Refleksi Puasa untuk Kualitas Diri yang Mencerahkan
Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat PRM Troketon
Ibadah puasa yang dilakukan setiap tahun oleh umat Muslim sering kali tidak dijalankan dengan penuh kesadaran dan penghayatan. Akibatnya, puasa hanya menjadi ibadah seremonial belaka. Hal ini tentu sangat disayangkan.
Tanpa terasa, bulan suci Ramadan telah tiba. Dalam hitungan hari, kita akan menyambut bulan penuh rahmat, maghfirah, dan keberkahan. Ramadan adalah bulan istimewa karena setiap ibadah yang dilakukan akan dibalas langsung oleh Allah SWT.
Puasa merupakan sarana yang diberikan Allah kepada umat manusia yang telah berikrar beriman kepada-Nya sebagai Dzat yang wajib disembah. Selain itu, ibadah puasa sejatinya memiliki tiga dimensi yang harus menjadi pijakan dalam pelaksanaannya. Pertama, puasa adalah perintah bagi orang-orang yang beriman. Kedua, puasa merupakan bentuk ketundukan total, baik secara ruhani maupun jasmani. Ketiga, dengan adanya keseimbangan antara ruhani dan jasmani, seseorang dapat menjadi pribadi yang mampu mengelola dirinya dengan baik dan mencapai ketakwaan. Ketakwaan inilah yang menjadi tujuan utama puasa, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Yâ ayyuhalladzîna âmanû kutiba ‘alaikumush-shiyâmu kamâ kutiba ‘alalladzîna ming qablikum la‘allakum tattaqûn
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Dari ayat tersebut, kita dituntut untuk mencapai keselarasan lahir dan batin dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan begitu, kita akan menjadi insan kamil, yaitu pribadi yang paripurna. Sebab, sebelum umat Nabi Muhammad SAW, puasa juga telah diwajibkan bagi umat-umat sebelumnya. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai utama puasa, salah satunya melalui transformasi puasa dan kesalehan sosial.
Secara syariat, puasa telah ditentukan waktunya, tata caranya, serta ketentuan terkait hal-hal yang wajib, sunnah, mubah, makruh, dan larangannya. Sebab, puasa bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga aplikasi langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menyatukan hati (qalbu), pikiran, dan tindakan, kita dapat memancarkan energi positif yang penuh kemuliaan. Puasa mengajarkan kita untuk mengelola hati dengan baik, sehingga memiliki sifat rendah hati (tawadhu’), menghormati dan menghargai sesama, serta tidak sombong atau angkuh. Selain itu, puasa juga melatih kita untuk menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam bermasyarakat, menghindari prasangka buruk yang belum tentu benar, serta tidak merasa diri paling saleh dibandingkan orang lain. Dengan demikian, kita dapat membangun hubungan yang baik dengan Allah serta menjalin interaksi sosial dengan sesama manusia secara bijak tanpa mengedepankan egoisme.
Jangan sampai kita terjebak dalam menjalankan ibadah puasa hanya sebagai acara seremonial belaka. Jangan sampai setelah Ramadan berlalu, tidak ada bekas nilai-nilai utama dari hakikat puasa dalam kehidupan kita. Semoga ibadah puasa yang kita jalankan kali ini mampu menyatukan keyakinan hati dengan aplikasi nyata dalam ketundukan kepada Allah SWT, jauh dari sikap kemunafikan. Dengan demikian, kita dapat memancarkan energi yang mencerahkan, membangun kesalehan sosial, serta memperoleh kemuliaan dan keberkahan dalam hidup.