Membangun Sinergitas Pengembangan Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah Menuju Lembaga Pendidikan Unggul
Oleh: M. Bakrun Dahlan, Wakil ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhamamdiyah, Dosen Magister Pendidikan Guru Vokasi, Universitas Ahmad Dahlan
Sekolah dan madrasah Muhammadiyah sejak awal berdirinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana dakwah, tajdid (pembaruan), dan pembentukan peradaban. Pendidikan dalam Muhammadiyah merupakan jantung gerakan, yakni wahana strategis untuk melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan beramal nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan kemanusiaan universal (Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2010).
Sejarah panjang Persyarikatan menunjukkan bahwa sekolah dan madrasah Muhammadiyah tumbuh dari semangat kolektif. Namun, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, tantangan pendidikan semakin kompleks. Persaingan antar lembaga pendidikan semakin ketat, tuntutan mutu meningkat, dan harapan masyarakat terhadap kualitas lulusan semakin tinggi. Oleh karena itu, sinergitas dalam pengembangan menjadi kebutuhan mendesak agar sekolah dan madrasah Muhammadiyah tetap unggul, relevan, dan berkemajuan (Haedar Nashir, 2013).
Keunggulan dalam Perspektif Qaidah Pendidikan Muhammadiyah
Qaidah Pendidikan Muhammadiyah menegaskan bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia Muslim yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, cakap, percaya diri, serta bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negara (Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2010). Dengan demikian, keunggulan sekolah dan madrasah Muhammadiyah tidak boleh dipersempit hanya pada capaian akademik semata.
Sekolah dan madrasah unggul adalah lembaga yang mampu mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam seluruh proses pendidikan. Keunggulan tersebut tercermin dalam karakter peserta didik, kualitas pembelajaran, budaya sekolah, serta kontribusi nyata terhadap lingkungan sosial (Muhaimin, 2012).
Sinergitas sebagai Kekuatan Gerakan
Muhammadiyah adalah gerakan kolektif. Pendidikan Muhammadiyah bukan milik individu, melainkan amal usaha Persyarikatan yang harus dikelola bersama (Nashir, 2010). Oleh karena itu, sinergitas menjadi kunci utama dalam pengembangan sekolah dan madrasah.
Sinergi tersebut mencakup:
- Pimpinan Persyarikatan dengan Majelis Pendidikan di semua tingkatan
- Kepala sekolah/madrasah dengan guru dan tenaga kependidikan
- Sekolah dengan orang tua dan masyarakat
- Jejaring internal dan eksternal Muhammadiyah
Tanpa sinergi, pengembangan akan berjalan parsial dan sulit mencapai keunggulan berkelanjutan.
Kepemimpinan sebagai Penggerak Sinergi
Kepala sekolah dan madrasah dalam Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai manajer, tetapi sebagai pemimpin gerakan. Ia bertugas menghidupkan nilai-nilai Islam berkemajuan dalam budaya sekolah.
Kepemimpinan yang efektif ditandai dengan kemampuan menerjemahkan visi menjadi aksi nyata, membangun kerja kolektif, serta menjadi teladan integritas dan etos kerja (Mulyasa, 2013). Dalam konteks ini, kepemimpinan menjadi faktor kunci dalam membangun sinergitas dan budaya mutu di sekolah.
Guru Muhammadiyah: Pendidik dan Kader
Guru Muhammadiyah memiliki peran ganda sebagai pendidik dan kader Persyarikatan. Ia tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai dan menjadi teladan (uswah hasanah).
Pengembangan guru perlu dilakukan melalui:
- Penguatan kompetensi profesional
- Pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan
- Kolaborasi antarguru
- Pengembangan komunitas belajar
Guru yang berkembang akan melahirkan pembelajaran yang bermakna dan berdampak (Fattah, 2013).
Peserta Didik sebagai Subjek Pendidikan
Dalam perspektif Muhammadiyah, peserta didik adalah subjek pendidikan. Mereka dibina untuk menjadi manusia beriman, berilmu, dan beramal sekaligus kader umat dan bangsa.
Pembelajaran harus dirancang secara aktif, integratif, dan kontekstual. Ketika peserta didik dilibatkan secara aktif, mereka tidak hanya menjadi cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kemandirian, dan jiwa kepemimpinan (Suyanto, 2012).
Peran Orang Tua dan Jejaring Persyarikatan
Sekolah dan madrasah Muhammadiyah memiliki kekuatan besar dalam jejaring sosialnya. Orang tua dan warga Persyarikatan bukan hanya pendukung, tetapi mitra strategis dalam pendidikan.
Komunikasi yang terbuka dan partisipatif akan memperkuat ekosistem pendidikan. Selain itu, sinergi dengan amal usaha lain seperti perguruan tinggi dan rumah sakit Muhammadiyah dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengalaman siswa (Mu’ti, 2019).
Budaya Mutu dan Tajdid Berkelanjutan
Budaya mutu merupakan hasil dari sinergitas. Sekolah unggul tidak alergi terhadap evaluasi dan perubahan. Prinsip tajdid dalam Muhammadiyah menuntut adanya pembaruan yang berkelanjutan tanpa meninggalkan nilai dasar Islam (Nashir, 2013).
Evaluasi diri, refleksi, dan perbaikan berkelanjutan harus menjadi budaya, bukan sekadar tuntutan administratif.
Membangun sekolah dan madrasah Muhammadiyah unggul adalah bagian dari misi besar Persyarikatan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan peradaban. Tantangan zaman tidak dapat dihadapi secara individual, melainkan melalui sinergitas yang kuat.
Ketika seluruh unsur bergerak dalam satu irama—berlandaskan nilai, kepemimpinan visioner, dan kerja kolektif, maka keunggulan bukan lagi sekadar slogan, tetapi menjadi realitas yang hidup dan memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa.
