Menakar Fakta Sains dalam Kisah Zulkarnain: Tafsir Linguistik dan Historis Surah Al-Kahfi Ayat 86
Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Dalam khazanah literatur Islam, kisah Zulkarnain merupakan salah satu narasi paling memikat sekaligus mengundang perdebatan panjang. Salah satu titik yang paling sering menjadi sasaran kritik para orientalis maupun kaum skeptis adalah petualangan Zulkarnain yang terekam dalam Surah Al-Kahfi ayat 86. Ayat tersebut menceritakan kepemimpinan seorang penakluk besar yang sampai di titik terjauh barat, di mana ia "mendapati matahari terbenam di dalam mata air yang berlumpur."
Pertanyaan besar pun muncul: Apakah Al-Qur'an sedang membuat klaim sains bahwa matahari, bola gas raksasa yang ukurannya jutaan kali lipat bumi, benar-benar menceburkan diri ke dalam kubangan lumpur di suatu tempat di bumi? Jika kita membacanya secara harfiah tanpa pemahaman konteks, mungkin itu terlihat seperti sebuah kesalahan ilmiah. Namun, kita perlu melihat melampaui teks mentah dan memahami bagaimana Al-Qur'an melakukan "dekonstruksi" terhadap legenda kuno demi menyampaikan pesan moral yang lebih tinggi.
Untuk memahami ayat ini, kita tidak bisa melepaskannya dari konteks narasi yang berkembang pada masa itu. Jauh sebelum Al-Qur'an turun, telah beredar luas legenda tentang Alexander Agung (yang sering diidentikkan dengan Zulkarnain dalam tradisi tertentu) dalam bahasa Suriah atau Syriac. Dalam legenda Jacob dari Serugh, misalnya, kisah perjalanan Alexander dipenuhi dengan elemen-elemen supranatural yang fantastis dan sering kali tidak masuk akal.
Dalam mitos pra-Al-Qur'an tersebut, matahari dikisahkan terbenam ke dalam "air yang busuk" (fetid water) yang sangat beracun. Digambarkan bahwa siapa pun yang menyentuh air tersebut akan langsung hancur dan terurai. Bahkan, legenda itu menyebutkan adanya jalur-jalur khusus di langit, semacam wormhole atau lubang cacing, yang memungkinkan sang penakluk berpindah dari titik matahari terbit ke matahari terbenam secara instan.
Di sinilah letak keunikan Al-Qur'an. Al-Qur'an tidak sekadar mengulang mitos, melainkan melakukan "penyaringan" atau filtrasi. Wahyu turun untuk meluruskan narasi yang sudah melenceng menjadi dongeng mistis kembali ke jalur teologis. Al-Qur'an menghapus elemen-elemen yang mustahil secara logika—seperti air yang menghancurkan daging secara instan atau lubang cacing di langit—dan menggantinya dengan narasi yang lebih membumi namun tetap mengandung kedalaman makna.
Keajaiban Bahasa Arab: Antara Waktu dan Tempat
Kunci untuk memahami kebingungan "matahari terbenam di lumpur" terletak pada linguistik. Dalam bahasa Arab, kata yang digunakan adalah Maghrib. Secara etimologi, kata ini dibentuk dengan menambahkan awalan huruf mim pada akar kata gharaba yang berarti terbenam.
Dalam kaidah bahasa Arab, struktur kata seperti ini bisa merujuk pada dua hal: Zharf Makan (keterangan tempat) atau Zharf Zaman (keterangan waktu). Jadi, secara tata bahasa, Maghrib bisa berarti "tempat matahari terbenam" (arah Barat) atau "waktu matahari terbenam" (senja).
Ketika Al-Qur'an menyebutkan Zulkarnain sampai di Maghrib, hal itu secara alami dapat dipahami bahwa ia sampai di suatu wilayah di ujung Barat pada saat senja tiba. Sama halnya jika hari ini kita berkata kepada seseorang, "Pergilah ke Timur Jauh jika ingin melihat matahari terbit yang indah." Kita tidak sedang mengklaim bahwa matahari lahir dari tanah di Timur, melainkan merujuk pada posisi pengamatan kita sebagai manusia.
Hal paling krusial dalam ayat ini adalah penggunaan frasa wajadaha—"ia mendapatinya." Al-Qur'an tidak mengatakan "Matahari masuk ke dalam lumpur," melainkan menggambarkan apa yang dilihat oleh mata Zulkarnain. Ini adalah bahasa persepsi, bukan bahasa astrofisika.
Bayangkan Anda berdiri di tepi pantai saat matahari terbenam. Bagi mata Anda, matahari tampak seolah-olah tenggelam ke dalam laut. Anda akan berkata, "Lihat, matahari tenggelam di air." Apakah Anda sedang membuat kesalahan ilmiah? Tentu tidak. Anda sedang mendeskripsikan pemandangan dari perspektif Anda.
Inilah yang dialami Zulkarnain. Sebagai seorang musafir yang mencapai wilayah pesisir yang mungkin berlumpur atau berawa (beberapa sejarawan merujuk pada wilayah Laut Hitam atau rawa-rawa di Lycia), ia melihat pantulan matahari yang perlahan turun di cakrawala, seolah-olah ia menyatu dengan mata air yang berlumpur tersebut. Al-Qur'an merekam kesan visual sang penakluk, bukan memberikan kuliah astronomi tentang posisi matahari di sistem tata surya.
Perbedaan paling mencolok antara legenda pra-Al-Qur'an dengan narasi wahyu terletak pada etika kekuasaan. Dalam legenda kuno, Alexander digambarkan sebagai sosok yang menggunakan "air busuk" yang mematikan itu untuk menghukum musuh-musuhnya dengan kejam. Ia melemparkan mereka ke sana hingga hancur.
Namun, Al-Qur'an mengubah total karakter ini melalui sosok Zulkarnain. Allah memberikan pilihan kepada Zulkarnain: apakah ia akan menghukum penduduk wilayah tersebut atau memperlakukan mereka dengan kebaikan. Zulkarnain tidak memilih cara-cara legendaris yang kejam. Ia menegakkan prinsip keadilan yang universal: yang berbuat zalim akan dihukum, dan yang beriman serta beramal saleh akan mendapatkan balasan yang terbaik.
Al-Qur'an sengaja menjauhkan diri dari elemen-elemen ajaib yang tidak relevan dan lebih memilih untuk fokus pada pesan moral. Pesannya jelas: Kekuasaan adalah amanah. Seorang pemimpin besar bukan dilihat dari kemampuannya menemukan "lubang cacing" di langit, melainkan dari kemampuannya menegakkan keadilan di atas bumi.
Kita menyadari bahwa serangan skeptis terhadap sains dalam Al-Qur'an sering kali muncul karena kegagalan dalam memahami gaya bahasa sastra dan konteks sejarah. Al-Qur'an menceritakan kembali kisah-kisah yang sudah dikenal oleh masyarakat Arab dan ahli kitab pada masa itu, namun dengan membuang segala distorsi mitologis yang tidak sehat.
Zulkarnain dihadirkan bukan sebagai pahlawan super dalam dongeng, melainkan sebagai prototipe hamba Allah yang diberikan kekuatan namun tetap rendah hati. Di akhir kisahnya, ia tidak menyombongkan penaklukannya. Ia justru berkata bahwa semua kekuatan dan benteng yang ia bangun adalah "rahmat dari Tuhanku."
Dengan demikian, narasi tentang matahari di mata air berlumpur bukanlah sebuah kesalahan ilmiah, melainkan sebuah deskripsi puitis tentang perjalanan manusia. Ia adalah sebuah pengingat bahwa di balik fenomena alam yang luar biasa yang kita saksikan dengan mata kepala kita, terdapat pesan-pesan ketuhanan yang harus kita tangkap dengan mata hati.
Alih-alih terjebak dalam perdebatan tentang lumpur dan matahari, Al-Qur'an mengajak kita untuk merenung: seperti Zulkarnain, ketika kita sampai pada puncak pencapaian kita, apakah kita akan memilih jalan kezaliman atau jalan kebaikan yang diridhai oleh Allah?

