Mencapai Puncak Idul Adha

Publish

27 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
96
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Mencapai Puncak Idul Adha

Oleh: Fathor Rohman, M.Ag (Dosen FIP-UMJ/Pemerharti Fikih Sosial) 

Setiap ibadah yang disyariatkan dalam Islam tidak pernah dirancang sebagai ritual yang kering akan makna, sejatinya dalam ibadah selalu ada ghayah (capaian) yang merupakan sebuah pucuk capaian filosofis, spiritual, dan substansial yang melampaui batas-batas gerakan fisik. Demikian pula halnya dengan ibadah qurban. Ibadah tahunan ini tidak boleh direduksi atau mengalami penyempitan makna sekadar pada bagaimana memilih hewan, tata cara penyembelihan, yang kemudian diikuti dengan rutinitas mendistribusikan lalu memakan dagingnya.

Jika qurban berhenti pada aspek seremonial dan konsumtif tersebut, maka ia akan kehilangan daya hidupnya sebagai instrumen transformasi diri dan sosial yang dikehendaki oleh agama. Qurban bukanlah festival jagal tahunan, melainkan sebuah manifestasi teologis yang bergerak dinamis menuju capaian-capaian transformatif yang multidimensi. sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (QS. Al-Kausar: 2)

Ayat ini mengasosiasikan ibadah qurban langsung setelah perintah shalat, menandakan bahwa qurban merupakan salah satu pilar utama dalam mengekspresikan rasa syukur dan pengabdian yang total kepada Allah SWT. sesungguhnya qurban harus bergerak dinamis menuju capaian yang diharapkan agama yang menjadi tujuan keberlanjutan dari proses shalat Id dan pelaksanaan penyembelihan qurban.

Pada dimensi vertikal (hablum minallah), ghayah utama dari ibadah qurban harus bergerak pada ranah ketuhanan. Penyembelihan hewan kurban sejatinya merupakan simbolisasi dari penundukan ego kemanusiaan, sifat serakah, arogansi, serta kecintaan yang berlebihan (hubbud-dunya) terhadap materi duniawi. Peristiwa ini mereplikasi kepasrahan mutlak serta loyalitas tanpa batas sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS terhadap perintah Allah SWT.

Melalui momentum ini, agama menghendaki setiap hamba meruntuhkan "berhala-berhala" di dalam hatinya berupa ketamakan dan keakuan untuk kemudian mencapai derajat takwa yang murni. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Al-Qur’an, yaitu bukanlah daging atau darah hewan itu yang melesat mencapai ridha Allah, melainkan ketulusan niat, keikhlasan, dan kualitas ketakwaan yang tumbuh dari dalam dada sang hamba. Sebagaimana yang ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an mengenai hakikat kurban:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin..” (QS. Al-Hajj: 37)

Bila kita tarik penjelasan ayat ini sangat jelas, Bahwa Allah tidak memerlukan fisik dari hewan tersebut, melainkan ketulusan niat, keikhlasan, dan kualitas ketakwaan yang tumbuh dari dalam dada sang hamba.

Sementara capaian selanjutnya yaitu pada ranah horizontal (hablum minannas), Ibadah ini dirancang untuk gerakan sosial, yang secara sistemis untuk meruntuhkan sekat-sekat kelas ekonomi yang sering kali memisahkan strata sosial di tengah masyarakat. Qurban menghidupkan empati yang mati dan merajut kembali jalinan solidaritas kemanusiaan yang kerap renggang oleh kompetisi hidup yang individualistik. Ketika daging qurban didistribusikan, di sanalah terjadi sirkulasi kesejahteraan, keadilan pangan, dan penyebaran kebahagiaan yang merata.

Kaum dhuafa, fakir, dan miskin tidak sekadar diposisikan sebagai objek penerima, melainkan sebagai saudara seiman dan sekemanusiaan yang berhak menikmati kehidupan yang bermartabat. Melalui pembagian daging qurban, dengan ini sekat si kaya dan si miskin seketika runtuh. Ada rasa kebahagiaan menikmati hidangan yang layak dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Rasulullah SAW menuntun umatnya agar kemanfaatan qurban ini benar-benar menyentuh aspek pemenuhan kebutuhan sosial, sebagaimana sabda beliau:

“Makanlah, simpanlah, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Melalui hadis ini, Rasulullah SAW membagi ruang lingkup qurban menjadi tiga dimensi: pemenuhan pribadi (makanlah), ketahanan pangan keluarga (simpanlah), dan jaring pengaman sosial bagi yang membutuhkan (bersedekahlah). 

Kemudian capaian lain dari Qurban yaitu menghidupkan kembali tradisi agung Nabi Ibrahim AS. Melalui ibadah Qurban, umat Islam belajar melawan sifat cinta dunia yang berlebihan. Di tengah pusaran kehidupan modern yang sering kali mendewakan materi, qurban hadir sebagai momentum krusial untuk membasuh hati dari rambatan penyakit ketamakan duniawi yang kerap membelenggu hati manusia.

Setiap helai rambut hewan yang dikorbankan membawa pesan tentang kerelaan melepaskan. Sifat kikir, egoisme, dan kecintaan berlebihan pada harta benda adalah "berhala-berhala kecil" di dalam dada yang perlahan dihancurkan melalui ibadah ini. Meneladani Nabi Ibrahim AS, esensi yang disembelih sejatinya adalah ambisi buta dan ego personal. Proses ini menjadi terapi spiritual (tazkiyatun nafs) yang efektif, di mana seorang hamba dilatih untuk memutus keterikatan emosionalnya terhadap dunia dan menyadari bahwa segala bentuk kepemilikan hanyalah titipan Allah SWT.

Ketika hati telah dibersihkan dari sekat-sekat keserakahan, pancaran kesucian itu akan mengalir secara alamiah ke dalam perilaku moral dan akhlak sehari-hari. Manusia yang telah merdeka dari ketamakan tidak akan lagi melihat sesamanya sebagai saingan yang harus disingkirkan, melainkan sebagai saudara yang harus dirangkul. Pada akhirnya, transformasi ini membentuk karakter yang berintegritas dalam kehidupan bermasyarakat. Kebersihan hati yang diraih dari madrasah qurban ini terpatri dalam sikap hidup yang jujur, adil, dan menjauhi segala bentuk tindakan eksploitatif maupun koruptif.

Capaian berikutnya qurban dalam perspektif kontemporer, yaitu mampu menggerakkan kesadaran ekologis dan kemandirian ekonomi. Prosesi qurban yang bergerak dari hulu ke hilir mulai dari pemberdayaan peternak lokal di pedesaan hingga pengelolaan limbah penyembelihan yang ramah lingkungan di perkotaan merupakan pengejawantahan dari peran manusia sebagai khalifah fil ardh (pengelola bumi) yang bertanggung jawab atas keberlanjutan alam semesta. Qurban mengajarkan kita untuk mengambil dari alam secukupnya dengan penuh rasa syukur, dan membagikannya demi kemaslahatan bersama tanpa merusak ekosistem di sekeliling kita.

Dengan demikian, keberhasilan dan keberkahan ibadah qurban sama sekali tidak diukur dari seberapa megah atau mahalnya hewan yang dikorbankan, bukan pula dari seberapa banyak tumpukan daging yang berhasil dikonsumsi. Indikator sejatinya terletak pada dampak dan perubahan perilaku pasca-ritual Ibadah ini telah selesai dilaksanakan. Qurban yang paripurna adalah qurban yang mampu menggerakkan jiwa pelakunya untuk menjadi pribadi yang lebih peka terhadap ketimpangan sosial, lebih cakap dalam mengendalikan egoisme personal, serta berkomitmen penuh untuk menjadi agen pembawa maslahat dan kedamaian bagi sesama manusia serta alam semesta. 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Fathurrahman Kamal, Lc., MSI, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah / Musyrif Dini....

Suara Muhammadiyah

26 May 2026

Wawasan

Lailatul Qadar Untuk Semua Oleh: Kumara Adji Kusuma, Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Wa....

Suara Muhammadiyah

30 March 2025

Wawasan

Anak Saleh (27) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

23 January 2025

Wawasan

Oleh: Mu’arif, Pengkaji Sejarah Muhammadiyah-‘Aisyiyah Menulis sejarah kebangkitan nasi....

Suara Muhammadiyah

21 May 2025

Wawasan

Hidup Penuh dengan Tantangan dan Ketidakpastian Oleh: Dr Muhammad Julijanto, SAg, MAg, Ketua Progra....

Suara Muhammadiyah

4 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah