Melampaui Ruang dan Waktu: Isra' Mi'raj dalam Bayang-bayang Keterjeratan dan Terowongan Kuantum
Oleh: Muhammad Nur
Sangat menarik penganugrahan hadiah Nobel dalam bidang Fisika pada tahun 2025. Penerimanya adalah John Clarke Inggris), Michel Devoret (Prancis) dan John Martinis(Amerika Serikat) untuk penelitian tentang terowongan mekanika kuantum. Penelitian ini mendasari teknologi digital modern seperti komputer kuantum. Penelitian ini juga mendasari eksperimen mereka pada sistem kuantum makroskopis.
Sebelumnya, Hadiah Nobel Fisika, pada tahun 2022 diberikan kepada Alain Aspect (Prancis), John F. Clauser (Amerika Serikat), Anton Zeilinger (Austria) untuk eksperimen mereka dengan keterjeratan kuantum dalam hal ini foton yang bisa mendorong berkembangnya ilmu informasi kuantum.
Perjalanan yang meruntuhkan konsep ruang dan waktu pada Peristiwa Isra Mikraj yang dialami Nabi Muhammad semakin terkuak.
Ketika itu konsep tentang ruang dan waktu membingungkan umat manusia. Bagaimana perjalanan Isra' Mi'raj bisa terjadi? Peristiwa yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW menantang intuisi manusia tentang jarak, waktu, dan keterpisahan. Dalam satu malam, beliau menempuh lintasan ruang kosmik dan kembali tanpa perubahan waktu yang signifikan di dunia fisik. Menariknya, fisika kuantum modern justru mengungkap fenomena yang menggugurkan asumsi dasar ruang dan jarak, salah satunya adalah keterjeratan kuantum dan terowongan kuantum.
Dalam keterjeratan kuantum, dua partikel yang pernah berinteraksi akan tetap terkait secara instan, meskipun dipisahkan jarak kosmik. Informasi keadaan satu partikel “langsung diketahui” oleh pasangannya, tanpa melalui ruang diantaranya. Dalam terowongan kuantum (quantum tunneling), partikel subatomik dapat menembus penghalang energi yang secara klasik tidak mungkin dilewati, seolah-olah "menggali" terowongan melewatinya, karena sifat gelombang partikel yang memberikan probabilitas muncul di sisi lain, walaupun tak memiliki energi yang cukup untuk melompatinya penghalang tersebut.
Isra' Mi'raj menyampaikan pesan serupa, bahwa kedekatan eksistensial tidak selalu diukur oleh jarak fisik. Hubungan Nabi dengan realitas Ilahiah tidak terhalang oleh ruang, sebagaimana partikel terjerat tidak terpisah oleh jarak. Dalam fisika klasik, perjalanan harus melewati ruang. Namun keterjeratan kuantum menunjukkan bahwa korelasi bisa terjadi tanpa lintasan.
Beberapa fisikawan bahkan memandang ruang-waktu sebagai fenomena emergen, bukan struktur fundamental. Israk Mikraj, dalam perspektif ini, dapat dibaca sebagai perjalanan melampaui ruang-waktu, bukan menembusnya secara mekanik. Dengan kata lain, Mi'raj bukan “perjalanan cepat”, tetapi pergeseran kerangka realitas--mirip bagaimana sistem kuantum tidak tunduk pada geometri klasik.
Dalam sistem terjerat, kita tidak bisa mendeskripsikan partikel secara terpisah--yang ada adalah keadaan gabungan (entangled state). Sepertinya ini sedikit dapat dianologikan Isra' Mi'raj menggambarkan kesatuan antara subjek (Nabi) dan realitas Ilahi dalam pengalaman spiritual, tanpa menghapus perbedaan ontologisnya.
Fisika kuantum modern semakin menempatkan informasi sebagai entitas fundamental. Bahkan ada ungkapan populer: “it from bit”. Isra' Mi'raj berpuncak bukan pada objek kosmik, tetapi pada penerimaan perintah salat--sebuah transfer makna dan informasi normatif, bukan materi, tetapi keterhubungan keadaan/makna. Ini sangat sejalan dengan pandangan bahwa realitas terdalam bukan materi, melainkan informasi dan makna.
Keterjeratan kuantum memukul keras cara berpikir reduksionistik: alam semesta tidak terfragmentasi, tetapi saling terhubung secara mendalam. Dalam teologi Islam, ini sejalan dengan tauhid - kesatuan sumber realitas. Bukan berarti fisika membuktikan tauhid, tetapi struktur alam tidak bertentangan dengan prinsip kesatuan.
Penjelasan ini perlu kami pertegas lagi. Analogi yang dilakukan bukanlah identifikasi. Jadi Isra Mikraj bukanlah peristiwa kuantum, dan sebaliknya keterjeratan kuantum bukan fenomena spiritual, tetapi keduanya menolak cara berpikir klasik yang sama yakni bahwa jarak selalu memisahkan dan waktu selalu mengikat.
Jika fisika kuantum mengajarkan bahwa alam semesta pada dasarnya saling terhubung, maka Isra Mikraj mengajarkan bahwa manusia juga dapat terhubung dengan realitas tertinggi ketika diberi izin Ilahi. Sains memberi kita kerendahan hati intelektual, wahyu memberi arah makna.
Dalam Islam dialog sains dan iman menjadi sangat produktif. Dibutuhkan lahirnya keterjeratan kuantum dan terowongan kuantum untuk semakin dapat memaknai Perjalanan Mu’jizat Isra' Mi’raj Muhammad SAW. Semoga bermanfaat.
Semarang, 16 Januari 2026
Prof Muhammad Nur, Ph.D. Guru Besar Undip Semarang, Lembaga Litbang PTM PWM Jateng.

