Madrasah Muhammadiyah Mau Ke Mana?; Refleksi Pasca-Diksuskamad Muhammadiyah
Oleh: Agus Sholeh, Anggota Pimpinan Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah
Empat hari Pendidikan Khusus Kepala Madrasah (Diksuskamad) Muhammadiyah Regional 1 telah usai. Para peserta, yaitu kepala madrasah Muhammadiyah sudah kembali ke daerah masing-masing, dengan membawa pengalaman, gagasan, jejaring, dan semangat baru.
Kegiatan yang berlangsung 27–30 Agustus 2026 di BBPPMPV Sawangan, Depok, Jawa Barat, itu sejatinya memang telah ditutup. Semua peseta, Alhamdulillah Lulus, ada yang hasilnya BAIK, dan banyak pula yang SANGAT BAIK. Tetapi sesungguhnya, pertanyaan penting justru baru dimulai yaitu Mau Kemana Madrasah Muhammadiyah Setelah Diksuskamad ?
Pertanyaan ini terasa penting karena Diksuskamad Muhammadiyah bukan sekadar sebuah pelatihan untuk menambah pengetahuan kepala madrasah. Ia seharusnya menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan madrasah Muhammadiyah secara lebih jernih, yaitu di mana posisi kita hari ini, apa yang ingin kita capai, dan perubahan apa yang harus segera dilakukan ?
Kita memiliki modal yang tidak kecil. Hampir dua ribu madrasah Muhammadiyah tersebar di berbagai daerah Indonesia. Ada yang sudah berkembang menjadi madrasah unggulan, tetapi masih banyak pula yang berjalan biasa-biasa saja. Tidak buruk, tetapi juga belum menunjukkan keunggulan yang membuat masyarakat menjadikannya pilihan pertama.
Di sinilah persoalannya. Apakah kita puas sekadar memiliki banyak madrasah Muhammadiyah, atau ingin membangun madrasah Muhammadiyah yang bermutu dan menjadi rujukan?
Pertanyaan tersebut sejalan dengan pesan Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i dalam Diksuskamad. Ia mengingatkan bahwa kepala madrasah Muhamadiyah bukan hanya seorang pemimpin administrasi, tetapi dia adalah pemimpin karakter dan budaya madrasah. Pendidikan Islam, menurutnya, bukan sekadar mengajarkan agama, melainkan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi dalam proses pencarian, pengembangan, pengamalan, dan pemanfaatan ilmu.
Pesan ini sangat relevan bagi madrasah Muhammadiyah, juga sekolah Muhammadiyah, agar lembaga Pendidikan Muhammadiyah itu bermutu, bermartabat dan menjadi pilihan cerdas masyarakat.
Madrasah tidak cukup hanya memiliki pelajaran agama lebih banyak. Identitas keislaman semestinya terasa dalam seluruh ekosistem Pendidikan, baik dalam cara guru mengajar, kepala madrasah memimpin, peserta didik belajar, warga madrasah memperlakukan sesama, hingga bagaimana ilmu pengetahuan digunakan untuk memberikan manfaat.
Dengan kata lain, Islam bukan sekadar isi kurikulum. Islam harus menjadi cara pandang dan budaya pendidikan di lingkungan sekolah, madrasah dan pesantren Muhammadiyah.
Namun, visi yang besar tentu membutuhkan kepemimpinan yang besar pula. Disinilah Diksuskamad Muhammadiyah yang pertama ini diharapkan dapat memperlihatkan daya dorongnya untuk kemajuan madrasah Muhammadiyah.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah Didik Suhardi mengingatkan bahwa madrasah Muhammadiyah harus mampu menjadi pilihan pertama calon wali murid. Untuk sampai ke sana, setidaknya ada enam pekerjaan besar, yaitu memperkuat mutu layanan, meningkatkan kualitas pendidikan, membenahi sarana-prasarana, meningkatkan kualitas SDM, memperluas kerja sama, dan memperkuat kepemimpinan.
Enam hal tersebut sebenarnya sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia sering dianggap sepele.
Padahal wali murid merasakan mutu madrasah bukan hanya dari nilai ujian anaknya. Mereka merasakannya sejak pertama kali datang, yaitu bagaimana mereka disambut, bagaimana lingkungan madrasah terlihat, bagaimana guru berkomunikasi, bagaimana kepala madrasah menjawab pertanyaan, bagaimana anak-anak diperlakukan, dan apakah madrasah mampu memberikan rasa aman sekaligus harapan bagi masa depan anak mereka.
Karena itu, mutu bukan sekadar dokumen. Mutu adalah pengalaman. Mutu adalah sebuah pertanggung jawaban kepada umat dan bangsa.
Madrasah Muhammadiyah harus mulai berani melihat dirinya dari sudut pandang masyarakat. Jika orang tua diberi banyak pilihan, mengapa mereka harus memilih madrasah Muhammadiyah? Apa keunggulan yang benar-benar kita tawarkan?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak cukup dengan mengatakan bahwa kita membawa nama besar Muhammadiyah.
Nama Muhammadiyah memang sebuah modal sosial yang kuat. Tetapi nama besar adalah amanah, bukan jaminan mutu. Brand Muhammadiyah harus diterjemahkan menjadi pengalaman pendidikan yang bermutu, berkarakter Islami, modern, inklusif, dan berkemajuan.
Di sinilah kepemimpinan kepala madrasah menjadi sangat menentukan.
Prof. Irwan Akib mengingatkan bahwa madrasah atau sekolah yang berdiri lebih lama tidak otomatis lebih maju. Sekolah yang sudah lama berdiri bahkan dapat tertinggal apabila pemimpinnya kehilangan daya inovasi. Kepala sekolah dan madrasah harus berani berpikir kritis, berinovasi, dan memiliki mimpi besar.
Pesan ini penting untuk kita renungkan lebih dalam. Kita tidak sedang hidup pada zaman ketika perubahan terjadi secara perlahan. Dunia pendidikan sedang berhadapan dengan teknologi digital, kecerdasan artifisial, perubahan karakter peserta didik, tuntutan kompetensi baru, dan persaingan lembaga pendidikan yang semakin terbuka.
Maka kepala madrasah tidak cukup menjadi administrator yang tertib. Ia harus menjadi pemimpin perubahan. Ia harus mampu membaca masa depan, membangun tim, mengembangkan guru, berani mengambil keputusan, menciptakan inovasi, membangun jejaring, dan menggerakkan seluruh warga madrasah menuju tujuan bersama.
Diksuskamad Muhammadiyah menjadi penting karena perubahan madrasah pada akhirnya memang sangat bergantung pada kualitas pemimpinnya. Tetapi ada satu hal yang jangan sampai kita lupakan yaitu Diksuskamad Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada ruang kelas pendidikan.
Empat hari belajar harus menghasilkan perubahan yang dapat dilihat di madrasah. Karena itu, pesan penutupan Diksuskamad sangat tepat dimana para peserta diminta segera menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) dan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. Bahkan ada target yang cukup berani bagaimana mereka bisa meningkatkan perolehan murid baru hingga 200 persen.
Target tersebut tentu bukan sekadar soal angka. Murid baru adalah salah satu indikator kepercayaan masyarakat. Jika masyarakat semakin percaya, mereka akan datang. Tetapi kepercayaan tidak dapat dibangun melalui promosi semata. Ia lahir dari mutu layanan, pembelajaran yang baik, guru yang kompeten, lingkungan yang nyaman, karakter peserta didik, prestasi, dan reputasi yang terus dibangun.
Karena itu, setelah Diksuskamad Muhammadiyah, yang kita perlukan bukan sekadar RTL setiap kepala madrasah. Kita membutuhkan gerakan bersama untuk mentransformasi madrasah Muhammadiyah.
Bayangkan jika para lulusan Diksuskamad Muhammadiyah Sawangan ini tidak berjalan sendiri-sendiri. Mereka kemudian membangun jejaring kepala madrasah Muhammadiyah, saling berbagi praktik baik, melakukan benchmarking, mendampingi madrasah yang sedang tumbuh, dan bersama-sama mencari solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Hampir dipastikan Diksuskamad ini benar membawa perubahan. Itulah esensi dari Tajdid dan Berkemajuan.
Karena itu, dari sinilah kita berharap agar Diksuskamad Muhammadiyah dapat berkembang dari sebuah program pelatihan menjadi sebuah gerakan peningkatan mutu.
Harus diakui bahwa tantangan setiap madrasah Muhammadiyah tidak sama. Ada madrasah yang kuat secara akademik, tetapi lemah dalam tata kelola. Ada yang memiliki guru bagus, tetapi kekurangan sarana. Ada yang memiliki gedung baik, tetapi belum memiliki budaya mutu. Ada pula yang memiliki potensi besar, tetapi belum menemukan keberanian untuk berubah. Karena itu, pendekatannya tidak bisa seragam.
Dengan kondisi seperti ini maka kita membutuhkan peta jalan. Madrasah Muhammadiyah harus tahu hendak dibawa ke mana.
Apakah tujuan kita hanya agar madrasah bertahan? Tentu tidak.
Apakah cukup jika madrasah hanya memenuhi standar administratif? Juga tidak.
Kita harus berani memasang cita-cita yang lebih tinggi bagaimana madrasah Muhammadiyah menjadi lembaga pendidikan Islam yang unggul, berkarakter, adaptif terhadap perubahan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki budaya mutu, serta tetap kokoh dalam nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan.
Bahkan Wakil Menteri Agama memberikan tantangan yang jauh lebih besar. Ia berharap madrasah Muhammadiyah tidak hanya menjadi pilihan masyarakat, tetapi berkembang menjadi rujukan pendidikan madrasah di Indonesia, bahkan di dunia.
Ini bukan lagi sekadar harapan. Ini adalah tantangan.
Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam pendidikan, jaringan kelembagaan yang luas, pengalaman mengelola sekolah dan madrasah, serta tradisi tajdid yang seharusnya membuat kita tidak takut terhadap perubahan. Modal tersebut semestinya cukup untuk melahirkan model madrasah Muhammadiyah yang dapat menjadi contoh bagi pendidikan Islam Indonesia.
Namun, semua itu hanya akan menjadi potensi jika tidak diterjemahkan menjadi kerja nyata. Maka pertanyaan “Madrasah Muhammadiyah mau ke mana?” sesungguhnya adalah pertanyaan tentang keberanian kita menentukan masa depan.
Kita ingin ke mana? Ke masa lalu, dengan bangga mengulang keberhasilan yang pernah dicapai? Atau ke masa depan, dengan keberanian menciptakan sesuatu yang belum pernah kita lakukan?
Diksuskamad Regional 1 telah memberikan energi awal. Masih ada rangkaian regional berikutnya. Tetapi keberhasilan program ini pada akhirnya tidak diukur dari berapa banyak kepala madrasah yang dinyatakan lulus. Keberhasilannya akan terlihat dari berapa banyak madrasah yang benar-benar berubah setelah kepala madrasahnya pulang.
Apakah layanan menjadi lebih baik?
Apakah pembelajaran menjadi lebih bermutu?
Apakah guru berkembang?
Apakah lingkungan madrasah semakin nyaman?
Apakah prestasi meningkat?
Apakah jejaring semakin luas?
Dan yang paling penting yaitu apakah masyarakat mulai melihat madrasah Muhammadiyah sebagai pilihan pertama bagi pendidikan anak-anak mereka?
Jika jawabannya ya, maka Diksuskamad telah menemukan maknanya.
Jika tidak, kita perlu bertanya kembali yaitu apa yang kurang?
Karena itu, Diksuskamad Muhammadiyah jangan dianggap sebagai akhir dari sebuah kegiatan. Ia harus menjadi awal dari perjalanan panjang transformasi madrasah Muhammadiyah.
Diksuskamad Muhammadiyah telah berlalu. Para kepala madrasah telah kembali ke rumah masing-masing. Kini saatnya kembali ke madrasah, bukan hanya dengan membawa sertifikat kelulusan, tetapi membawa keberanian untuk berubah.
Sebab madrasah Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi bagian dari sejarah pendidikan Muhammadiyah. Ia harus ikut menulis masa depan pendidikan Islam Indonesia. Karena itu ingat seperti pesan di kelas, Mari Berkarya Agar Dibaca Dunia.
Dan mungkin, dari seluruh refleksi pasca-Diksuskamad ini, pertanyaan paling penting bukan lagi “Madrasah Muhammadiyah Anda mau ke mana?”. Melainkan “Apa yang akan kita lakukan mulai hari ini agar madrasah Muhammadiyah sampai ke sana?”

