SEMARANG, Suara Muhammadiyah — Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shodaqoh Muhammadiyah (Lazismu) Banyumanik menggelar workshop berkala untuk memperkuat kedisplinan tata kelola usaha puluhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaannya. Kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 30 pelaku usaha lokal tersebut berlangsung di Omah Dakwah Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Padangsari, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Pada Sabtu (20/6). Langkah ini menjadi strategi konkret untuk menekan angka kegagalan usaha di tingkat akar rumput.
Dalam kegiatan tersebut, Lazismu Banyumanik menghadirkan Nur Sodiq, seorang praktisi kewirausahaan sosial yang telah merintis usaha sejak tahun 2003. Kehadiran pemateri senior ini bertujuan untuk menularkan pengalaman riil serta memotivasi para peserta agar mampu membangun fundamental bisnis yang kokoh. Workshop ini juga terintegrasi langsung dengan agenda monitoring triwulanan yang menjadi ikhtiar bersama dalam program pemberdayaan ekonomi berbasis umat.
Narasumber utama, Nur Sodiq, menegaskan bahwa komitmen penuh untuk mematuhi aturan, jadwal, dan strategi yang telah ditetapkan adalah definisi mutlak dari disiplin berbisnis.
"Disiplin itu ibarat jembatan yang menghubungkan mimpi besar kita dengan kenyataan sukses," ujar Nur Sodiq di hadapan puluhan peserta yang hadir.
Ia memetakan empat aspek krusial yang wajib dipatuhi oleh seluruh pelaku UMKM binaan Lazismu Banyumanik jika ingin mempertahankan eksistensi bisnis mereka di pasar.
Aspek pertama menyasar pada pengelolaan waktu dan komitmen harian. Pengusaha harus selalu menepati janji kepada konsumen, menjaga konsistensi jam buka outlet atau layanan, serta tidak tidur atau bermalas-malasan saat sedang menjaga toko. Aspek kedua yang tidak kalah ekstrem adalah disiplin keuangan. Nur Sodiq menjelaskan bahwa para pelaku usaha untuk memisahkan secara tegas antara uang bisnis dan uang pribadi menggunakan rekening atau dompet yang berbeda.
Terkait pengelolaan keuangan ini, Nur Sodiq menantang para peserta untuk berani hidup prihatin demi masa depan usaha.
"Lakukan ritual makan bubur sego sambel. Jalankan gerakan hemat superketat untuk pengeluaran pribadi Anda dan ra usah isin (tidak usah malu) sampai Anda benar-benar sukses," tegasnya memotivasi peserta.
Selanjutnya, aspek ketiga adalah disiplin strategis, di mana pengusaha harus berpegang teguh pada rencana bisnis awal dan fokus mengejar target tanpa terpengaruh oleh gangguan eksternal.
Aspek terakhir meliputi disiplin operasional dan evaluasi yang menuntut kepatuhan terhadap Standard Operating Procedure (SOP) demi menjaga kualitas produk, serta keharusan melakukan tinjauan performa bisnis secara berkala, baik mingguan maupun bulanan.
Nur Sodiq mengingatkan dampak buruk jika pelaku usaha mengabaikan formula tersebut.
"Ketika Anda tidak disiplin dalam berbisnis, operasional akan kacau, krisis keuangan mengintai, reputasi Anda rusak, dan bisnis pasti berpotensi gagal," cetusnya mengingatkan.
Sebagian besar UMKM binaan di wilayah Banyumanik ini bergerak di sektor kuliner rumahan, kerajinan tangan, dan jasa skala domestik. Tantangan riil yang paling sering muncul adalah fenomena percampuran arus kas (cash flow) usaha dengan dompet rumah tangga.
Banyak pedagang yang mengeluhkan modalnya habis tidak berbekas karena terpakai untuk keperluan konsumsi harian keluarga, meskipun omzet harian mereka relatif besar. Kondisi inilah yang membuat perkembangan usaha mikro di kawasan tersebut cenderung jalan di tempat.
Program workshop dan monitoring yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Lazismu untuk mengubah status mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat).
Pendekatan yang digunakan kini bergeser dari sekadar pemberian bantuan modal pasif menjadi pendampingan edukatif yang terukur. Melalui forum berkala ini, para pelaku UMKM juga dapat saling berdialektika, berbagi solusi atas kendala logistik, serta membangun jejaring pasar yang lebih luas di wilayah Banyumanik.

