Membuka Tabir Sejarah: Adakah Nabi dari Kalangan Perempuan?
Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Pernahkah terlintas di benak Anda sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik: mengapa sejarah kenabian seolah-olah didominasi sepenuhnya oleh kaum pria? Mari kita bedah premis ini secara lebih mendalam dan kritis.
Secara umum, mayoritas masyarakat dan cendekiawan Muslim memang memegang teguh interpretasi bahwa nabi hanyalah dari kalangan laki-laki. Pandangan ini bukan tanpa dasar; mereka berpijak pada ayat-ayat Al-Qur'an yang secara tekstual menyebutkan bahwa Allah mengutus para laki-laki pilihan sebagai pembawa risalah di masa lalu. Namun, jika kita menyelam lebih jauh ke dalam samudera makna bahasa, kita akan menemukan sebuah perspektif yang jauh lebih luas dan inklusif.
Redefinisi Makna "Rijal" dalam Konteks Zaman
Beberapa pakar bahasa dan cendekiawan kontemporer mengajak kita untuk melihat melampaui makna harfiah. Mereka mengamati bahwa ketika Al-Qur'an menggunakan istilah tertentu yang sering diterjemahkan sebagai "laki-laki," maksud substansialnya bukanlah merujuk pada jenis kelamin tertentu, melainkan pada eksistensi manusia itu sendiri.
Kita harus memahami konteks linguistik masa itu. Dahulu, bahasa sering kali menggunakan bentuk maskulin untuk merepresentasikan seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Fenomena ini mirip dengan ungkapan dalam bahasa Inggris, "Man is a social animal." Tentu kita paham bahwa kata "Man" di sana tidak hanya merujuk pada pria, melainkan mencakup pria, wanita, dan seluruh umat manusia sebagai makhluk sosial.
Inti dari pesan Al-Qur'an sebenarnya adalah untuk menjawab skeptisisme kaum terdahulu yang bertanya-tanya, "Mengapa kami harus mengikuti Muhammad? Bukankah dia hanya manusia biasa seperti kami? Mengapa Tuhan tidak mengutus malaikat saja sebagai perantara?"
Melalui wahyu-Nya, Allah menegaskan bahwa sepanjang sejarah, utusan-Nya memang selalu dari golongan manusia (agar dapat dicontoh dan diikuti), bukan dari kalangan malaikat. Namun, karena Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab yang memiliki struktur gender, digunaka-lah kata Rijal. Secara harfiah, Rijal memang berarti laki-laki, dan inilah yang kemudian menjadi akar interpretasi bahwa pintu kenabian tertutup bagi kaum wanita.
Dengan memahami pergeseran makna dari "gender" menuju "spesies," kita mulai menyadari bahwa narasi ini mungkin jauh lebih kaya daripada sekadar batasan jenis kelamin. Ini bukan hanya tentang siapa yang diutus, tetapi tentang bagaimana Tuhan berbicara kepada manusia melalui bahasa yang mereka pahami.
Membuka Ruang Diskusi: Jejak Tersembunyi Kenabian Perempuan
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa jika kita hanya membaca Al-Qur'an secara tersurat, nama-nama yang menyandang gelar nabi secara eksplisit seluruhnya adalah laki-laki. Namun, sejarah Islam juga dipenuhi oleh figur-figur wanita dengan derajat kesucian yang luar biasa. Sosok yang paling bercahaya di antaranya adalah Maryam binti Imran, ibunda Nabi Isa AS. Meski namanya diabadikan sebagai nama surah, Al-Qur'an tidak secara harfiah melabelinya dengan kata "Nabi".
Akan tetapi, bagi mereka yang ingin menelaah lebih dalam, sebenarnya terbuka pintu argumen yang kokoh untuk meyakini eksistensi nabi perempuan dalam cakrawala Islam. Mari kita telusuri dua langkah argumentasi yang menarik berikut ini.
Salah satu metode yang ditawarkan Al-Qur'an sendiri adalah melakukan validasi sejarah kepada umat terdahulu. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW agar bertanya kepada Ahli Kitab jika ingin mengetahui lebih banyak tentang fenomena kenabian masa lalu. Ketika kita membuka lembaran kitab suci sebelum Al-Qur'an, kita akan menemukan bahwa konsep "Nabiah" (nabi perempuan) bukanlah hal yang asing, melainkan bagian integral dari sejarah wahyu.
Dalam tradisi Biblikal, kita diperkenalkan pada sosok-sosok tangguh seperti Miriam, saudara perempuan Nabi Musa dan Nabi Harun yang diakui memiliki karunia kenabian; Debora, seorang pemimpin dan nabiah yang pengaruhnya sangat besar dalam sejarah Bani Israil; Hulda dan Noadiah, nama-nama yang tercatat memiliki hubungan spiritual khusus dengan Tuhan; dan Anna, di dalam Perjanjian Baru, ia adalah sosok nabiah yang menyambut bayi Yesus di Baitul Maqdis.
Melalui rujukan ini, kita menyadari bahwa dalam garis waktu wahyu Tuhan kepada manusia, keterlibatan perempuan sebagai penerima pesan langit adalah sebuah realitas sejarah yang diakui oleh umat-umat sebelum Islam.
Strategi kedua yang tidak kalah menarik adalah meninjau kembali khazanah intelektual para raksasa pemikir Islam. Ternyata, gagasan bahwa Maryam adalah seorang nabi bukanlah ide modern yang dipaksakan, melainkan diskursus yang sudah ada sejak masa lampau.
Tokoh-tokoh besar seperti Abu al-Hasan al-Asy'ari (pendiri mazhab teologi Asy'ariyah) dan Fakhr al-Din al-Razi (sang mufasir agung) mencatat adanya pendapat yang menempatkan Maryam dalam jajaran para nabi. Bahkan, ulama sekaliber Ibnu Hazm dari Andalusia secara tegas membela pandangan ini.
Mengapa para pemikir hebat ini berani melangkah sejauh itu? Alasannya sangat kuat: Maryam menerima kunjungan langsung dari Malaikat Jibril dan terlibat dalam komunikasi dua arah yang sangat intens—sebuah pengalaman spiritual yang biasanya hanya dialami oleh para nabi. Dengan membiarkan kemungkinan ini tetap terbuka, para ulama tersebut mengajak kita untuk memahami bahwa batasan kenabian mungkin tidak sesempit yang kita bayangkan selama ini.
Redefinisi Makna Kenabian: Antara Wahyu dan Realitas Sosial
Mengapa para pemikir besar Islam mempertimbangkan Maryam sebagai seorang nabi? Jawabannya terletak pada definisi mendasar tentang apa itu kenabian. Jika kita mendefinisikan nabi sebagai sosok manusia yang menerima komunikasi langsung dari alam malaikat, maka Maryam memenuhi kriteria tersebut dengan sangat sempurna. Al-Qur'an secara dramatis menggambarkan bagaimana Malaikat Jibril mendatangi Maryam untuk menyampaikan wahyu.
Selain itu, ada kaitan linguistik yang sangat menarik. Al-Qur'an menggunakan kata Isthafa yang berarti "Allah telah memilih" untuk menggambarkan posisi Maryam. Akar kata ini sama dengan gelar Musthafa (Sang Terpilih), yang secara eksklusif biasanya disematkan kepada para nabi. Dengan atribut spiritual yang begitu tinggi, seorang Muslim sebenarnya memiliki fondasi yang kuat untuk memandang Maryam sebagai seorang Nabiah.
Jika kita menerima kemungkinan adanya nabi perempuan, maka pertanyaan besarnya bergeser: "Jika memang ada, mengapa jumlah mereka tidak sebanyak nabi laki-laki?" Jawabannya mungkin bukan pada kapasitas spiritual, melainkan pada beratnya medan perjuangan yang harus dihadapi.
Sejarah kenabian bukanlah karpet merah yang bertabur bunga; ia adalah jalan sunyi yang penuh dengan darah dan air mata. Kita membaca dalam tradisi Islam bagaimana para nabi mengalami penyiksaan yang melampaui batas kemanusiaan. Ada nabi yang tubuhnya digergaji menjadi dua. Ada yang kulitnya dikoyak dengan sisir besi panas. Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS terus-menerus diancam dengan pembunuhan dan perajaman.
Bahkan Nabi Muhammad SAW, manusia yang paling dicintai Allah, tidak luput dari kekejaman fisik. Beliau pernah diludahi, dilempari kotoran, bahkan dicekik hingga nyaris pingsan saat sedang bersujud. Di tengah struktur masyarakat masa lalu yang keras dan menganggap wanita sebagai "gender yang lemah," Allah dalam kebijaksanaan-Nya mungkin memilih pria untuk berdiri di baris terdepan sebagai tameng fisik guna menahan serangan-serangan brutal tersebut.
Selain faktor keamanan fisik, kita juga harus meninjau aspek sosiologis. Pada zaman klasik, panggung publik, forum debat, dan mimbar orasi didominasi sepenuhnya oleh kaum pria. Masyarakat saat itu dikonstruksi sedemikian rupa sehingga wanita lebih banyak bergerak di ranah domestik dan keluarga.
Memang benar bahwa wanita memegang peran kunci di balik layar—seperti Ibunda Khadijah yang menjadi pilar kekuatan mental sang Nabi—namun untuk urusan konfrontasi ideologis di tengah pasar dan kerumunan massa, sosok pria memiliki aksesibilitas sosial yang lebih luas pada waktu itu.
Jadi, persoalannya mungkin bukan pada "ketiadaan" nabi perempuan, melainkan pada "proporsi" jumlahnya. Hal ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan; Dia tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Di masa ketika suara wanita sering kali diabaikan atau ditekan, Tuhan mengutus nabi-nabi laki-laki yang memiliki ketahanan fisik dan otoritas sosial untuk memastikan pesan langit tetap tersampaikan, meskipun harus dibayar dengan nyawa. Tuhan memilih cara yang paling efektif agar kebenaran bisa didengar oleh telinga-telinga yang keras hatinya.

