Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Fenomena penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam kancah politik global telah mencapai titik yang mengkhawatirkan, terutama ketika teknologi tersebut digunakan untuk menyentuh ranah sakral keagamaan. Salah satu preseden paling kontroversial baru-baru ini adalah unggahan Donald Trump di platform Truth Social, yang menampilkan gambar dirinya hasil rekayasa AI. Dalam gambar tersebut, Trump diposisikan sedemikian rupa sehingga menyerupai sosok Yesus Kristus yang sedang melakukan mukjizat penyembuhan. Tindakan ini memicu gelombang kritik tajam, tidak hanya karena implikasi politiknya, tetapi juga karena adanya pelanggaran etika dan teologis yang mendasar.
Secara visual, gambar tersebut merupakan bentuk manipulasi yang sangat spesifik. Penggambaran Trump di sana tidak menggunakan atribut modern; ia tidak mengenakan pakaian dokter, scrubs medis, ataupun jas putih laboratorium yang menjadi simbol universal penyembuhan dalam konteks sains modern. Sebaliknya, gambar tersebut mereplikasi estetika lukisan klasik zaman abad pertengahan. Lengkap dengan jubah panjang, cahaya yang memancar dari tangan, keberadaan murid-murid di sekelilingnya, hingga lingkaran cahaya atau halo di atas kepala, gambar ini secara eksplisit mencoba mengidentikkan Trump dengan figur Yesus.
Ketika menuai kecaman, pembelaan yang muncul adalah bahwa gambar tersebut hanyalah metafora bagi seseorang yang ingin "menyembuhkan" negara, layaknya seorang dokter. Namun, argumen ini terasa sangat lemah dan artifisial. Ada kesenjangan besar antara citra seorang praktisi medis dengan ikonografi religius yang digunakan. Dengan meminjam identitas visual "Sang Penyembuh" dari tradisi Kristen, Trump sebenarnya tidak sedang memposisikan diri sebagai pelayan publik, melainkan sedang membangun narasi mesianik yang berbahaya.
Perspektif Islam dan Penghormatan terhadap Nabi Isa
Bagi umat Muslim, penggambaran semacam ini bukan sekadar masalah politik, melainkan sebuah bentuk penodaan atau tindakan sakrilegius. Dalam Islam, Nabi Isa (Yesus) adalah salah satu nabi besar yang sangat dihormati. Al-Qur'an mengakui mukjizat-mukjizat beliau, seperti menyembuhkan orang buta, mengobati penderita kusta, hingga menghidupkan orang mati. Namun, poin yang paling krusial adalah bahwa semua tindakan tersebut dilakukan Bi idznillah—dengan izin dan kuasa Allah.
Ketika seorang politisi mencoba menggabungkan wajahnya ke dalam ikonografi penyembuhan ini, ia seolah-olah mencoba mencuri otoritas ketuhanan tersebut untuk kepentingan citra pribadinya. Ada ketidakpantasan yang luar biasa ketika atribut kesucian yang berasal dari kuasa Tuhan digunakan untuk memoles reputasi seorang manusia biasa yang penuh dengan kepentingan kekuasaan.
Jika seseorang benar-benar ingin mengikuti jejak Yesus atau nabi-nabi Allah lainnya, caranya bukanlah dengan merekayasa foto agar terlihat mirip secara fisik, melainkan dengan mempraktikkan esensi ajaran mereka. Dalam tradisi Nasrani, misalnya melalui Khotbah di Bukit, Yesus mengajarkan tentang kedamaian: "Berbahagialah orang yang membawa damai." Jika Trump ingin dianggap sebagai pengikut ajaran tersebut, ia seharusnya menjadi motor perdamaian di panggung dunia.
Selain itu, ajaran Yesus menekankan tentang kedermawanan dan kerendahan hati—tentang memberi lebih banyak daripada yang diminta orang lain. Kontradiksi muncul ketika kita melihat rekam jejak retorika politik Trump yang sering kali bersifat ekspansionis atau transaksional, seperti ambisinya untuk memiliki wilayah kedaulatan negara lain (misalnya Greenland) atau menguasai sumber daya bangsa lain. Mengklaim diri sebagai figur yang menyerupai Yesus sambil tetap memegang prinsip "merampas" adalah sebuah ironi yang menyedihkan. Mencoba memposisikan diri sebagai "Yesus kontemporer" adalah bentuk kelancangan moral yang luar biasa.
Hal yang semakin memperburuk situasi adalah bagaimana kesalahan ini ditangani. Alih-alih mengakui bahwa penggunaan gambar tersebut adalah sebuah kesalahan perhitungan atau tindakan yang tidak sensitif, muncul narasi bahwa itu hanyalah penggambaran seorang "dokter". Dalam kacamata etika, ini adalah tindakan menambah kebohongan di atas kesalahan.
Sejatinya, kejujuran akan jauh lebih dihargai. Jika ia mengakui bahwa unggahan tersebut adalah hasil kelalaian tim media sosial atau ketidaktahuan akan dampak AI, publik mungkin akan lebih mudah memaafkan. Namun, dengan mencoba merasionalisasi gambar mesianik sebagai "gambar dokter", ia justru menghina kecerdasan publik. Ini menunjukkan adanya keengganan untuk bertanggung jawab atas dampak budaya dan religius dari konten yang disebarkan.
Harapan untuk Kepemimpinan yang Berintegritas
Sangat memprihatinkan ketika pemimpin dari negara yang memiliki pengaruh besar di dunia menunjukkan perilaku yang jauh dari nilai-nilai kejujuran dan penghormatan terhadap simbol agama. Ada sesuatu yang fundamental yang perlu diperbaiki dalam standar moral kepemimpinan tersebut. Pemimpin seharusnya menjadi teladan dalam menjaga kesucian nilai-nilai masyarakat, bukan justru mengeksploitasinya demi popularitas instan.
Pada akhirnya, kita hanya bisa berharap agar rakyat, khususnya di Amerika Serikat, memiliki kejernihan berpikir untuk membimbing para pemimpin mereka kembali ke jalan yang benar. Kepemimpinan yang sejati harus tegak di atas keadilan, kejujuran, dan penghormatan terhadap sesama. Dunia membutuhkan pemimpin yang benar-benar bekerja untuk perdamaian dan berhenti mengejar ambisi materi dengan cara merugikan kedaulatan, properti, dan sumber daya bangsa lain. Menjadi pengikut nabi berarti menjalankan sifat-sifat mulianya, bukan menggunakan teknologi AI untuk memanipulasi wajah seolah-olah setara dengan mereka.
Penggunaan AI untuk menyatukan wajah politisi dengan figur religius adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Hal ini merusak batas antara sakral dan profan, serta menunjukkan adanya krisis integritas dalam komunikasi politik modern. Menghormati Yesus berarti menjalankan ajarannya tentang kasih dan kejujuran, bukan sekadar "meminjam" lingkaran cahayanya untuk kepentingan elektoral.
