Memahami Pola dan Tantangan Perkaderan Generasi Baru

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
468
Rakornas MPKSDI PP Muhammadiyah

Rakornas MPKSDI PP Muhammadiyah

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Berdasarkan survey dari Indikator Politik Indonesia, menyebutkan, hanya 5% anak muda Indonesia yang mengaku aktif dalam organisasi keagamaan. Dari hasil ini tentu memunculkan sebuah pertanyaan besar. Apakah sistem perkaderan di Muhammadiyah belum berjalan secara maksimal, atau memang dunia sudah berubah. 

Hasil riset yang lain mengatakan bahwa pola keberagamaan generasi baru cenderung lebih religius, tapi di sisi lain bersifat sangat personal, dan tidak pedulu kepada institusi keagamaan. “Karena mereka mencari pola keberagamaan yang lebih personal dan spiritual,” ujar Fajar Riza Ul Haq dalam Rakornas Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah (24/10). 

Mereka menganggap bahwa organisasi keagamaan hari ini tak relevan dengan kultur generasi baru yang sejatinya tak terlalu menyukai sesuatu yang terlalu formalistik dan herarkis. Kendala inilah yang membuat institusi keagamaan seperti Muhammadiyah perlu mereformulasi sistem perkaderannya. 

“Pola perilaku generasi baru hari ini adalah tidak suka herarki, tidak suka formalitas,” ujarnya. 

Alumni Pondok Sobron itu mengatakan, bahwa terjadi pergeseran pola pikir anak muda yang cukup signifikan. Di mana anak muda hari ini cenderung menghindari sesuatu yang terlalu bersifat formalistik dan herarkis. 

Menurut pembacaannya dari fenomena di atas, masa depan organisasi sejatinya tidak ditentukan oleh basis organisasi. Tapi ditentukan oleh sistem nilai dan dampak yang diberikannya. “Saya membaca beberapa hasil riset, bahwa sebenarnya masa depan organisasi keagamaan masih bisa relevan dan bertahan, serta bisa mengambil hati generasi baru, ketika ia berorientasi kepada nilai dan dampak sosial,” jelasnya. 

Orientasi keberagamaan di masa depan menurutnya sangat bergantung dari bagaimana nilai tersebut dimaknai, untuk kemudian memberikan dampak sosial kepada masyarakat. “Jadi, orientasi dakwah kita hari ini adalah berbasis nilai yang inklusif, dan dampaknya bisa dirasakan oleh semua kelompok dan golongan. Itulah dakwah rahmatan lil alamin Islam berkemajuan,” paparnya. 

Di era yang oleh Charles Darwin disebut sebagai era masyarakat pasca agama. Di mana masyarakat tak lagi peduli terhadap institusi keagamaan. Sudah saatnya Muhammadiyah menghadirkan perkaderan yang lebih cair, komunikatif, dan tidak herarkis. Di sini, Fajar pun mengusulkan sebuah sistem perkaderan berbasis profesi. Sebuah pola perkaderan kekinian yang ia yakini dapat mendongkrak proses kaderisasi di Muhammadiyah. (diko)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Makassar menggelar Pela....

Suara Muhammadiyah

16 February 2026

Berita

SUKABUMI, Suara Muhammadiyah - Upaya peningkatan kualitas hidup remaja penyandang talasemia terus di....

Suara Muhammadiyah

31 January 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Demisioner IMM Telkom University IMMawan Muhammad Galih Wonos....

Suara Muhammadiyah

7 June 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr H Dadang Kahmad, MSi mengapr....

Suara Muhammadiyah

8 March 2024

Berita

BANYUWANGI, Suara Muhammadiyah – Sebagai cara untuk memakmurkan masjid dan membahagiakan jamaa....

Suara Muhammadiyah

23 September 2023