Meski cuaca pagi menjelang siang di Jogja cukup terik. Namun beraktivitas di luar ruangan tak akan membuat kulit kita terbakar. Justru sebaliknya, kita akan merasakan suasana sejuk nan asri-yang membuat siapa saja betah berlama-lama berada di luar.
Angin sepoi-sepoi berhembus, menyapu pelan gedung-gedung yang berdiri kokoh diterpa sinar mentari. Pepohonan berjajar di sepanjang ruas jalan hingga ke area parkiran. Tong sampah juga nampak di setiap sudut taman dan jalan. Selain itu, jarak antar gedung yang tidak terlalu berdekatan memberi cukup ruang terbuka yang nyaman bagi siapa saja, khususnya civitas akademika Universitas Aisyiyah Yogyakarta yang hendak berkegiatan dengan konsep outdoor.
Untuk memperkuat kesan sebagai green campus, bangunan-bangunan yang ada juga didesain dengan konsep hemat energi. Seperti penggunaan jendela besar dan ventilasi silang (cross ventilation). Hal ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada AC serta lampu di siang hari. Hingga pemanfaatan surya panel yang terpasang di rooftop agar sinar matahari dapat tertangkap secara maksimal. Upaya ini, selain memperkuat UNISA sebagai green kampus, juga memposisikan diri sebagai kampus ramah lingkungan yang beorientasi kepada pemanfaatan energi terbarukan.
Sri Lestari, Kepala Biro Aset dan Umum (BAU) Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat ditemui Suara Muhammadiyah pada Senin (13/4) mengamini hal itu. Ia mengatakan bahwa pemanfaatan energi terbarukan seperti panel surya di lungkungan kampus menjadi langkah strategis guna menekan biaya pengeluaran listrik yang cukup tinggi. Setiap bulan tercatat setidaknya UNISA harus merogoh lebih dari 200 juta untuk biaya listrik ke PLN. Yang mana angka tersebut bukan nominal yang kecil untuk operasional sebuah kampus jika hanya dilihat dari sisi pemenuhan energi listrik.
“Pemanfaatan energi terbarukan ini tentu sebagai upaya efisiensi karena penggunaan listrik kami cukup tinggi,” ujarnya.
Maka pada tahun 2025, UNISA mulai memasang surya panel di rooftop Gedung Siti Munjiyah dengan daya sebesar 1000 watt. Meski bisa dibilang masih cukup kecil untuk skala perguruan tinggi, namun pemanfaatan surya panel tersebut cukup membantu pemenuhan daya listrik di lingkungan kampus. “Meskipun masih sangat kecil dan belum memberikan dampak secara signifikan, tapi sudah cukup untuk mengcover beberapa spot-spot kecil di UNISA,” ungkapnya.
Tidak hanya di rooftop, surya panel juga nampak terpajang di 12 titik-melekat dengan lampu-taman taman di sekitar Gedung Siti Munjiyah. Dan di tempat berbeda, guna pengairan dan budidaya ikan, Program Studi Bioteknologi juga menggunakan surya panel yang ditempatkan di belakang Gudung Siti Bariyah.
“Karena skalanya masih kecil, jadi belum signifikan dampak perubahannya,” tambahnya.
Meski begitu, untuk surya panel, UNISA Yogyakarta telah berkomitmen untuk kembali menambah surya panel dengan daya sebesar 52 KWp. Jika diuangkan, dananya bisa mencapai lebih dari 600 juta. “Ini sudah masuk ke dalam program kerja dan masih terus dibahas dan dikaji di tingkat pimpinan universitas,” tegasnya.
Kampus Ramah Lingkungan
Selain panel surya, sejak 5 tahun terakhir, UNISA telah berkomitmen mengurangi sampah plastik. Hal ini dibuktikan melalui upaya nyata, melalui berbagai program dan kerjasama dengan berbagai mitra strategis. Dimulai dengan program memilah sampah menjadi lima kategori, mulai dari sampah plastik, sampah kertas, sampah sisa makanan, sampah elektronik, hingga sampah dedaunan.
Setelah seluruh sampah terkumpul berdasar kategori yang ada. Khusus sampah botol, pihak kampus akan langsung menyalurkannya kepada Lazis UNISA untuk dijual ke pengepul. “Setelah sampah botol terjual, hasilnya akan dimanfaatkan untuk beberapa kegiatan kampus, diantaranya membantu mahasiswa yang kurang mampu,” terangnya.
Sedangkan untuk sampah daun, UNISA mengubahnya menjadi kompos. Mulai dari proses awal daun dikeringkan. Setelah itu daun dicacah menggunakan mesin. Pada tahap selanjutnya, daun yang telah dicacah akan dicampur dengan cairan dan dibiarkan selama beberapa hari sampai benar-benar membusuk. Hingga akhirnya menjadi kompos yang siap digunakan.
“Biasanya, kompos ini kami gunakan untuk memupuk tanaman buah yang ada di kampus, khususnya yang ada di belakang Masjid Walidah Dahlan,” paparnya.
Untuk sampah sisa makanan, UNISA telah menyiapkan tempat khusus untuk pengolahannya. Di taman, tertancap beberapa tabung paralon setinggi pinggang orang dewasa. Benda tersebut umumnya disebut Lodong Sisa Dapur yang akrab disingkat LOSIDA. Lodong ini digunakan untuk menampung dan mengolah sampah sisa makanan menjadi pupuk organik. Umumnya, LOSIDA yang tertancap di tanah memiliki jarak yang berdekatan dengan tanaman di sekitarnya. “Hal ini bertujuan menjadikan LOSIDA sebagai produsen pupuk organik bagi tanaman,” ujarnya.
Terkait kendala awal yang dihadapi dalam proses pemilahan sampah, Dosen Prodi Kebidanan UNISA itu menjelaskan bahwa masih banyak mahasiswa belum memiliki kesadaran untuk memilah dan memasukkan sampah berdasar kategori yang telah ditentukan. Sehingga tak jarang tim kebersihan yang berkeliling menemukan tong sampah yang sejatinya diperuntukkan menampung sampah plastik justru berisikan sampah sisa makanan, dan sebaliknya.
“Yang seharusnya untuk sampah sisa makanan, di situ masih ada sampah botol. Yang seharusnya untuk sampah kardus, di dalamnya masih banyak sampah sisa makanan,” ungkapnya menyayangkan.
Karena kejadian ini terus berulang, akhirnya UNISA pun membuat semacam kesepakatan bersama dengan seluruh warga kampus. Sebuah kesepakatan tidak tertulis yang menggerakkan laku serta kesadaran. Bahwa seberapa bernilainya kita sejatinya dapat diukur dari bagaimana kita mengelompokkan dan memperlakukan sampah.
Dampak Langsung kepada Kehidupan
Melalui kesadaran terhadap satu hal saja, yaitu sampah, dampak yang ditimbulkan kepada lingkungan kampus diakui oleh Septianto Wikan Nurhidayat sangat luar biasa. Kampus menjadi bersih dan terbebas dari sampah. Selain itu, banyak sekali program yang dapat dilakukan dari sesuatu yang sering kita anggap tak berharga (sampah).
Dari aksi nyata tersebut, secara otomatis UNISA telah berhasil mengurangi biaya sampah yang harus dikeluarkan setiap bulan. Dari penjualan botol, kemudian berbuah menjadi program beasiswa. Bukan hanya itu, dana yang terkumpul juga digunakan untuk kegiatan Sangaji yang berlangsung setiap Ahad pagi minggu ke-4, berupa kegiatan pengajian yang dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan dan pembagian sayuran segar secara gratis.
Lebih jauh, Dosen Bioteknologi UNISA Yogyakarta itu menjelaskan tentang langkah progresif UNISA untuk membudidayakan magot. Hal ini sejalan dengan adanya SPPG yang dikelola langsung oleh UNISA yang menghasilkan banyak sekali sampah sisa makanan, yang secara kapasitas tidak mungkin tertampung ke dalam LOSIDA. Hingga akhirnya muncul ide untuk bertenak maggot.
“Kalau untuk beternak magot, tentu program ini akan menambah nilai ekonomi berkali lipat. Karena magot bisa dijual, dan sisa sampah untuk pembuatan magot bisa dimanfaatkan untuk kompos,” ujar Wikan.
Selain itu, Program 1000 Cahaya Muhammadiyah menggandeng UNISA Yogyakarta dalam mencetak kader lingkungan. Salah satu langkahnya yaitu mahasiswa mengambil mata kuliah Green Fikih, setelah itu diterjunkan ke lima rumah sakit di Yogyakarta untuk melakukan audit energi sebagai bagian dari kontribusi nyata penurunan emisi.
Gerakan “1000 Cahaya” sendiri merupakan program yang digagas oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai respons terhadap krisis iklim. Pendekatannya bersifat kolektif, melibatkan komunitas akar rumput seperti ranting, sekolah, kampus, pesantren, hingga masjid. Tujuannya adalah menumbuhkan kesadaran, memperluas penggunaan energi terbarukan, serta mendorong efisiensi energi di tengah masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab moral sekaligus spiritual.
“Kami tidak ingin mengutuk kegelapan. Muhammadiyah harus berkemajuan dengan berkontribusi pada penurunan emisi dunia,” seperti disampaikan Hening Purwati Parlan, selaku Wakil Ketua II Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah sekaligus Direktur 1000 Cahaya Muhammadiyah.
Tak hanya fokus pada lingkungan kampus, UNISA juga menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat sekitar dengan mengadakan sosialisasi mengenai pengelolaan sampah. Sebagai pelopor Kampus Perempuan di Indonesia, UNISA percaya bahwa masalah sampah dapat teratasi dengan kerjasama antara institusi pendidikan dan masyarakat sekitar.
"Pada kegiata mahaiswa baru kemarin kami mengadakan kegiatan social movement, mahasiswa turun langsung ke kemasayarakat untuk memberikan edukasi pengelolaan sampah dan membagiakan tabung paralon LOSIDA. Mahasiswa juga kami ajak menanam pohon buah di belakang Masjid Walidah Dahlan," tambah Sri Lestari.
Dengan inisiatif-inisiatif progresifnya, UNISA Yogyakarta tidak hanya menjadi lembaga pendidikan berkemajuan, tetapi juga menjadi teladan dalam menjaga lingkungan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi seluruh civitas kampus dan masyarakat sekitarnya. Hal ini membuktikan komitmen UNISA dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi masa depan yang berkelanjutan. (*)
