pernah sakit. Niscaya upaya yang dilakukan ialah ....

Suara Muhammadiyah

12 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah