Memahami Pola dan Tantangan Perkaderan Generasi Baru

Suara Muhammadiyah

24 October 2025

776
Rakornas MPKSDI PP Muhammadiyah

Rakornas MPKSDI PP Muhammadiyah

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Berdasarkan survey dari Indikator Politik Indonesia, menyebutkan, hanya 5% anak muda Indonesia yang mengaku aktif dalam organisasi keagamaan. Dari hasil ini tentu memunculkan sebuah pertanyaan besar. Apakah sistem perkaderan di Muhammadiyah belum berjalan secara maksimal, atau memang dunia sudah berubah. 

Hasil riset yang lain mengatakan bahwa pola keberagamaan generasi baru cenderung lebih religius, tapi di sisi lain bersifat sangat personal, dan tidak pedulu kepada institusi keagamaan. “Karena mereka mencari pola keberagamaan yang lebih personal dan spiritual,” ujar Fajar Riza Ul Haq dalam Rakornas Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah (24/10). 

Mereka menganggap bahwa organisasi keagamaan hari ini tak relevan dengan kultur generasi baru yang sejatinya tak terlalu menyukai sesuatu yang terlalu formalistik dan herarkis. Kendala inilah yang membuat institusi keagamaan seperti Muhammadiyah perlu mereformulasi sistem perkaderannya. 

“Pola perilaku generasi baru hari ini adalah tidak suka herarki, tidak suka formalitas,” ujarnya. 

Alumni Pondok Sobron itu mengatakan, bahwa terjadi pergeseran pola pikir anak muda yang cukup signifikan. Di mana anak muda hari ini cenderung menghindari sesuatu yang terlalu bersifat formalistik dan herarkis. 

Menurut pembacaannya dari fenomena di atas, masa depan organisasi sejatinya tidak ditentukan oleh basis organisasi. Tapi ditentukan oleh sistem nilai dan dampak yang diberikannya. “Saya membaca beberapa hasil riset, bahwa sebenarnya masa depan organisasi keagamaan masih bisa relevan dan bertahan, serta bisa mengambil hati generasi baru, ketika ia berorientasi kepada nilai dan dampak sosial,” jelasnya. 

Orientasi keberagamaan di masa depan menurutnya sangat bergantung dari bagaimana nilai tersebut dimaknai, untuk kemudian memberikan dampak sosial kepada masyarakat. “Jadi, orientasi dakwah kita hari ini adalah berbasis nilai yang inklusif, dan dampaknya bisa dirasakan oleh semua kelompok dan golongan. Itulah dakwah rahmatan lil alamin Islam berkemajuan,” paparnya. 

Di era yang oleh Charles Darwin disebut sebagai era masyarakat pasca agama. Di mana masyarakat tak lagi peduli terhadap institusi keagamaan. Sudah saatnya Muhammadiyah menghadirkan perkaderan yang lebih cair, komunikatif, dan tidak herarkis. Di sini, Fajar pun mengusulkan sebuah sistem perkaderan berbasis profesi. Sebuah pola perkaderan kekinian yang ia yakini dapat mendongkrak proses kaderisasi di Muhammadiyah. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah - Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendapat Juara 3 da....

Suara Muhammadiyah

17 September 2023

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) sukses gelar The 7th Internatio....

Suara Muhammadiyah

12 August 2025

Berita

KEBUMEN, Suara Muhammadiyah - Ahad, 5 Mei 2024, Pantai Sawangan, Kecamatan Puring Kabupaten Kebumen,....

Suara Muhammadiyah

5 May 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Program studi Bioteknologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung....

Suara Muhammadiyah

29 July 2024

Berita

BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan ....

Suara Muhammadiyah

19 September 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah