PADANG, Suara Muhammadiyah — Satu jiwa, dua potensi. Bisa menjadi bintang, bisa menjadi debu. Tergantung siapa yang kita ikuti.
Kalimat itu meluncur lembut namun menghujam dari mimbar Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat, Selasa (17/2) malam. Ratusan jamaah yang baru menunaikan shalat Isya sontak terdiam. Ketua Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar, Ki Jal Atri Tanjung, kembali mengguncang malam pertama tarawih Ramadhan 1447 H dengan ceramah yang menyentuh relung jiwa terdalam.
Dengan suara mantap, Ki Jal Atri membacakan firman Allah dalam Surah Asy-Syams ayat 7-8:
"Wanafsin wamaa sawwaahaa. Fa-alhamahaa fujuurahaa wa taqwaahaa."
"Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Dia ilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaan."
"Subhanallah," ucapnya pelan. "Allah bersumpah demi jiwa. Bukan demi langit, bukan demi bumi, tapi demi jiwa manusia. Karena jiwa inilah yang akan menentukan segalanya. Dan dalam satu jiwa, Allah tanamkan dua potensi yang saling bertolak belakang: fujur dan taqwa."
Jamaah mendengarkan dengan seksama. Malam itu, masjid yang biasanya ramai dengan aktivitas tarawih mendadak sunyi, hanya suara Ki Jal Atri yang menggema.
Apa Itu Fujur?
Ki Jal Atri kemudian menjelaskan makna fujur dengan gamblang.
"Fujur berasal dari kata fajara yang berarti merobek, melubangi, atau meledak," jelasnya. "Dalam konteks jiwa, fujur adalah potensi untuk merobek tabir kebaikan, melubangi hati dengan dosa, meledakkan amarah yang membinasakan."
Ia memberi ilustrasi sederhana.
"Coba bayangkan kain yang baru, bersih, putih. Lalu kita robek sedikit. Maka robekan itu akan semakin besar jika ditarik. Begitulah fujur. Awalnya hanya dosa kecil, sekadar robekan kecil di hati. Tapi kalau dibiarkan, ia akan merobek seluruh kebaikan dalam diri."
Jamaah manggut-manggut. Banyak yang tersadar betapa dosa-dosa kecil yang dianggap remeh selama ini bisa menjadi lubang besar yang menenggelamkan.
"Orang yang fujur," lanjut Ki Jal Atri, "adalah orang yang jiwanya sudah jebol. Tidak ada lagi sekat antara dia dan maksiat. Hati yang seharusnya menjadi penjaga perilaku, justru menjadi komplotan setan untuk berbuat dosa."
Di sisi lain, Allah juga mengilhamkan potensi takwa.
"Takwa dari kata waqa yang berarti memelihara, menjaga, melindungi," terang Ki Jal Atri. "Jika fujur merobek, takwa menjahit. Jika fujur melubangi, takwa menambal. Jika fujur meledakkan, takwa menahan."
Ia mengajak jamaah merenungkan bagaimana Allah memberikan kedua potensi ini sebagai ujian.
"Allah tidak menciptakan kita sebagai malaikat yang suci tanpa dosa. Allah juga tidak membiarkan kita seperti hewan yang tak punya pilihan. Allah ciptakan kita sebagai manusia dengan dua potensi: bisa memilih fujur, bisa memilih takwa. Dan pilihan itulah yang menentukan nasib kita di akhirat kelak."
Ki Jal Atri kemudian mengaitkannya dengan puasa Ramadhan. Ia kembali membacakan Surah Al-Baqarah ayat 183:
"Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba 'alaikumush shiyaamu kamaa kutiba 'alalladziina min qablikum la'allakum tattaquun."
"Puasa diwajibkan agar kita bertakwa," tegasnya. "Artinya, puasa adalah sekolah untuk mengelola dua potensi dalam jiwa. Melalui puasa, kita dilatih memperkuat potensi takwa dan melemahkan potensi fujur."
Ia menjelaskan bagaimana mekanisme puasa bekerja dalam jiwa.
"Setiap kali kita menahan lapar, kita sedang mengatakan pada potensi fujur: 'Kamu tidak berkuasa atasku!' Setiap kali kita menahan amarah, kita sedang mengatakan pada potensi fujur: 'Diam, aku yang pegang kendali!' Setiap kali kita menahan pandangan dari yang haram, kita sedang memberi makan potensi takwa."
"Sehingga," lanjutnya, "setelah sebulan penuh berlatih, insyaAllah potensi takwa dalam diri kita menjadi lebih kuat, dan potensi fujur menjadi lemah. Itulah tujuan puasa: la'allakum tattaquun—agar kamu bertakwa."
Pertanyaan khas Ki Jal Atri yang sempat menggelitik jamaah kembali diulang.
"Kenapa Allah tidak mewajibkan puasa pada ayam? Karena ayam tidak punya dua potensi ini. Ayam tidak punya pilihan antara fujur dan takwa. Ayam makan karena lapar, itu fitrahnya, bukan fujur. Ayam tidur karena mengantuk, itu tabiatnya, bukan dosa."
"Tapi manusia," katanya dengan nada serius, "manusia makan bisa menjadi fujur kalau berlebihan, kalau memakan yang haram, kalau melupakan yang kelaparan di sebelah rumah. Manusia marah bisa menjadi fujur kalau melukai, merusak, membenci tanpa kendali. Karena itulah manusia perlu puasa, perlu sekolah mengendalikan dua potensi ini."
Sampai di sini, Ki Jal Atri membawa jamaah pada puncak ceramah. Ia membuka lembaran baru Al-Qur'an, Surah Az-Zumar ayat 33. Ayat yang mungkin jarang dihafal, tapi maknanya sangat dalam.
"Walladzii jaa-a bishshidqi wa shaddaqa bihii ulaa-ika humul muttaquun."
"Dan orang yang membawa kebenaran dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa."
Jamaah mendengarkan dengan saksama. Ki Jal Atri mengulang ayat itu sekali lagi, pelan, agar meresap ke dalam hati.
"Perhatikan baik-baik," katanya. "Allah tidak sembarangan menyebut orang bertakwa. Ada kriteria khusus di sini: walladzii jaa-a bishshidqi—orang yang membawa kebenaran, dan wa shaddaqa bihii—orang yang membenarkannya. Merekalah muttaquun, orang-orang bertakwa."
Ki Jal Atri kemudian menjelaskan tafsir sederhana ayat ini.
"Siapa yang dimaksud alladzi jaa-a bishshidqi—orang yang membawa kebenaran? Dalam tafsir klasik, ini merujuk pada para nabi dan rasul, terutama Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang membawa Al-Qur'an, kebenaran mutlak dari Allah."
"Tapi," lanjutnya, "apakah peran kita berhenti hanya sebagai pengikut? Tidak! Karena Allah juga menyebut wa shaddaqa bihii—orang yang membenarkannya. Kita yang hidup setelah Rasulullah, tugas kita adalah membenarkan apa yang beliau bawa. Mengimani, meyakini, dan mengamalkan."
"Dan jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh," suaranya meninggi, "maka Allah masukkan kita ke dalam golongan muttaquun! Orang-orang bertakwa!"
Jamaah gempar. Udara masjid terasa bergetar oleh kebesaran janji Allah.
Ki Jal Atri kemudian mengaitkan ayat ini dengan pembahasan sebelumnya tentang dua potensi jiwa.
"Lihatlah keterkaitan yang indah ini," ujarnya penuh semangat. "Dalam Surah Asy-Syams, Allah beri kita dua potensi: fujur dan takwa. Lalu dalam Surah Az-Zumar, Allah jelaskan siapa yang layak menyandang predikat muttaquun: yaitu mereka yang menerima kebenaran dan mengamalkannya."
"Jadi," lanjutnya, "potensi takwa dalam diri kita tidak akan berkembang otomatis. Ia butuh asupan. Dan asupannya adalah shidq—kebenaran. Kita harus terus menerima kebenaran, terus membenarkan ajaran Rasul, terus belajar Al-Qur'an, terus memperbaiki iman. Barulah potensi takwa itu tumbuh."
"Sebaliknya," katanya dengan nada peringatan, "kalau kita menjauhi kebenaran, malas belajar agama, malas ke masjid, malas baca Qur'an, maka potensi fujur yang akan tumbuh. Karena jiwa butuh asupan. Kalau tidak diisi takwa, ia akan diisi fujur."
Ki Jal Atri kembali ke Surah Asy-Syams ayat 9-10 untuk menutup rangkaian penjelasannya:
"Qad aflaha man zakkaahaa. Wa qad khaaba man dassaahaa."
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh celaka orang yang mengotorinya."
"Dua potensi dalam jiwa," katanya pelan. "Dua ujung yang berseberangan. Dan Allah beri kita petunjuk: jadilah muttaquun dengan menerima kebenaran. Siapa yang memilih menyucikan jiwa dengan kebenaran, ia beruntung. Siapa yang memilih mengotori jiwa dengan berpaling dari kebenaran, ia celaka."
Ia lalu mengajak jamaah merenungkan kondisi jiwa masing-masing.
"Coba tanya diri kita hari ini: potensi mana yang sedang kita besarkan? Apakah kita sedang merawat fujur dengan terus bergosip, dengan terus iri pada nikmat orang, dengan terus marah tanpa kendali? Atau kita sedang menguatkan takwa dengan terus belajar kebenaran, dengan terus membenarkan ajaran Rasul, dengan sabar, syukur, dan maaf?"
"Ramadhan ini adalah kesempatan untuk evaluasi. Jangan biarkan fujur tumbuh besar. Jangan biarkan jiwa kita kotor. Karena jiwa yang kotor pasti celaka. Wa qad khaaba man dassaahaa—sungguh celaka orang yang mengotorinya."
Ceramah yang berlangsung sekitar 40 menit itu berakhir dengan suasana haru. Beberapa jamaah tak kuasa menahan air mata. Mereka seperti baru menyadari betapa besar amanah yang Allah berikan: satu jiwa dengan dua potensi, dan mereka bebas memilih, tapi konsekuensinya kekal selamanya.
Seorang jamaah paruh baya diam-diam mengusap matanya. Seorang pemuda di shaf depan tertunduk lama, mungkin sedang bertanya pada diri sendiri: potensi mana yang selama ini ia besarkan? Apakah ia termasuk alladzi jaa-a bishshidqi wa shaddaqa bihii?
Menjelang witir, Ki Jal Atri memberi pesan penutup. "Jamaah sekalian, di dalam diri kita bersemayam dua potensi: fujur dan takwa. Fujur menarik kita ke neraka, takwa menarik kita ke surga. Dan Allah beri kita kunci untuk memilih: terima kebenaran, amalkan, maka kita jadi muttaquun. Atau berpaling, maka fujur yang akan tumbuh."
"Kita punya akal untuk memilih, kita punya hati untuk merasakan, kita punya Ramadhan untuk berlatih. Maka jangan sia-siakan kesempatan ini. Perkuat takwa dengan terus menerima kebenaran, lemahkan fujur dengan menjauhi maksiat. Karena jiwa yang suci akan beruntung, jiwa yang kotor akan celaka. Qad aflaha man zakkaahaa, wa qad khaaba man dassaahaa."
Jamaah pun beranjak menuju saf untuk witir berjamaah. Di wajah-wajah mereka tampak tekad baru: menjadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memperkuat potensi takwa dan melemahkan potensi fujur. Mereka ingin menjadi alladzi jaa-a bishshidqi wa shaddaqa bihii—yang membawa kebenaran dan membenarkannya, agar layak disebut muttaquun.
Di luar masjid, angin malam Padang berembus lembut. Membawa pesan agung dari ayat-ayat yang baru saja didengar: Fa-alhamahaa fujuurahaa wa taqwaahaa—maka Dia ilhamkan kepada jiwa itu jalan kejahatan dan ketakwaan. Dan walladzii jaa-a bishshidqi wa shaddaqa bihii ulaa-ika humul muttaquun—dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang bertakwa.
Pilihan ada di tangan kita. Beruntung atau celaka, tergantung jiwa ini kita sucikan dengan kebenaran atau kita kotori dengan kejahatan.

