Membaca Manazil Bulan dalam QS Yunus Ayat 5
Oleh: Rusydi Umar, Dosen S2 Informatika UAD, Anggota MPI PP Muhammadiyah (2015-2022)
Ketika membahas kalender Hijriah atau penentuan awal bulan, banyak umat Islam merujuk kepada QS Yunus ayat 5 sebagai salah satu landasan penting bagi penggunaan hisab. Dalam ayat tersebut Allah berfirman bahwa Dia menjadikan matahari bersinar, bulan bercahaya, dan menetapkan bagi bulan manazil agar manusia mengetahui bilangan tahun dan hisab.
Selama ini perhatian kita sering tertuju pada kata “hisab”. Padahal, sebelum menyebut hisab, Al-Qur’an terlebih dahulu menyebut kata yang tidak kalah penting, yaitu manazil. Kata inilah yang menarik untuk dicermati lebih dalam karena menyimpan pesan ilmiah yang luar biasa.
Secara bahasa, manazil adalah bentuk jamak dari manzil yang berarti tempat singgah, stasiun, atau persinggahan. Dalam tradisi astronomi klasik, istilah ini digunakan untuk menggambarkan posisi-posisi yang dilalui bulan dalam perjalanannya mengelilingi langit. Para astronom kuno membagi lintasan bulan ke dalam sejumlah stasiun yang dapat dikenali berdasarkan latar gugusan bintang yang berada di belakangnya.
Dengan kata lain, manzil bukanlah tanggal dalam kalender Hijriah. Manzil adalah wilayah-wilayah langit yang menjadi penanda posisi bulan dari malam ke malam. Setiap hari bulan bergerak ke wilayah berikutnya hingga akhirnya kembali ke posisi semula setelah menyelesaikan satu putaran terhadap bintang-bintang.
Pemahaman ini penting karena sering kali muncul anggapan bahwa manzil identik dengan sistem kalender bulan. Padahal keduanya tidak sama. Kalender Hijriah dibangun berdasarkan siklus fase bulan terhadap matahari, sedangkan manzil berkaitan dengan posisi bulan terhadap latar bintang-bintang di langit. Yang satu berbicara tentang pergantian bulan kamariah, sementara yang lain berbicara tentang lokasi astronomis bulan dalam peredarannya.
Lalu mengapa Al-Qur’an menyebut manazil sebelum hisab?
Di sinilah letak keindahan susunan ayat tersebut. Allah tidak langsung menyebut hisab, tetapi terlebih dahulu menunjukkan adanya keteraturan pada pergerakan bulan. Bulan tidak bergerak secara acak. Ia memiliki jalur, posisi, dan pola yang dapat diamati. Dari keteraturan itulah lahir kemampuan manusia untuk melakukan perhitungan.
Hisab pada hakikatnya tidak muncul dari ruang kosong. Hisab lahir karena alam semesta bekerja menurut hukum-hukum yang teratur. Manusia dapat menghitung waktu karena matahari dan bulan bergerak secara konsisten. Manusia dapat menyusun kalender karena benda-benda langit mengikuti pola yang dapat diprediksi. Dengan demikian, manazil merupakan dasar astronomis yang memungkinkan lahirnya hisab.
Pesan ini terasa sangat relevan dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an tidak mengajak manusia berhenti pada kekaguman terhadap langit, tetapi mendorong manusia untuk mengamati, memahami, dan menghitung keteraturannya. Ayat ini seakan mengajarkan bahwa alam semesta adalah kitab terbuka yang dapat dibaca oleh siapa saja yang mau menggunakan akal dan pengamatannya.
Dalam perspektif ini, hisab bukan sekadar teknik menentukan awal Ramadan atau Syawal. Hisab merupakan simbol dari kemampuan manusia membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam raya. Ketika seorang astronom menghitung peredaran bulan, ketika ilmuwan menyusun model gerak benda langit, atau ketika umat Islam menyusun kalender yang akurat, sesungguhnya mereka sedang memanfaatkan keteraturan yang telah Allah tetapkan sejak penciptaan alam semesta.
Karena itu, ayat ini juga mengajarkan pentingnya literasi kosmik. Umat Islam tidak cukup hanya mengetahui kapan bulan baru dimulai, tetapi juga perlu memahami bagaimana alam bekerja. Semakin dalam manusia memahami keteraturan ciptaan Allah, semakin besar pula peluangnya untuk memperoleh manfaat bagi kehidupan dan peradaban.
Pada titik inilah agama dan sains tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru bertemu dalam pesan Al-Qur’an. Wahyu mengarahkan pandangan manusia kepada alam, sementara sains membantu manusia membaca dan memahami keteraturan alam tersebut. Apa yang ditemukan melalui penelitian ilmiah bukanlah tandingan bagi agama, melainkan salah satu cara untuk menyaksikan kebesaran Allah yang telah menata langit dengan begitu rapi.
QS Yunus ayat 5 mengingatkan kita bahwa di balik cahaya bulan yang tampak sederhana terdapat pelajaran besar tentang keteraturan, pengetahuan, dan peradaban. Dari manazil lahirlah hisab. Dari pengamatan lahirlah ilmu. Dan dari ilmu yang dipandu wahyu, lahirlah peradaban yang tercerahkan. Inilah salah satu pesan tanwir yang dapat kita petik dari ayat yang agung tersebut.

