Memahami Pola dan Tantangan Perkaderan Generasi Baru

Suara Muhammadiyah

24 October 2025

878
Rakornas MPKSDI PP Muhammadiyah

Rakornas MPKSDI PP Muhammadiyah

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Berdasarkan survey dari Indikator Politik Indonesia, menyebutkan, hanya 5% anak muda Indonesia yang mengaku aktif dalam organisasi keagamaan. Dari hasil ini tentu memunculkan sebuah pertanyaan besar. Apakah sistem perkaderan di Muhammadiyah belum berjalan secara maksimal, atau memang dunia sudah berubah. 

Hasil riset yang lain mengatakan bahwa pola keberagamaan generasi baru cenderung lebih religius, tapi di sisi lain bersifat sangat personal, dan tidak pedulu kepada institusi keagamaan. “Karena mereka mencari pola keberagamaan yang lebih personal dan spiritual,” ujar Fajar Riza Ul Haq dalam Rakornas Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah (24/10). 

Mereka menganggap bahwa organisasi keagamaan hari ini tak relevan dengan kultur generasi baru yang sejatinya tak terlalu menyukai sesuatu yang terlalu formalistik dan herarkis. Kendala inilah yang membuat institusi keagamaan seperti Muhammadiyah perlu mereformulasi sistem perkaderannya. 

“Pola perilaku generasi baru hari ini adalah tidak suka herarki, tidak suka formalitas,” ujarnya. 

Alumni Pondok Sobron itu mengatakan, bahwa terjadi pergeseran pola pikir anak muda yang cukup signifikan. Di mana anak muda hari ini cenderung menghindari sesuatu yang terlalu bersifat formalistik dan herarkis. 

Menurut pembacaannya dari fenomena di atas, masa depan organisasi sejatinya tidak ditentukan oleh basis organisasi. Tapi ditentukan oleh sistem nilai dan dampak yang diberikannya. “Saya membaca beberapa hasil riset, bahwa sebenarnya masa depan organisasi keagamaan masih bisa relevan dan bertahan, serta bisa mengambil hati generasi baru, ketika ia berorientasi kepada nilai dan dampak sosial,” jelasnya. 

Orientasi keberagamaan di masa depan menurutnya sangat bergantung dari bagaimana nilai tersebut dimaknai, untuk kemudian memberikan dampak sosial kepada masyarakat. “Jadi, orientasi dakwah kita hari ini adalah berbasis nilai yang inklusif, dan dampaknya bisa dirasakan oleh semua kelompok dan golongan. Itulah dakwah rahmatan lil alamin Islam berkemajuan,” paparnya. 

Di era yang oleh Charles Darwin disebut sebagai era masyarakat pasca agama. Di mana masyarakat tak lagi peduli terhadap institusi keagamaan. Sudah saatnya Muhammadiyah menghadirkan perkaderan yang lebih cair, komunikatif, dan tidak herarkis. Di sini, Fajar pun mengusulkan sebuah sistem perkaderan berbasis profesi. Sebuah pola perkaderan kekinian yang ia yakini dapat mendongkrak proses kaderisasi di Muhammadiyah. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

HST, Suara Muhammadiyah - Barabai - Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PW....

Suara Muhammadiyah

19 August 2024

Berita

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bekerja sama denga....

Suara Muhammadiyah

7 August 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 60 persen atau 7,9 juta luas tanah di Indonesia mengala....

Suara Muhammadiyah

13 September 2023

Berita

SUKABUMI, Suara Muhammadiyah - Sabtu, 27 April 2024 telah dilaksanakan Webinar Series ke-7 LLHPB PWA....

Suara Muhammadiyah

1 May 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UM Bandung bersama Majelis Pem....

Suara Muhammadiyah

21 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah