Membuka Lembaran Cerita di Tahun Baru: Menyusuri Alam Pegunungan Lintas Provinsi Bersama Keluarga
Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasihat PRM Troketon, Pedan, Klaten
“Setiap perjalanan manusia di muka bumi (Shirul fil Ardhi) ibarat sekolah yang akan menuliskan di atas kertas atau menuangkan di atas kanvas yang menggambarkan cerita kehidupan si manusia itu sendiri.”
Sebuah momen yang sangat berharga bagi penulis (Gus Zul) dalam menutup tahun 2025 dan menyambut tahun 2026. Setelah pertemuan rapat persiapan hajat dari warga di mana penulis tinggal, yaitu sebuah obrolan ringan dan santai di teras rumah penulis. Dari obrolan itu tiba-tiba penulis bertanya kepada yang hadir yang berjumlah empat orang.
Pertanyaan yang ringan: Apa harapan di tahun 2026? Namun jawabannya dari keempat orang berbeda-beda. Jawaban orang pertama ingin merenovasi rumah, yang kedua ingin membuat kandang mentok, yang ketiga ingin resign dari pabrik dan ingin berdagang, dan yang keempat fokus pernikahan, tinggal menghitung bulan.
Momen kedua, penulis bersama istri dan anak ketika mengisi liburan Tahun Baru, yaitu pergi refreshing dengan tujuan view Pantai Gading Purba di sekitar Waduk Gajah Mungkur.
Tepat pukul 06.30 WIB sekeluarga berangkat. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sekeluarga mampir di SPBU untuk mengisi bahan bakar dua sepeda motor.
Melatih Anak Menjadi Navigasi Perjalanan
Setelah selesai mengisi, penulis berkata kepada anak-anaknya:
Penulis: Nanti yang menjadi navigator Mbak Novi dan Mas Faiz ya.
Mbak Novi: Ya, tapi Faiz yang pegang HP-nya untuk mengikuti arah yang dituju melalui GPS (Global Positioning System).
Mas Faiz: Ya, Bi.
Kami sekeluarga menyusuri jalanan dari Pedan, Karangdowo, Tawang Sari, Bulu, Selogiri, Wonogiri. Sepanjang perjalanan kami sekeluarga disuguhi pemandangan persawahan dan alam pegunungan, menjadikan perjalanan jauh tidak terasa capek.
Setelah menempuh perjalanan dengan jarak 90 km, sampailah kami di tempat tujuan, yaitu objek wisata Pantai Gading Purba yang masih satu rangkaian Waduk Gajah Mungkur. Setelah kami memarkir sepeda motor di tempat parkir, kami menuju lokasi sambil menikmati keindahan pemandangan Gunung Lawu di pagi hari sambil mendokumentasikan dari gazebo-gazebo yang telah disediakan oleh pemilik rumah makan.
Kami sekeluarga lalu mengambil tempat untuk bercengkerama di pinggiran waduk sehingga suasana semakin sejuk dengan sepoi-sepoi angin, sambil melihat speed boat melintas membawa wisatawan, selain itu juga melihat orang-orang yang asyik menjaring dan memancing ikan.
Sambil menunggu menu yang kami pesan, mulai dari es degan, kopi es, teh, tempe goreng, nasi ayam goreng, nila bakar, dan lele goreng. Setelah pesanan datang, kami sekeluarga menikmati dengan lahap. Setelah dirasa cukup menikmati pemandangan dan makan bersama dengan suasana segar, lantas penulis mengajak melanjutkan perjalanan untuk etape kedua, yaitu menuju Museum Kars Indonesia, yang jaraknya kurang lebih 40 km dari Waduk Gajah Mungkur.
Ilmu Kehidupan
Setelah kami keluar dari tempat parkir, kami berniat melanjutkan perjalanan, tetapi tiba-tiba ban belakang kendaraan penulis (Gus Zul) bocor. Lantas penulis bertanya kepada seorang ibu-ibu dan seorang tukang parkir.
Penulis: Bu, mriki tambal ban pundi njih, Bu?
Sang Ibu: Oh, taksih mriko (masih sana), Pak. Pintu cat biru, Pak, biasanya buka.
Penulis: Oh, njih Bu, matur suwun.
Penulis: Ibu, Mas Faiz, Mbak Novi, nanti nyusul Abi ya. Abi tak nambalke ban dulu.
Lantas penulis melaju pelan-pelan, ternyata tutup. Penulis lalu bertanya kepada seorang bapak-bapak tukang parkir.
Penulis: Pak, badhe tanglet (Pak mau tanya), tambal ban pundi njih, Pak?
Tukang Parkir: Depan pintu masuk objek wisata Waduk Gajah Mungkur, Pak.
Penulis: Oh, njih Pak, matur suwun Pak.
Lantas penulis melanjutkan menuju tempat yang ditunjukkan tukang parkir. Sampai di depan pintu masuk, penulis bertanya kepada petugas Dishub. Setelah bertanya, ditunjukkan tempatnya. Lantas penulis menyeberang jalan.
Penulis memarkir sepeda motornya lalu berbicara kepada seorang bapak paruh baya dan seorang ibu bernama Bu Karni.
Penulis: Niki badhe nambalke ban ingkang wingking, Pak.
Sang Tukang Tambal Ban: Oh, njih Mas, mangga tunggu sekedap, lenggah mriku Pak.
Penulis: Njih Pak.
Penulis duduk di kursi, di depannya ada meja panjang. Di situ ada seorang ibu bernama Bu Karni.
Bu Karni: Sakniki mlebet teng objek Gajah Mungkur mahal, Mas. Tiket mlebet Rp25.000, soale sakniki sing ngelola swasta, Mas.
Bu Karni bercerita bahwa saat ini zaman sudah maju, Mas, apa-apa mahal, peribahasa itu duit tidak ada artinya. Zaman dulu, meskipun belum maju, makan hanya dengan ketela singkong dan sayur daun singkong tapi semua sehat, Mas. Dulu kalau belanja pegang uang 5 rupiah sudah dapat macam-macam: tempe, bumbu, dan lainnya. Selain itu, dulu kalau mau jagong, Mas, nunggu pakaian kering dulu.
Penulis: Tapi dengan keterbatasan, hidupnya ayem tentrem, njih Bu.
Bu Karni: Njih Mas, leres. Sanajan mangan daging ayam setahun sekali, niku pas lebaran, Mas. Dulu kalau sakit tidak aneh-aneh, paling hanya sakit kuning, Mas, soale gizine kurang, sambil senyum.
Penulis tersenyum dan mendapatkan pelajaran dari obrolan singkat tadi.
Setelah tukang tambal ban selesai, penulis melanjutkan perjalanan ke tempat kedua, yaitu Museum Kars.
Wisata Edukasi
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan jarak kurang lebih 40 km (Wonogiri, Wuryantoro, Eromoko, Pracimantoro), dengan menyusuri jalan berpemandangan perbukitan gunung dan sawah, tanaman pohon jati dan padi, dengan medan jalan beraspal kadang halus, kadang berlubang, kadang naik turun dengan kondisi curam, landai, bahkan rata, sampailah kami di Museum Kars Indonesia.
Tepat pukul 10.45 kami sekeluarga sampai di museum tersebut. Setelah sampai di pintu masuk, kami disapa petugas dengan senyum.
Petugas karcis: Monggo Pak, pinarak riyen Pak, niki saking pundi?
Bu Yatni (istri penulis): Dari Klaten, Pak. Ternyata jauh sekali ya, Pak, museumnya, dan jalannya medannya berkelok-kelok naik turun.
Petugas retribusi: Nanti pulangnya lewat jalur Benoyo, Ponjong, Karangmojo, Semanu, Semin, Sambeng, nanti sudah sampai Cawas, Bu. Paling satu jam sampai Cawas, sambil menyerahkan tulisan rute via Jogja.
Bu Yatni: Njih Pak, suwun.
Kami turun menuju kompleks museum. Sampai di pintu masuk museum, kami disambut petugas resepsionis untuk mengisi buku tamu, dan penulis (Gus Zul) menulis.
Setelah selesai, kami melihat diorama tentang kars atau sejarah kars dan kehidupan pada masa lampau. Penulis mengajak istri dan anak-anak melihat sejarah kars pegunungan semu Indonesia, mulai dari Jambi, Bandung, Gombong, Bantul, Wonosari, Wonogiri, Pacitan, Nusa Tenggara, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Dari situlah terlihat bagaimana kehidupan manusia beberapa tahun yang lalu serta proses terjadinya kars.
Setelah selesai mengelilingi area museum, kami keluar untuk istirahat sambil menunggu salat Zuhur di masjid kompleks museum.
Tepat pukul 12.30 kami sekeluarga memutuskan untuk melanjutkan pulang lewat jalur Jogja. Anak tetap menjadi forerider/navigator dalam perjalanan pulang.
Terjadi sebuah peristiwa ketika sang navigator meninggalkan yang belakang hingga terpisah. Sang navigator mengikuti jalur GPS, sedangkan penulis mengikuti jalur manual. Sehingga sang anak harus minta tolong warga sekitar untuk menuruni jalan yang curam menuju Bundelan. Sedangkan bapak dan ibunya melewati jalur yang lebih landai dan tidak curam.
Akhirnya kami sekeluarga bertemu di tempat perbelanjaan, yaitu Toko Luwes.
Sebuah pelajaran yang dipetik adalah bahwa liburan untuk me-refresh pikiran itu sangat penting, dan bagaimana refreshing seharusnya mengandung unsur edukasi atau literasi untuk menambah wawasan.
Karena belajar akan akar sejarah merupakan sumber kehidupan manusia itu sendiri (Historia vitae magistra), pepatah Meksiko.

