Melalui KHGT, Muhammadiyah Ingin Menyulam Kesatuan Dunia Islam

Publish

25 June 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
672
Haedar Nashir. Foto: Cris

Haedar Nashir. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Kerangka dasar dari diluncurkannya Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dilatarbelakangi dengan unsur kesatuan dan persatuan. Bahwa Seluruh umat Islam dari berbagai negara, bangsa, dan golongan selama ini memiliki satu keyakinan dan pandangan bahwa ukhuwah (persatuan) merupakan ajaran Islam yang sangat penting.

"Dalam setiap acara, kaum Muslimin, setiap tokoh dan mubaligh selalu menyuarakan ukhuwah sebagai keniscayaan untuk keutuhan dan persatuan umat Islam," jelas Haedar Nashir.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu melengkapi, bahwa ukhuwah memiliki percabangan yang meliputi ukhuwah dengan sesama umat Islam (ukhuwah Islamiyyah), ukhuwah sesama manusia (ukhuwah insaniyyah), dan ukhuwah dengan satu bangsa (ukhuwah Wathaniyah).

"Dasarnya sangat kuat (Qs al-Hujurat (49): 10). Bahkan kita juga mengutip di mana perintah untuk ukhuwah itu dalam oposisi biner, tidak boleh berpecah belah. Karena sering betapa kita mudah untuk berukhuwah (bersatu), tetapi betapa tidak mudahnya kita selesai atau menghindari perpecahan," ungkapnya saat Peluncuran KHGT, Rabu (25/6) di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan Kampus Terpadu Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA).

Dalam urusan sosial yang bersifat ijtima'iyyah, Haedar yakin, umat Islam bisa berukhuwah. Termasuk urusan diplomatis. "Tetapi, dalam dua urusan sering tidak bisa berukhuwah secara utuh, dalam urusan Palestina. Betapa tidak mudahnya dunia Islam untuk berukhuwah secara politik," bebernya.

Dan, menyangkut urusan kalender hijriah Islam. Baik yang bersifat lokal maupun global. "Ini jalan terjal. Perjuangan Muhammadiyah dengan launching ini jalan terjal," ungkapnya. Namun demikian, Haedar optimis, KHGT ini bisa menjadi jalan penyatuan umat Islam. "Sederhana saja, 1 hari 1 tanggal untuk semua kawasan dunia Islam. Bisakah kita berukhuwah?" tanya Haedar.

Hal-hal yang menyangkut perbedaan yang terjadi (dalam implementasi KHGT), tidak perlu dilakukan dengan tindakan yang mengarah pada kegaduhan. Namun, langkah moderat dengan jalan musyawarah mufakat.

"Prosesnya mungkin lama, bisa 10 tahun, 15 tahun, bisa 50 tahun, bisa 1 abad. Tetapi Muhammadiyah Insyaallah sabar menanti. Dan gagasan ini sudah banyak dirintis pandangan perorangan, tetapi Muhammadiyah sebagai kekuatan besar dari organisasi Islam modern ingin menghadirkan itu dengan rendah hati," jelasnya.

Muhammadiyah, tegas Haedar tidak pernah menutup pintu untuk berdialog. Pintu terbuka lebar, sehingga siapa pun diperbolehkan untuk berdialog. "Mari kita duduk bersama, tetapi tujuannya adalah KHGT," timpalnya. (Cris)


Komentar

Budi

Kenapa memakai patokan jam 00:00 UTC (GMT)? Ini bukan sistim peradaban Islam. Kenapa tidak memakai sistim kita sendiri? Misalnya jam 00:00 di Ka'bah (Mekah)?

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua MUI Kota Bandung KH Miftah Faridl mengajak umat Islam untu....

Suara Muhammadiyah

5 April 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) resmi meluncurkan Jagalaba.....

Suara Muhammadiyah

5 March 2025

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Untuk mempercepat proses transfer keilmuan serta menyediakan layanan pe....

Suara Muhammadiyah

24 June 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Lapangan kerja untuk Alumni D3 Prodi Sanitasi PoltekMu semakin terbuk....

Suara Muhammadiyah

18 January 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

2 February 2025