Mencari Kembali Mimpi Besar Bangsa: Catatan Sepekan di Negeri Tiongkok

Suara Muhammadiyah

7 August 2026

37
Istimewa

Istimewa

Mencari Kembali Mimpi Besar Bangsa: Catatan Sepekan di Negeri Tiongkok

Oleh: Riyan Betra Delza, Ketua Umum DPP IMM 2024-2026

"Bangsa yang kehilangan mimpi tidak akan kehilangan wilayahnya terlebih dahulu. Ia akan kehilangan arah."

Kalimat itu terus terngiang dalam benak saya sepanjang perjalanan pulang dari Negeri Tiongkok. Bukan karena saya menemukannya tertulis di sebuah dinding museum atau terpampang di sudut kota Beijing maupun Shanghai, melainkan karena saya merasakannya hidup dalam denyut masyarakat yang saya temui. Sepekan berada di sana membuat saya menyadari bahwa kemajuan sebuah bangsa sesungguhnya bukan dimulai dari gedung-gedung tinggi, jaringan kereta cepat, atau kecanggihan teknologi. Semua itu hanyalah wajah luar dari sesuatu yang jauh lebih dalam: sebuah keyakinan kolektif bahwa masa depan dapat dirancang, diperjuangkan, dan diwujudkan.

Selama bertahun-tahun, dunia memandang Tiongkok melalui statistik. Pertumbuhan ekonomi yang mencengangkan. Lompatan teknologi yang mengubah peta industri global. Investasi riset yang terus meningkat. Universitas-universitas yang semakin diperhitungkan. Kota-kota modern yang berdiri di atas perencanaan jangka panjang. Semua itu memang nyata. Namun, angka-angka hanya menjelaskan hasil. Ia tidak pernah sepenuhnya menjelaskan sebab.

Yang menarik perhatian saya justru bukan pencakar langit yang menjulang, melainkan sesuatu yang tidak dapat dipotret oleh kamera. Saya melihat anak-anak muda yang berbicara tentang kecerdasan buatan, robotika, energi baru, dan masa depan teknologi dengan antusiasme yang terasa alami. Saya melihat budaya belajar yang bukan sekadar tuntutan sekolah, tetapi bagian dari etos kehidupan. Saya merasakan sebuah optimisme yang tidak lahir dari slogan, melainkan dari keyakinan bahwa mereka sedang mengambil bagian dalam proyek besar membangun negaranya.

Di titik itulah saya mulai memahami bahwa kemajuan sebuah bangsa sesungguhnya adalah persoalan kebudayaan sebelum menjadi persoalan ekonomi. Ia adalah persoalan cara berpikir sebelum menjadi persoalan anggaran. Ia adalah persoalan visi sebelum menjadi persoalan strategi. Jalan raya dapat dibangun dalam hitungan tahun. Pelabuhan dapat diperluas dalam satu periode pemerintahan. Namun, membangun cara berpikir sebuah bangsa membutuhkan konsistensi lintas generasi.

Perjalanan ini kemudian memaksa saya mengajukan pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar, "Mengapa Tiongkok bisa maju?" Pertanyaan yang lebih relevan justru adalah, "Apa yang mereka yakini sehingga kemajuan itu menjadi mungkin?" Sebab sejarah mengajarkan bahwa tidak ada peradaban besar yang lahir secara kebetulan. Setiap lompatan peradaban selalu didahului oleh lahirnya sebuah gagasan besar yang diyakini bersama.

Ketika Jepang bangkit dari puing-puing perang, yang dibangun pertama kali bukanlah citra kemajuan, melainkan karakter bangsa yang menghargai disiplin, kualitas, dan kehormatan dalam bekerja. Ketika Korea Selatan bertransformasi dari salah satu negara termiskin menjadi kekuatan teknologi dunia, fondasi utamanya bukanlah kelimpahan sumber daya alam, melainkan investasi besar pada pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kapasitas manusia. Tiongkok pun menunjukkan pola yang serupa. Di balik berbagai perdebatan mengenai sistem politiknya, ada satu fakta yang sulit disangkal: negara itu berhasil menanamkan kepada sebagian besar generasi mudanya keyakinan bahwa masa depan bangsa adalah proyek yang layak diperjuangkan.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Pertanyaan ini tidak lahir dari rasa rendah diri. Sebaliknya, ia lahir dari rasa cinta. Sebab cinta kepada tanah air tidak diwujudkan dengan menolak belajar dari bangsa lain. Cinta justru menuntut keberanian untuk bercermin, mengakui kekurangan, sekaligus memperbaikinya. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang merasa selalu benar, melainkan bangsa yang cukup percaya diri untuk terus belajar.

Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan modal. Kita memiliki kekayaan alam yang melimpah, bonus demografi yang besar, keberagaman budaya yang luar biasa, dan generasi muda yang kreatif. Namun, sejarah menunjukkan bahwa sumber daya tidak pernah otomatis melahirkan kemajuan. Banyak bangsa kaya yang tetap tertinggal karena gagal membangun institusi, budaya belajar, dan arah bersama. Sebaliknya, tidak sedikit bangsa yang miskin sumber daya mampu menjadi kekuatan dunia karena berhasil membangun manusia dan memelihara visi jangka panjang.

Di sinilah saya menemukan pelajaran terbesar dari Negeri Tiongkok. Pelajaran itu bukan tentang bagaimana membangun kereta cepat atau kawasan industri. Pelajaran itu adalah tentang bagaimana sebuah bangsa memelihara keyakinan bahwa masa depan tidak diwariskan, melainkan diciptakan. Bahwa kemajuan bukan hadiah sejarah, melainkan hasil dari disiplin kolektif yang dipelihara selama puluhan tahun.

Mungkin selama ini kita terlalu sering mendiskusikan indikator pembangunan, tetapi terlalu jarang mendiskusikan imajinasi pembangunan. Kita sibuk memperdebatkan angka pertumbuhan, tetapi kurang membicarakan karakter manusia yang akan menghasilkan pertumbuhan itu. Kita mengejar proyek-proyek besar, tetapi lupa bahwa proyek terbesar sesungguhnya adalah membangun cara berpikir generasi muda.

Peradaban selalu lahir dua kali. Pertama, dalam imajinasi. Kedua, dalam kenyataan. Tidak ada bangsa yang menjadi besar tanpa terlebih dahulu memiliki keberanian untuk membayangkan dirinya menjadi besar. Itulah sebabnya mimpi bukanlah romantisme. Mimpi adalah energi politik, energi sosial, sekaligus energi kebudayaan yang menggerakkan jutaan orang menuju tujuan yang sama.

Maka, sepulang dari Negeri Tiongkok, saya tidak membawa kesimpulan bahwa Indonesia harus menjadi seperti Tiongkok. Sejarah, budaya, dan sistem politik kita berbeda. Yang saya bawa justru sebuah pertanyaan yang lebih mendasar dan lebih penting: masihkah kita memiliki mimpi besar sebagai bangsa? Bukan mimpi lima tahunan yang berganti mengikuti siklus kekuasaan, melainkan mimpi lintas generasi yang mampu bertahan melewati pergantian pemerintahan, perubahan zaman, bahkan pergolakan dunia.

Sebab pada akhirnya, masa depan sebuah bangsa tidak pernah ditentukan oleh apa yang dimilikinya hari ini. Ia ditentukan oleh apa yang berani dibayangkan oleh rakyatnya, dan oleh kesediaan mereka untuk bekerja keras mengubah bayangan itu menjadi kenyataan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Imam Masjid Muhammadiyah Seharusnya: Belajar dari Turki Oleh: Dr. Husamah, S.Pd, M.Pd, Dosen Pendi....

Suara Muhammadiyah

16 December 2024

Wawasan

Ikhtiar Istiqomah Paska Ramadhan Ir. Tito Yuwono, Ph.D, Dosen Universitas Islam Indonesia Yogy....

Suara Muhammadiyah

3 April 2026

Wawasan

Selamat Hari Anak Sedunia: Apa Hak Anak Yang Harus Diberikan Orang Tua? Oleh: Nur Ngazizah, Dosen P....

Suara Muhammadiyah

21 November 2024

Wawasan

Menjaga Mentalitas dengan Nilai-Nilai Spiritual Pada dasarnya, manusia diciptakan oleh Tuhan di dun....

Suara Muhammadiyah

12 October 2023

Wawasan

Oleh: Ir Tito Yuwono, ST., MSc., PhD., IPM, Dosen Jurusan Teknik Elektro-Universitas Islam Indonesia....

Suara Muhammadiyah

23 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah