Manasik Haji Kolosal 2026: Bekali Calon Jamaah Haji Pengetahuan Menyeluruh

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
106
Manasik Haji Kolosal 2026

Manasik Haji Kolosal 2026

KULONPROGO, Suara Muhammadiyah – Siang itu, langit Kulonprogo seolah dipenuhi kalimat talbiyah. Kalimut-kalimat tersebut mengepul bagaikan asap yang keluar dari mulut para calon jamaah haji yang sedang melakukan praktik manasik haji secara kolosal. Sebelum itu, puluhan bus mengular, antri untuk menurunkan ribuan calon jamaah di sebuah titik lokasi yang ditandai sebagai Mina. Tiba di lokasi pukul 11 siang, calon jamaah haji yang datang dari seluruh daerah di DIY itu melakukan salah satu rukun haji yakni melempar jumrah (8/2). 

Ribuan calon jamaah haji yang mengnakan pakaian ihram, seketika menyulap suasana di Stadion Cangkring seperti kondisi riil di tanah suci. Dalam kondisi hawa yang mulai panas, laki-laki, perempuan, tua, muda, remaja, anak-anak, semua berbaur, mengikuti aba-aba dari ketua rombongan masing-masing. Tak jarang juga ada panitia mengenakan atasan batik berjaga di setiap titik yang telah ditentukan, mereka sigap membantu calon jamaah yang membutuhkan bantuan. 

Prosesi manasik sejatinya sudah dimulai sejak pukul 6 pagi. Sebelum melakukan lempar jumrah, para jamaah berangkat dari penginapan (Masjid Muhiba) untuk melaksanakan wukuf di Arafah yang berlokasi di Taman Budaya Kulonprogo. Dan acara puncaknya berada di Alun-alun Wates, di sana, para calon jamaah melaksanakan wajib haji yang terakhir, tawaf dan sai. 

Nanang Joko Purwanto, Ketua LPHU PWM DIY mengatakan bahwa manasik haji kolosal tahun ini untuk wilayah DIY dipusatkan di Kulonprogo. Penetapan Kabupaten Kulonprogo sebagai tempat manasik haji bagi ribuan calon jamaah haji DIY menurutnya telah ditentukan dari jauh-jauh hari melalui skema bergilir yang pada tahun sebelumnya bertempat di Kabupaten Bantul. 

Ia mengaku, praktik manasik haji tahun 2026 mengalami peningkatan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Setidaknya ada 1634 calon jamaah haji di bawah naungan LPHU PWM DIY mengikuti manasik sebagai ikhtiar untuk membekali calon jamaah haji terkait seluruh rentetan ibadah haji. 

“Semoga ini dapat menjadi bekal yang berharga untuk calon jamaah haji, sejak keberangkatannya dari rumah, kemudian ke embarkasi, hingga ke tanah suci, dan pulang kembali ke tanah air dengan selamat, sehat, dan menjadi haji yang mabrur,” ujarnya. 

Nanang menambahkan, dalam penyelenggaraan manasik haji kolosal ini LPHU PWM DIY melalui KBIHU ‘Aisyiyah yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di DIY melakukan pendampingan secara intens dan terarah bagi seluruh calon jamaah haji yang akan berangkat ke tanah suci dalam waktu dekat. 

“Melalui manasih haji ini, calon jamaah haji akan dibekali dengan perbekalan yang cukup, agar bagaimana menjadi haji yang mandiri, tidak bergantung kepada yang lain, sebagai haji yang insyaAllah mabrur,” paparnya. 

Subintomo, Ketua KBIHU ‘Aisyiyah Kulonprogo menjelaskan, pada tahun ini, calon jamaah haji asal Kulonprogo akan menjadi kloter pertama yang diberangkatkan ke tanah suci. Tentu hal ini memerlukan persiapan yang prima dalam banyak aspek, mulai dari pengetahuan hingga fisik. Ia pun berharap kepada para calon jamaah haji asal DIY bisa semakin solid, secara tekun melatih kesabaran. 

“Untuk melancarkan jalannya ibadah di tanah suci yang memiliki iklim yang panas, sangat penting bagi jamaah haji untuk menjaga kesehatan,” pesannya. 

Muhammad Ziyad, Ketua Lembaga Pembiaan Haji dan Umrah Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang hadir langsung mengamati jalannya proses manasik haji kolosal di Kulonprogo mangatakan bahwa, apa yang dilakukan oleh KBIHU di seluruh DIY di Kulonprogo hari ini merupakan bentuk konkrit dari praktik manasik haji yang ideal dan berkemajuan. 

“Saya kira, cita-cita besar haji nasional ya seperti ini. Jadi ada bimbingan yang matang, praktik yang bisa dipahami secara mudah oleh calon jamaah haji, serta mobilitas dari para calon jamaah dari tempat ke tempat lain di tanah suci yang digambarkan secara langsung di proses manasik haji. Ini adalah contoh manasik haji yang baik secara nasional,” paparnya. 

Ziyad pun menjelaskan bagaimana tantangan ibadah haji di tanah suci. Pertama, berhadapan dengan jumlah jamaah haji yang sangat besar, sehingga perlu dibangun kesadaran secara kolektif bagi calon jamaah. Kedua, menghadapi musim panas di tanah suci, calon jamaah haji harus tahu apa yang perlu dipersiapan dan dilakukan untuk menghadapi iklim yang sangat berbeda dengan iklim di Indonesia. 

“Kita tahu bahwa jamaah kita ini sebagian besar, 60 persen adalah lansia yang datang dari berbagai desa. Berada di tanah suci yang kondisinya berbeda, maka pembekalan yang semacam ini menjadi keniscayaan. Sehingga, ketika di tanah suci, mereka tidak terkagok-kagok lagi. Dan ini tentu sangat membantu calon jamaah haji memahami ibadah haji di tanah suci secara menyeluruh,” tegasnya. (diko)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar Wisuda ke....

Suara Muhammadiyah

8 October 2024

Berita

LAMPUNG, Suara Muhammadiyah – Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah Den....

Suara Muhammadiyah

4 October 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bulan Rabi'ul Awwal menjadi bulan yang membawa kebahagiaan, karena ....

Suara Muhammadiyah

22 September 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ruang Pamer Zona Muhammadiyah untuk Indonesia di Museum Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

3 February 2025

Berita

GOWA, Suara Muhammadiyah - Program Studi S1 Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah (Unismuh)....

Suara Muhammadiyah

3 February 2026