Lazismu dan Sibermu Kolaborasi, Hadirkan 1.000 Beasiswa untuk Perluas Akses Pendidikan
SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Universitas Siber Muhammadiyah (Sibermu) menjalin kolaborasi dalam 1.000 program Siber-Lazismu.
Penandatanganan MoU ini berlangsung dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lazismu 2027 di Radjawali Semarang Cultural Center, Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/11).
Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hilman Latief menyebut, MoU ini merupakan hasil diskusi Rektor Sibermu dengan jajaran pimpinan Lazismu Pusat. Menurutnya, selama ini, Muhammadiyah lewat Lazismu memberikan cukup banyak beasiswa kepada teman-teman di berbagai lembaga pendidikan.
"Namun, pada saat yang sama, kita juga mengetahui bahwa akses terhadap bangku pendidikan belum merata. Jenis pendidikannya pun berbeda-beda," ujar Hilman saat ditemui jurnalis Suara Muhammadiyah usai acara.
Menurutnya, Sibermu sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah pertama yang menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh dan telah mendapatkan rekognisi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
"Ini kuliahnya 100% online. Ternyata model pembelajaran saat ini yang digital ini menjadi salah satu alternatif. Kualitasnya juga sangat bagus," ungkapnya.
Hilman berharap, Lazismu Lazismu di berbagai daerah dapat membiayai orang-orang yang mungkin sudah memiliki pekerjaan atau kesibukan, tetapi tetap ingin mengenyam pendidikan.
"Kita berharap akses pendidikan ini menjadi lebih inklusif," ujarnya. Selain itu, kita juga berharap semakin banyak orang yang bisa mendapatkan beasiswa.
"Mudah-mudahan tahun depan Lazismu bisa 1000 orang dikasih beasiswa oleh Lazismu untuk sekolah," sambungnya.
Ketua Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Imam Mujadid Rais mengatakan, Lazismu memiliki komitmen yang sangat kuat di bidang pendidikan.
"Sebab, kita tahu tantangan ke depan, seperti Generasi Emas dan Indonesia Emas, membutuhkan pembentukan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni," sebutnya. Di situlah pendidikan menjadi sangat fundamental.
"Satu-satunya jalan terbaik untuk mewujudkannya adalah melalui pendidikan," tegasnya.
Namun, diakuinya impitan kondisi ekonomi, menyebabkan banyak anak-anak kurang beruntung dalam mengakses pendidikan. Terlebih lagi mereka yang berada di daerah terpencil, pelosok, atau kawasan 3T.
"Mereka memiliki keterbatasan. Nah, ini membutuhkan sebuah breakthrough atau terobosan. Bagaimana kita tetap bisa membantu mereka melalui cara yang tidak menyulitkan," kata Rais.
Terkadang, banyak yang memberikan beasiswa, tetapi kampusnya berada di luar domisili yang bersangkutan. "Biaya transportasinya saja sudah mahal, belum lagi biaya hidup dan sebagainya," ungkapnya.
Di sinilah Lazismu menjalin kolaborasi dengan Sibermu. Dan Rais, mendukung penuh program tersebut.
"Program ini bisa membuat teman-teman kita memiliki akses yang lebih mudah karena pertemuan tatap mukanya bisa dihitung jari. Namun, bukan berarti kemudian kualitasnya ditinggalkan. Mereka tetap mengontrol kualitasnya," jelasnya.
Peruntukan program ini akan dilakukan proses seleksi yang ketat. Sehingga penerima beasiswa tersebut benar-benar tepat sasaran.
"Pasti nanti akan ada rekrutmen terbuka, siapa yang berhak dan siapa yang bisa mendaftar (apply), serta apa saja persyaratannya. Tentu dengan seleksi yang ketat supaya beasiswa ini diterima oleh penerima manfaat yang tepat," terangnya.
Sisi lain, Rektor Sibermu Bambang Riyanta menyatakan, konsep dari beasiswa ini berbasis pemberdayaan. Menurutnya, dukungan biaya pendidikan dipadukan dengan sistem kuliah jarak jauh di SiberMu, sehingga kesempatan belajar lebih mungkin dimanfaatkan oleh masyarakat yang terkendala biaya, jarak, atau waktu.
"Besaran bantuan, komponen biaya yang ditanggung, serta masa pembiayaannya mengikuti ketentuan resmi program sekitar 2,1 jt an per semester atau sekitar 18 jt an sampai selesai," bebernya.
Prinsip SiberMu sendiri adalah memfokuskan bantuan ini tepat sasaran dan kesempatan belajar yang dijalani para penerima beasiswa dilakukan dengan sungguh-sungguh.
"Kami ingin beasiswa ini menjadi bekal untuk membangun kemampuan, kemandirian, dan kepedulian kepada sesama," tegasnya.
Ditambahkan Bambang, kelompok yang terutama ingin dijangkau adalah masyarakat yang memiliki kemauan dan potensi untuk melanjutkan pendidikan, tetapi menghadapi keterbatasan akses.
"Perhatian kami tertuju pada lulusan SMA, SMK, MA, atau sederajat dari keluarga kurang mampu, serta mereka yang belum sempat kuliah karena harus bekerja dan membantu keluarga," ungkapnya.
Bambang membuka peluang bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pendidikan tinggi, serta kader dan penggerak masyarakat yang memerlukan peningkatan kompetensi untuk memperkuat pengabdiannya.
"Model pendidikan jarak jauh memberi peluang bagi mereka untuk belajar tanpa harus berpindah tempat tinggal, dengan tetap memperhatikan kesiapan mengikuti pembelajaran digital," tandasnya. (Cris)